Judul               : Hamka: Sebuah Novel Biografi

Penulis             : Haidar Musyafa

Penerbit           : Imania

Cetakan           : I, Oktober 2016

Tebal               : 464 halaman

ISBN               : 978-602-7926-28-8

 

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah –Dikenal dengan panggilan Buya Hamka- adalah figur yang lembut hati, santun, dan teduh dalam berdakwah. Seperti itulah Haidar Musyafa menggambarkan dalam Hamka: Sebuah Novel Biografi (Imania, 2016).

Dikemas sebagai novel biografi, riwayat kehidupan Buya Hamka dituturkan penulis dalam bahasa populer. Tujuannya, tentu saja, memudahkan pembaca untuk mengikuti alur cerita. Meski dalam proses penulisannya tetap didasarkan atas penelitian.

 

MASA KECIL

Ahad, 17 Februari 1908, Abdul Malik –nama kecil Buya Hamka- lahir di Tanah Sirah, kampung berpanorama alam nan elok di pinggir danau Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya, Abdul Karim bin Amrullah memiliki asal usul dari keluarga ulama. Sedangkan ibunya, Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria alias Gelanggar adalah termasuk keturunan bangsawan.

Berayah seorang ulama, membuat Buya Hamka sejak kecil sudah dikenalkan dengan Islam, ayat-ayat Alquran, dan kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Seperti umumnya anak laki-laki Minang, Buya Hamka juga menghabiskan sebagian waktunya di surau. Merasa kurang cocok dengan pendidikan yang dipilih oleh ayahanda, beliau menjadi enggan dan bosan bersekolah. Meski, bukan berarti malas belajar. Sebuah bibliotek atau tempat penyewaan buku –milik salah seorang guru di sekolah- menjadi tujuannya menyalurkan minat baca.

 

PANGGILAN BERDAKWAH

Jiwa yang terus merasa ingin bebas dalam menuntut ilmu dan tambahan pengalaman, membuat Buya Hamka terpikir untuk merantau. Tanah Jawa, tujuannya. Bisa dibilang, keinginan ini sudah tertanam dalam benak beliau sejak rajin membaca buku-buku di bibliotek.

Yogyakarta menjadi tempat singgah perantauan Buya Hamka. Melalui seorang pamannya, di kota ini pula beliau berkenalan dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Seiring intensitas menimba ilmu di persyarikatan ini, Buya Hamka akhirnya tertarik untuk bergabung. Menurutnya, perjuangan Muhammadiyah selaras dengan apa yang dicari selama ini.

Selang beberapa waktu setelah menjadi bagian dari Muhammadiyah, Buya Hamka diutus kembali ke Maninjau untuk membantu mengurus cabang yang baru didirikan di sana. Keseriusannya dalam berdakwah –lewat tulisan mau pun ceramah-  mendorong beliau untuk menimba ilmu sekaligus berhaji di Tanah Suci Mekah.

Semangat dan ketekunan dalam berdakwah akhirnya membawa Buya Hamka pada kedudukan sebagai Pimpinan Muhammadiyah Cabang Padangpanjang, Sumatera Barat. Salah satu upaya perjuangan beliau untuk mengkader generasi Muhammadiyah adalah mendirikan madrasah atau sekolah-sekolah Islam.

Buya Hamka tidak hanya dikenal sebagai ulama pendakwah, tetapi juga seorang sastrawan. Kecintaan terhadap pena menampilkan sisi lain kehidupan beliau. Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjadi contoh karya indah yang pernah beliau tulis.

–Titis–