Sistem Vertikultur Dapat Menekan Harga Cabai

0
567
Dr Bambang Suwignyo, saat memberikan penjelasan tentang integrated farming di Sleman, DIY, Ahad (8/1/2017). (foto : Bambang Suwignyo)

SLEMAN, MENARA62.COM — Mahalnya harga cabai yang sering terjadi akhir-akir ini bisa diatasi dengan menaman sayur-sayuran dengan sistem vertikultur di halaman rumah. Vertikultur adalah praktek pertanian terpadu yang bisa dilakukan setiap warga, dalam polybag, pot, bambu, pralon, botol bekas air mineral, kaleng bekas dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Dr Bambang Suwignyo, Ketua Divisi Pertanian Terpadu Majelis Pemerdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah pada ‘Panen Perdana Padi Unggul dengan Pola Integrated Farming’ dan ‘Pelatihan Budidaya Sayuran di Lahan Sempit’ di Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ahad (8/1/2017). Acara dihadiri Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun; Anggota DPD RI,Afnan Hadikusumo, pemuda Muhammadiyah dan sejumlah tamu undangan.

Panen Padi Perdana Padi Unggul di Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY, Ahad (8/1/2017). (foto : Bambang Suwignyo)

Lebih lanjut Bambang mengatakan panen padi dalam integrated farming adalah mina padi yaitu di lahan tanaman padi juga dipelihara ikan nila merah. Sedang integrated farming untuk lahan sempit (vertikultur) dititikberatkan pada konsep dan teknis pelaksanaanya. “Keberhasilan vertikultur bisa terwujud kalau itu menjadi gerakan,” tandas Bambang.

Bambang mengharapkan pelatihan yang ditujukan kepada warta Muhammadiyah ini bisa mendukung kedaulatan pangan. Sebab integrated farming dapat dilakukan setiap warga Muhammadiyah, baik dengan kepemilikan lahan luas atau sempit.

Agar menjadi gerakan, kata Bambang, perlu dukungan Gerakan Kembali Bertani yang sudah dicanangkan MPM PP Muhamadiyah perlu diperluas menjadi Indonesia Bertani. Opersionalnya didasarkan pada dua prinsip dasar yaitu setiap lahan menghasilkan pangan dan setiap orang menjadi penghasil pangan.

“Misal dalam kasus cabai, kalau setiap warga mempunyai 5 -10 polybag cabai (tidak perlu sawah), maka setiap mereka telah berkontribusi dalam kemandirian pangan (dalam hal cabai). Mungkin hitungan ekonomi tidak menghasilkan duit (karen tidak dijual) tapi dengan kecukupan cabai tidak lagi perlu impor cabai yang berarti berdaulat pangan (cabai). Hal serupa dapat dilakukan untuk produk-produk makanan pokok seperti beras, jagung, singkong dan tebu,” tandas Bambang.

Penulis : Heri Purwata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here