Pertamina dan Rosneft Kick Off Meeting Pelaksanaan AMDAL dan ESIA Kilang Tuban

JAKARTA, MENARA62.COM – PT Pertamina (Persero) dan Rosneft melakukan kick off meeting Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Environment and Social Impact Analysis (ESIA) sebagai tanda awal dimulainya kedua pekerjaan tersebut. PT Greencap NAA Indonesia akan melaksanakan dua kegiatan tersebut setelah melalui proses pemilihan sesuai dengan ketentuan pemerintah.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rachmad Hardadi kegiatan ini salah satu yang sangat menentukan bagi upaya tercapainya target penyelesaian New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban. AMDAL, tuturnya, menjadi syarat utama sebelum proses pembersihan lahan dan pengembangan tapak sebagai pekerjaan awal proyek dapat dilaksanakan.

“Syarat penting untuk melakukan land clearing dan site development adalah harus ada izin AMDAL. Maka dari itu harus bergerak cepat dan kami telah menetapkan Greencap sebagai konsultan yang hari ini kami bersama-sama dengan Rosneft melakukan kick off meeting sebagai tanda dimulainya pekerjaan AMDAL,” kata Hardadi pada pelaksanaan kick off meeting AMDAL dan ESIA NGRR TUban di Lantai M Kantor Pusat Pertamina, Rabu (14/12).

Pekerjaan AMDAL tersebut, lanjutnya, akan diselesaikan dalam waktu enam bulan. Adapun, pekerjaan ESIA ditargetkan tuntas pada September 2017.

“Pertamina dan Rosneft telah sepakat untuk mengawal secara ketat pelaksanaan AMDAL ini sehingga dapat tuntas tepat waktu,” tegasnya.

Hal ini, lanjut Hardadi, sejalan dengan instruksi Presiden RI Joko Widodo pada saat melakukan kunjungan kerja ke Tuban pada 28 November 2016. Kala itu, Presiden meminta kepada Manajemen Pertamina untuk dapat melaksanakan ground breaking proyek NGRR Tuban pada awal Juli 2017.

“Dengan sisa waktu yang mendesak ini perlu dilakukan percepatan terhadap persiapan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan kilang. Oleh karena itu pekerjaan AMDAL menjadi sangat krusial.”

Pertemuan Dua Hari

Selain Kick Off meeting AMDAL dan ESIA, Pertamina dan Rosneft telah melakukan pertemuan dua hari untuk membahas kemajuan pelaksanaan bankable feasibility study (BFS). Beberapa konsultan yang terlibat dalam pelaksanaan BFS, seperti Technip untuk aspek teknik, Nexan untuk pembahasan analisis pemasaran, kajian lokal oleh Institute Teknologi Sepuluh November dan Universitas Airlangga.

“Kajian dari Nexan sudah selesai, ITS dan Unair juga sudah selesai dan kajian oleh Technip akan ditargetkan selesai Januari. Ada beberapa masukan untuk penyempurnaan kajian dan diharapkan semua pekerjaan BFS dapat selesai Januari nanti,” katanya.

Setelah BFS selesai, tutur Hardadi, Pertamina dapat menetapkan estimasi belanja modal dan juga material balance sehingga keekonomian proyek sudah bisa dihitung pada Februari dan saat itulah Pre-Investment Decission 1 dapat ditentukan. “Perkembangan kami lihat cukup bagus.”

Pertamina dan Rosneft juga terus melakukan penyelarasan jadwal percepatan proyek ini sehingga diharapkan betul-betul di akhir tahun 2021 NGRR Tuban bisa diselesaikan. Termasuk beberapa strategi pelaksanaannya, engineering, Project Management Contract (PMC), dan juga strategi Engineering, Procurement, and Construction.

Yang tidak kalah penting, beberapa masukan dari direktorat hulu dan gas yang memiliki keterkaitan dengan proyek. Pada bagian hulu migas, pembahasan terkait dengan persiapan menuju penandatanganan Sales and Purchase Agreement (SPA) dua blok migas di Rusia yang ditawarkan kepada Pertamina yang menjadi condition and precedence bagi pembentukan JV kedua perusahaan pada Februari 2017. Adapun, untuk dibahas mengenai beberapa opsi pasokan gas sebanyak 125 mmscfd untuk operasional NGRR Tuban.