Judul             : Dahlan (Sebuah Novel)

Penulis          : Haidar Musyafa

Penerbit        : Javanica (PT Kaurama Buana ANtara)

Cetakan         : I, Januari 2017

Tebal              : 414 halaman

ISBN              : 978-602-6799-20-3

 


Ia terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kyai Abu Bakar, adalah seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Semenjak remaja ia sering bertanya: kenapa umat Islam begitu terpuruk dalam banyak hal? Saat itu ia berpikir umat Islam begitu terkungkung oleh hal-hal takhayul. Ia pernah mencoba bertanya dan memberontak, tetapi justru penolakan dan cacian yang didapatnya.

Keresahan batin mendorong Darwis menuntut ilmu setinggi-tingginya, hingga takdir melayarkannya ke Mekah. Di Mekah ia belajar pada banyak guru. Ia pun berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Imam Besar Masjidil Haram dari Sumatera, bersama teman seperjalanan dari Jombang: Hasyim Asy’ari. Di Mekah pula ia mendapat nama baru: Ahmad Dahlan. Sepulang dari Tanah Suci ia diangkat menjadi Ketib Amin Masjid Gede oleh Sultan Hamengkubuwana VII dan mendapat gelar Raden Ngabehi. Hasrat terpendam untuk memajukan umat Islam mengilhaminya mendirikan sebuah persyarikatan bernama Muhammadiyah. Ia bercita-cita Muhammadiyah bisa menjadi lokomotif perubahan bagi umat Islam di Nusantara.

Dahlan adalah sebuah novel langka yang membabar kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan, seorang ulama besar pemancang tonggak pembaharuan Islam di Nusantara.

——————————

“Inspiratif! Novel ini dapat menjadi penggerak pikiran kaum muda untuk menjadi pelopor pembaruan, sebagaimana kehadiran Kyai Dahlan di pentas sejarah. Semoga anak-anak muda Muhammadiyah terinspirasi oleh buku ini.”

—Dr. Haedar Nashir, M.Si, Ketua Umum PP Muhammadiyah

 

“Novel ini menampilkan sebagian besar sisi nyata kehidupan KH. Ahmad Dahlan yang belum ditulis dalam buku atau novel mana pun. Sangat menyentuh dan mampu menampilkan sosok KH. Ahmad Dahlan sebagai pribadi yang bijak, lembut, dan penuh welas asih kepada sesama, seorang ayah yang penyayang sekaligus suami yang adil namun tegas dan teguh pendiriannya. Semoga novel ini dapat memberikan semacam suntikan spirit kepada para pembaca untuk melanjutkan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam menegakkan ajaran Islam, khususnya bagi anggota Persyarikatan Muhammadiyah. Fastabiqul khairat!”

—Diah Purnamasari, cicit KH. Ahmad Dahlan

 

“Haidar Musyafa berhasil menyampaikan informasi serius tentang perjalanan hidup Kyai Ahmad Dahlan melalui novel. Pembaca tanpa terasa dibawa ke dalam suasana kehidupan keseharian sang tokoh.”

—Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, pengarang Syekh Siti Jenar

 

“Buku ini adalah salah satu karya penting yang berusaha menghadirkan KH. Ahmad Dahlan secara sangat manusiawi. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, buku ini mampu menginspirasi para pembaca untuk menapaki dan mengikuti jejak Sang Pembaharu yang amal-amalnya menerangi dan menggerakkan umat mencapai kemajuan.”

—Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, Sekum PP Muhammadiyah

 

“Membaca novel biografi KH. Ahmad Dahlan ini seolah mengikuti langkah-langkah Sang Pencerah mengejawantahkan kalamullah dan teladan Kanjeng Nabi Muhammad, dengan Muhammadiyah sebagai detak jantung dan nadi kehidupannya, agar Islam tak lagi seperti gayung bocor yang rusak gagangnya.”

—Prof. Dr. Muhammad Chirzin, MA

(dha)