Pemuda Muhammadiyah Ajak Kembangkan Kesalehan Berinformasi

KUNINGAN, MENARA62.COM–Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Iu Rusliana mengingatkan pimpinan daerah, cabang hingga ranting dan kader Muhammadiyah, juga umat Islam untuk mengembangkan kesalehan berinformasi.

“Ini era dimana hoax diproduksi, mesin fitnah beroperasi secara masif, adu domba, ujaran kebencian  dan saling mendiskreditkan meluas. Itu cara pihak tertentu yang tidak senang umat Islam akur, ingin memecah belah dan melemahkan ukhuwwah. Oleh karena itu, kesalehan berinformasi menjadi penting agar kita tidak dapat diadudomba,” tegas Iu Rusliana saat menjadi narasumber Workshop Pendidikan dalam rangkaian acara Pelantikan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kuningan, di Kuningan (26/1/2017).

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa sebagai pembicara kunci. Selain itu, juga hadir sejumlah pejabat pemerintah daerah Kuningan, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) tokoh masyarakat, pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah, pemuda dan ratusan guru se-Kuningan.

Menurut Iu Rusliana, kesalehan berinformasi mengandung makna, kualitas kebaikan diri seorang Muslim yang mampu menerima, bersikap kritis dengan menyaring, menilai, memutuskan apakah informasi itu sahih. Selain itu, juga mampu menahan diri untuk tidak membagikan sembarang informasi kepada pihak lain dan tidak terlibat dalam sengketa di ruang publik yang menyulut kepada konflik sosial yang luas.

Menyitir surah Al-Hujurat ayat 6, umat Islam dipandu, bagaimana harus bersikap:  “Hai orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.”

Alquran telah memperingatkan situasi seperti ini dengan menggunakan istilah fâsiq kepada orang yang menyebarluaskan berita bohong, mengakibatkan kerusakan, konflik dan keresahan sosial.  Ciri orang fâsiq itu antara lain melanggar perjanjian untuk bertauhid. “Al Quran menjuluki fâsiq kepada ahli kitab karena dalam wahyu sebelum Al Quran diturunkan, telah disebutkan akan ada nabi dan rasul terakhir, yaitu Muhammad Saw, namun mereka mendustakannya. Ini ada dalam surah Ash-Shaff ayat 5,” jelasnya.

Ciri lain orang orang fâsiq adalah menghancurkan ciptaan Allah SWT, padahal diperintahkan untuk memeliharanya. “Mereka merusak tatanan kehidupan manusia maupun alam semesta. Orang Yahudi dan munafik disebut fâsiq karena kerap membuat desas desus dan kerusuhan dalam masyarakat. Namun demikian, seperti yang diingatkan dalam surah An-Nur ayat 4,  umat Islam pun dapat dijuluki fâsiq, ketika menyebarluaskan fitnah,” tegasnya.

Agar terhindar dari sifat fâsiq, harus dikembangkan  sikap saleh berinformasi. Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Bandung tersebut menyatakan, bahwa pada kondisi seperti ini, tak ada benteng pertahanan yang dapat diandalkan selain diri sendiri. “Area peperangannya sudah bukan lagi dalam bentuk sistem, tapi langsung head to head dengan setiap orang melalui ponsel pintarnya masing-masing,” katanya.

Iu Rusliana pun menyodorkan tiga cara mengembangkan kesalehan berinformasi. Pertama, jangan mudah percaya begitu saja setiap informasi yang diterima, apalagi langsung mengomentari dan bersikap.

  • Kedua,  memeriksa dengan teliti referensi, rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan. Dalam khazanah ilmu takhrij hadis, dikenal istilah sanad, rawi dan matan. “Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Sikap teliti dan diam bilamana belum tahu benar harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan,” tegasnya.