Judul         : Muhammadiyah Berkemajuan: Pergeseran dari Puritanisme ke Kosmopolitan

Penulis      : Ahmad Najib Burhani

Penerbit    : Mizan Pustaka

Cetakan    : I, Oktober 2016

Tebal         : 215 halaman

ISBN         : 978-979-433-997-8

Identitas bagi sebuah organisasi diberikan untuk mengidentifikasi karakternya. Sepanjang perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah pernah dikenal dengan beberapa identitas. Di antaranya yang sempat melekat adalah Islam Modernis, Islam Puritan, Islam Reformis, Islam Progresif, Islam Murni, dan bahkan Islam Wahabi. Ragam identitas ini berasal dari sejumlah pihak. Sebagian dari orang luar yang pernah melakukan observasi terhadap Muhammadiyah, dan yang lain dari internal persyarikatan ini sendiri. Tidak hanya itu, ada pula yang merupakan pemberian dari pihak yang kurang berkenan dengan Muhammadiyah.

Memasuki abad kedua usia Muhammadiyah, kembali terjadi pergeseran identitas. Pendorongnya adalah arus globalisasi yang deras dan berdampak pada “pemaksaan” untuk mendefinisi ulang identitas. Dapat dikatakan ini sebagai upaya untuk beradaptasi terhadap perubahan tatanan dunia. Kondisi seperti inilah yang akhirnya melatari penyematan identitas baru “Islam Berkemajuan” kepada Muhammadiyah.

 

IDENTITAS BERKEMAJUAN

Menurut Ahmad Najib Burhani, istilah “Islam Berkemajuan” memiliki pijakan sejarah dari pendiri organisasi Muhammadiyah. Istilah “berkemajuan”, “maju”, “kemajuan”, dan “memajukan” telah melekat pada gerakan Muhammadiyah sejak awal. Disebutkan pula bahwa salah satu referensi historis dari kata “Islam Berkemajuan” bisa dilacak dari ucapan KH Ahmad Dahlan ketika ia mengatakan, “Dadijo kjai sing kemadjoean, odjo kesel anggonmu njamboet gawe kanggo Muhammadiyah”. Dalam kalimat tersebut, makna dari kata berkemajuan adalah dekat dengan “selalu berpikir ke depan, visioner, selalu one step ahead dari kondisi sekarang”. (hal 38-39)

Adalah Kiai Syuja’ (1882-1962) yang kembali memakai istilah “Islam Berkemajuan” setelah sekian lama tak terdengar. Jati diri “Islam Berkemajuan” secara resmi diteguhkan Muhammadiyah pada Muktamar ke-47 di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2015. Sebelumnya, pada Muktamar di Yogyakarta tahun 2010, istilah ini dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah.

Berbicara tentang “Islam Berkemajuan” berarti mengangkat kembali kajian teologis surah Al-‘Ashr. Etos dan filosofi Al-‘Ashr identik dengan ciri gerakan “Islam Berkemajuan” ala Muhammadiyah. Di sini ada bersinggungan dengan persoalan waktu dan upaya untuk membentuk peradaban. Sebagaimana pesan penting yang disampaikan lewat surah Al-‘Ashr, yaitu waktu, iman, kebenaran, dan kesabaran. Keempatnya merupakan kata kunci yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup dalam masyarakat berkemajuan, terutama untuk menghadapi tantangan peradaban global dan plural.

Buku ini digarap secara apik oleh Ahmad Najib Burhani. Sebagai seorang pelaku sekaligus peneliti, Burhani berhasil melacak akar-akar genealogi “Islam Berkemajuan”, identitas yang kini tersemat dan melekat erat dalam tubuh Muhammadiyah. Bahkan, Burhani juga mampu memperlihatkan perkembangannya hingga saat ini. Tidak hanya persoalan identitas, Burhani juga mengangkat sejumlah isu penting lain, semisal dakwah kultural, Wahabisasi, dan internasionalisasi Muhammadiyah.