Judul             : Becoming Muhammadiyah: Autobiografi Gerakan Kaum Islam Berkemajuan

Penyunting   : Hajriyanto Y. Thohari [et al]

Penerbit        : Mizan Pustaka

Cetakan         : I, September 2016

Tebal              : 340 halaman

ISBN              : 978-979-433-913-8

Menjadi Muhammadiyah adalah pilihan. Tentunya, proses yang ditempuh masing-masing aktivis tidaklah sama. Begitupun dengan alasan yang melatarbelakanginya. Seseorang mungkin saja bergabung karena faktor keturunan, semisal meneruskan jalur tradisi keluarga. Sebagian lagi karena pernah dididik dan dibesarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Ada juga yang terdorong karena alasan kecocokan paham keagamaan, Dan, masih banyak alasan lain.

Dalam Becoming Muhammadiyah: Autobiografi Gerakan Kaum Islam Berkemajuan (Mizan Pustaka, 2016) sejumlah aktivis saling bercerita tentang bagaimana mereka berproses “menjadi Muhammadiyah”. Masing-masing karakter berkisah dengan gaya yang berbeda.

 

TESTIMONI AKTIVIS

Narasi testimonial dibuka lewat pengalaman Ahmad Najib Burhani, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah. Meski awalnya tidak cukup intens, Burhani telah berinteraksi dengan Muhammadiyah sejak di sekolah menengah di Jawa Timur. Namun, diakuinya titik awal “menjadi Muhammadiyah” justru ketika beliau melanjutkan pendidikan tinggidi Jakarta. Bahkann, semasa berkesempatan studi di Belanda, Burhani sudah menjadi “Muhammadiyanist”. Sejak itulah, Burhani memiliki identitas sebagai pelaku sekaligus pengamat Muhammadiyah.

Sementara itu, bagi Hilman Latief, “menjadi Muhammadiyah” adalah pencapaian setelah mengalami pergumulan identitas. Ketua Badan LAZISMU PP Muhammadiyah ini memang berasal dari kalangan keluarga besar Persis (Persatuan Islam). Persentuhannya dengan Muhammadiyah diawali saat sekolah di Pesantren Darul Arqam. Periode pencarian jati diri berhasil dilewati dan mengantarkannya menjadi aktivis IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Sadar bahwa dirinya berada antara Persis dan Muhammadiyah, beliaupun memilih bersikap eklektik-pragmatis. Sikap yang diterapkan baik dalam praktik ibadah, merumuskann ideologi gerakan, maupun membangun pandangan dunia organisasi.

Langkah “menyeberang” juga dialami oleh Ma’mun Murod al-Barbasy, aktivis yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah periode 2010-2015. Sebagai orang yang lahir dan besar di keluarga NU minded, al-Barbasy sempat merasakan kesulitann  untuk bisa menerima Muhammadiyah. Apalagi pandangan keagamaan Muhammadiyah dinilai telah “menelanjangi” praktik-praktik tradisi keberagaman yang dianut NU. Berawal dari bisa “menerima”, perlahan mulai muncul cinta yang kemudian membawa al-Barbasy “menjadi Muhammadiyah”. Prosesnya dimulai sejak duduk sebagai pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Selain tiga aktivis di atas, ada sederet nama yang ikut berbagi pengalaman “menjadi Muhammadiyah” di buku ini. Mereka adalah Aplha Amirrachman, Pradana Boy ZTF, Sudarnoto Abdul Hakim, Biyanto, Zuly Qodir, Djoko Susilo, Chusnul Mar’iyah, Agus Purwanto, M Alfan Alfian M, M Habib Chirzin, Ahmad Imam Mujadid Rais, Yayah Khisbiyah, Ahmad Fuad Fanani, dan Andar Nubowo. Nama-nama yang pastinya tidak asing lagi bagi warga Muhammadiyah.