Membaca Sastra Membaca Dunia

Azwar, yang dikenal juga dengan nama pena Azwar Sutan Malaka adalah salah seorang sastrawan Sumatera Barat yang karya-karyanya muncul sejak tahun 2000-an. Beberapa buku sastra yang pernah dihasilkannya di antaranya adalah Novel Bunian Musnahnya Peradaban (Masmedia, 2009), Novel Hidup adalah Perjuangan (Bening Diva Press, 2012), Antologi Cerpen Tunggal Jejak Luka (Nusantara Institut, 2014), Novel Cindaku (Kaki Langit, 2015), dan beberapa karya pada beberapa antologi buku lainnya.

Tahun 2016 Azwar menulis buku Membaca Sastra Membaca Dunia, diterbitkan penerbit BasaBasi, sebuah lini sastra dari penerbit Diva Press Jogjakarta. Dalam buku tersebut jelas terlihat bagaimana pandangan-pandangan Azwar tentang karya sastra. Dalam buku tersebut dapat dilihat bahwa membaca sastra sangatlah penting untuk menambah wawasan kata bahasa yang baik dan benar. Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, minat membaca di kalangan masyarakat sangat rendah, terutama membaca sastra. Karena, sebagian masyarakat menganggap karya sastra tidak memiliki peran penting dalam kehidupan, hal ini seperti disampaikan oleh Azwar bahwa “dalam perkembangan zaman, sastra menjadi bagian yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Anggapan ini muncul karena menurut sebagian besar masyarakat, sastra tidak memiliki peran penting dalam kehidupan.” (Azwar, 2016: 117).

Padahal, karya sastra memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup. Selain  itu, juga merupakan cerminan dari masyarakat suatu bangsa. Karena karya sastra pada dasarnya membangun peradaban manusia itu sendiri yang merupakan cerminan dari beradab atau tidaknya sebuah bangsa, hal yang disampaikan juga oleh Azwar.

Dengan alasan itu pulalah mengapa sebenarnya harus dilawan pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan bahwa karya sastra tidak ada perannya dalam pembangunan bangsa. karena ia pada dasarnya membangun peradaban manusia itu sendiri. Karya sastra adalah cerminan dari beradab atau tidaknya sebuah bangsa. semakin tinggi peradaban yang digambarkan di dalam karya sastra terhadap sebuah bangsa, maka semakin tinggi pula peradaban bangsa itu sesungguhnya. Pada sisi lain sastra adalah suara rakyatnya. (Azwar, 2016: 96)

Membaca karya sastra selain menambah wawasan pemilihan kosa kata yang baik dan benar, juga menambah pengetahuan umum dan berbagai informasi tertentu yang sangat berguna bagi kehidupan. Mengetahui berbagai peristiwa besar dalam peradaban dan kebudayaan suatu bangsa melalui karya-karya sastra. Karya sastra dapat memperkaya perbendaharaaan kata, ungkapan, istilah, dan lain-lain yang sangat menunjang keterampilan menyimak, berbicara dan menulis.

Cerminan masyarakat Indonesia tidak lepas dari karya-karya sastra Indonesia, yang berusaha membangun sebuah peradaban bangsa Indonesia. Melihat kebudayaan suatu bangsa tidak terlepas dari sastra sebagai salah satu data penting kebudayaan yang menjadi objek kajian bagi pengamat kebudayaan itu. Karya sastra memandang berbagai fenomena kebudayaan sebagai bahan untuk dituliskan dalam karya sastra. Dalam buku tersebut Azwar menjelaskan bahwa perkembangan budaya dalam sastra terlihat pada tiga terjemahan Julius Caesar karya Shakespeare oleh penerjemah yang berbeda latar belakang kehidupan mereka. M. Yamin latar budaya Minangkabau, sangat erat dengan budaya Melayu. Asrul Sani juga memiliki latar belakang budaya Minang, justru tidak menonjolkan budayanya. Ikranegara, terjemahannya ini menegaskan kejayaan budaya Indonesia.

Ada beberapa hal yang membuat orang kecanduan membaca karya sastra, salah satunya adalah karena rasa bahasa yang ada didalamnya. Juga karena penulis menguasai kosa kata untuk memilih kata dalam bahasa karya sastra untuk memikat pembaca. Itu dapat menarik pembaca agar tidak bosan dalam membaca karya sastra, hal yang sama juga disampaikan oleh Azwar, “Setiap bahasa memiliki rasa yang bisa dinikmati oleh pembaca dan hanya pembacalah yang bisa mengetahui apakah rasa bahasa sebuah karya sastra itu nikmat atau menyakitkan.” (Azwar, 2016: 150).

Selain minat membaca di kalangan masyarakat sangat rendah, rupanya juga ada unsur kepentingan politik dan ekonomi yang berkaitan dengan karya sastra. Karya sastra yang mencerahkan justru jarang muncul. Justru kebanyakan sastra kita yang menceritakan seorang tokoh yang bermasalah dengan dirinya, seperti yang disampaikan oleh Azwar berikut ini:

Kalau kita lihat ke tanah air kita ini, sekarang realitasnya justru berbeda. Di antara, intrik politik, kepentingan ekonomi, dan kepentingan peradaban, karya sastra yang mencerahkan justru jarang muncul. Sastra kita kebanyakan bercerita tentang narasi diri seorang tokoh yang bermasalah dengan dirinya. Artinya pengarang hanya mengisahkan permasalahan-permasalahan individu seorang tokoh. Hal ini boleh dikatakan sebagai upaya sastrawan menjadikan sastra sebagai sesuatu yang personal. (Azwar, 2016:50)

Mengapa orang-orang terpikat oleh rasa bahasa sebuah karya sastra tergantung pada sejauh mana kekayaan bahasa yang dimiliki oleh pengarang. Semakin kaya bahasa seorang pengarang, maka karya sastranya akan menarik untuk di baca. Begitu pun sebaliknya, jika pengarang miskin bahasa, maka karya sastranya akan terasa bosan untuk di baca. Walaupun di Indonesia karya sastra ada intrik politik dan ekonomi, mungkin itu hanya sebagian besar saja. Sedikit karya sastra kontemporer Indonesia yang berkisah tentang upaya menempatkan Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia. Karena pernyataan ini tentu tidak berlaku untuk semua sastra yang dihasilkan sastrawan Indonesia.

Hal lain yang kita jumpai justru bagaimana intrik politik dan ekonomi justru mengiringi proses produksi karya sastra. Lihatlah bagaimana penulis-penulis (sastrawan) berkarya dengan intimidasi kepentingan ekonomi bahwa karya yang mereka tulis harus laku, bukan harus bermanfaat untuk masyarakat. Dalam hal ini kepentingan penerbit untuk menjual sebanyak-sebanyaknya lebih penting dari karya sastra itu sendiri. Bagi penerbit, karya yang baik adalah karya yang laris di pasaran. Sementara itu saya sangat yakin bahwa karya yang laris itu belum tentu bermanfaat untuk masyarakatnya atau bahkan untuk peradaban. Menulislah untuk kepentingan peradaban, jangan menulis untuk kepentingan pasar.

Pada akhir tulisan ini penulis dapat menyampaikan bahwa membaca sastra itu sangat penting untuk menambah wawasan dalam memilih kosa kata secara baik, juga mendapat informasi dan pengetahuan lebih terhadap apa yang belum di ketahui sebelumnya. Walaupun pada dasarnya, kesadaran akan membaca di kalangan masyarakat sangat rendah. Karena, sebagian masyarakat menganggap sastra tidak memiliki peran penting dalam kehidupan. Itulah yang menyebabkan kurangnya minat membaca sastra di Indonesia. Padahal, karya sastra sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa. Karena karya sastra dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat dari suatu bangsa itu sendiri.

Di Indonesia sendiri karya sastra dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau ekonomi oleh oknum-oknum tertentu. Itu sendiri terjadi karena sebagian penulis-penulis (sastrawan) lebih mementingkan karyanya laku di pasaran, bukan yang bermanfaat untuk para pembaca. Karena sesungguhnya yang bermanfaat untuk orang lain itu lebih baik daripada kepentingan pribadi. Walaupun masyarakat menganggap sastra tidak terlalu penting, tetap saja akan terus bermunculan sebuah karya sastra untuk orang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sastra. (M. Assidiq Al-khopidh N/ Penulis adalah Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)