Kang Maman meluncurkan buku Trilogi GuMaman Kang Maman/Foto Menara62

JAKARTA, MENARA62.COM—Biasanya karya Trilogi itu meluncur satu per satu dalam hitungan tahun atau paling cepat bulan. Namun, Maman Suherman, penulis yang akrab disapa Kang Maman ini meluncurkan 3 buah buku terbitan Grasindo secara sekaligus;  Aku Takut KehilanganMu, Sundul Gan ! Bad Day Pasti Berlalu, NoTulen = Tidak Asli tapi Hamba Allah, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada hari ini, Minggu (12/2). Ini memang di luar kebiasaan, mendobrak mitos bagi seorang penulis dalam meluncurkan buku Trilogi.

Sejumlah selebritis, public figure, pengusaha, penulis, aktivis sosial, dan para sahabat menghadiri peluncuran buku Trilogi yang di luar kebiasaan itu, yang ternyata menandai 30 tahun perjalanan karier Kang Maman di ranah jurnalistik, kreatif, dan literasi.

Hadir mendampingi Kang Maman,  Rano Karno, Indro Warkop, Dessy Ratnasari, Wimar Witoelar, Sony Tan, Melly Kiong, Ridwan Alimuddin (pengelola Perahu Pustaka), dan nama-nama lainnya, yang diakuinya sebagai para sahabat dekat. Dalam acara tersebut, aktivis sosial dan keluarga (eMKa), Melly Kiong memberikan donasi Rp20 jutaan untuk gerakan literasi.

Melly Kiong memberikan donasi untuk Gerakan Literasi dalam acara peluncuran buku Trilogi GuMaman Kang Maman/Foto Menara62

Kang Maman bukan penulis biasa. Ia penulis dengan latar belakang jurnalistik dan kreativitas yang kuat. Sejak 1986, Kang Maman sudah berkecimpung di dunia jurnalistik, dari reporter lepas hingga pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia pernah dilakoni alumni Kriminologi, FISIP Universitas Indonesia ini.

Dessy mengatakan, Maman memiliki personal approach dalam mendekati setiap narasumber yang kemudian menjadi sahabat dekatnya. “Banyak artis yang menjadi sahabat Maman. Saking dekatnya, saya pernah memakaikan dasi seorang Maman. Namun, Maman tetap memilih istrinya yang sekarang,” kata Dessy, artis film, sinetron, dan pelantun Tenda Biru ini memberi testimonial, ia tertawa renyah yang disambut tepuk tangan meriah hadirin. “Tidak ada dusta di antara kita,” kata Maman menanggapinya sambil tersenyum.

Menurut Rano Karno,  Maman amat bertanggung-jawab dalam mengatasi persoalan dengan pendekatan yang bersahabat. Ini membuat banyak pihak jatuh hati dan lagi-lagi bersahabat dengannya, termasuk orang yang bermusuhan sekalipun.

Rano Karno memberikan testimonial sebagai sahabat Kang Maman dalam peluncuran buku Trilogi GuMaman Kang Maman/Foto Menara62

Persahabatan Maman turut mewarnai perjalanan karier banyak artis dan public figure. “Mungkin dalam 40 tahun perjalanan karier saya, 25 tahun ada Maman di dalamnya,” kata pembawa acara Wimar Witoelar, yang terkenal membawakan acara televisi Perspektif dan Selayang Pandang pada masanya.

Di dunia televisi, audio visual, Kang Maman telah menghasilkan lebih dari 50 judul acara televisi dengan ribuan episode dan sejumlah iklan saat menjadi Direktur Kreatif dan Managing Director rumah produksi dan biro iklan ternama di Jakarta. Ia juga menjadi kreator sekaligus sebagai presenter Matahati di Kompas TV sebelum belakangan dikenal sebagai kreator dan NoTulen acara Indonesia Lawak Klub (ILK) di Trans 7.

Menulis dengan Rasa

Di buku Triloginya ini, Kang Maman berbagi cerita mengenai sahabat-sahabat dekatnya dalam beragam sudut pandang, dengan penuh perasaan, dan hikmah. Maman menulisnya dengan rasa, dan rasa itu sampai pada pembacanya, memberikan enlightenment (pencerahan) dan enrichment (kaya makna).

Seperti di dalam buku Triloginya yang berjudul Aku Takut KehilanganMu. Kang Maman bercerita, mengenai Anak Lahat Sumatera Selatan Aswari Riva’i. Dengan jujur bertutur apa adanya, ia menyelami karakterisasi sahabatnya hingga ke lubuk hati, memaknai kisah sejatinya sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi dirinya sendiri dan pembacanya. Masih ada cerita lain dan kisah para sahabat yang tersebar di buku Trilogi ini, dengan interval mutiara-mutiara kata, ilustrasi visual, dan notulensi yang menjadi ciri khas Kang Maman.

Buku Trilogi GuMaman Kang Maman/Foto Dok. Kang Maman

Karena, ia memang senang menulis dan membaca. “Setiap membaca kutemukan dunia baru. Dan, aku menulis untuk membuat jendela, guna melihat dunia baru-dunia baru berikutnya,” ungkapnya dalam prolog buku Trilogi GuMaman Kang Maman. Ia berbagi dunia-dunia baru yang penuh enlightenment dan enrichment itu dalam buku-buku. Buku adalah manifestasi karya abadi untuk terus berbagi, menebar literasi. Trilogi GuMaman Kang Maman melengkapi selusin karya buku-bukunya, yang telah terbit dan menjadi best seller.

Kang Maman bertekad akan terus menulis dan membaca untuk menegaskan keberpihakannya pada dunia literasi itu sendiri, dunia membaca, yang ia dedikasikan sepenuh cintanya. “Saya tidak boleh berhenti menulis dan menebar virus literasi,” kata Kang Maman kepada Menara62. Ia bersemangat menyebut gerakan literasinya sebagai gerakan sedekah 4 huruf; Baca, Iqra, Read, Buku.