Televisi Belum Mampu Hadirkan Film Anak Berkualitas

0
457

JAKARTA, MENARA62.COM–Tayangan televisi anak seringkali tidak memberikan nilai edukasi kepada anak-anak itu sendiri. Bahkan tidak ada film yang khusus diproduksi untuk anak-anak dengan konten dan bahasa visua sesuai dengan usia anak.

“Televisi Indonesia masih belum mampu menghadirkan film anak yang berkualitas,” jelas Novin Farid Setyo Wibowo dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagaimana dikutip dalam situs umm.ac.id pada Kamis (29/12/2016) lalu.

Tayangan berkualitas, menurutnya, seperti film yang benar-benar memberikan edukasi kepada anak tentang kehidupan. Juga, ada nilai edukasi yang diperuntukkan bagi anak itu sendiri.

Malah menurut Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UMM tersebut bisa dikatakan hampir tidak ada film atau tayangan yang benar-benar menargetkan anak sebagai penontonnya. Malah tayangan televisi hanya sekadar menampilkan judul yang terkesan untuk anak-anak, tetapi kontennya sangat berbeda.

“Tayangan televisi hanya menampilkan judulnya saja yang terkesan anak-anak. Bertolak belakang dengan judulnya, isi film tersebut malah menggambarkan kehidupan orang dewasa sepertu pacaran, kekerasan dan sebagainya,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Suparto, Ph,D yang menegaskan bahwa perlunya produk atau tayangan yang khusus untuk anak-anak. Menurutnya  ini tayangan yang ada di televisi Indonesia terbilang minim atau sedikit.

“Kita harus memperhatikan tumbuh kembang anak,” ujar Wakil Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah ini kepada Menara62.com di Jakarta, “banyak pengalaman mengenal dan belajar. Mengenal hal-hal baru yang positif dan belajar anak memiliki rasa penasaran yang tinggi.

Belajar dari produk-produk tayangan di televisi, bagi Suparto bahwa lagu-lagu anak misalnya yang merepresentasikan jiwa anak sangat kurang. Anak sekarang lebih hafal lagu-lagu dewasa yang tentunya tidak sesuai dengan jiwa anak.

“Anak dengan begitu didewasakan secara instan dari sisi imajinasi anak. Ini bahaya bagi tumbuh kembang anak.”

Contoh lain, tayangan-tayangan anak di waktu liburan kebanyakan film-film produksi luar yang menurutnya memiliki aspek budaya dan nilai yang tentu berbeda. Anak akhirnya seperti terpaksa menelan konten yang tidak sesuai dengan usianya termasuk  juga nilai keislaman.

“Padahal kita punya orang-orang muda yang bisa memproduksi program atau konten anak yang asli produk Indonesia,” pungkas Suparto.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here