Judul : Kiai Sableng Santri Gendheng “jenaka tak sekedar tawa”

Penulis : Awang Surya

Penerbit : Ersa

Tahun Terbit : 2012

ISBN : 978-602-18332-1-6

 

Kemasan bahasa dalam buku ini cukup ringan. Tata bahasa yang baik, walau beberapa dialek bahasa Jawa tercantum didalamnya. Terutama dialek Jawa Timuran sesuai latar cerita. Ini yang menarik dari buku ini. Hal lain, buku ini menuturkan ilmu Islam terasa ringan. Hujjah jelas dan dapat diterima secara universal. Dan pembaca tidak merasa sedang belajar Ilmu Islam.

Kiai bernama Abdul Halim, yang terkenal dengan Cak Dul. Murid setianya bernama Sukir dan Beno. Tentu banyak audiens sang Kiai. Dua orang inilah yangdalam keseharian bersama Cak Dul. Ketiga Kiai dan santri ini selalu mendiskusikan banyak hal. Semua peristiwa menjadi pelajaran untuk mereka bertiga. Keilmuan Cak Dul sangat mumpuni. Hingga sekecil apapun, peristiwa dalam kehidupan dapat diambil ibrohnya. Sosok Cak Dul yang berilmu, dan cenderung aneh, banyak didatangi orang. Dari kampung sendiri maupun dari luar kampung. Nasihat yang diberikan selalu menggunakan pola yang dapat dipahami oleh orang tersebut.

Cak Dul selalu mengambil pelajaran dari setiap hal yang dicurhatkan oleh orang lain kepadanya. Direnungkan dan digali serta dikaji bersama kedua santrinya. Cak Dul pun selalu menemukan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang terkait dengan peristiwa tersebut.

Hikmah yang dapat diambil dari buku ini adalah semua peristiwa akan ada pelajaran. Alloh menurunkan ilmu, ibroh untuk manusia dari segala peristiwa yang terjadi. Apapun yang mendera kita, kita harus seraya dan senantiasa memohon kepada Alloh. Baik yang menyenangkan pun yang mengecewakan.

–Neni Nurachman–