Mengapa Namaku Sarbeni?


Oleh: Neni Nurachman

“Mak, pokok nya aku mau ganti nama!!!”
Gadis tomboi itu tiba-tiba merengek. Tanpa mempedulikan ucapan neneknya yang menyuruh lekas berganti pakaian.
“Nanti, jika kamu ganti nama, mak harus mengundang tetangga. Membuat bubur merah dan bubur putih lagi. Darimana Emak mempunyai uang untuk itu?” Lembut, perempuan paruh baya itu berucap. Tangannya mengelus rambut cepak cucunya, yang masih memakai topi merah.
“Emak bilang saja ke bapak. Biar nanti mamah yang membuat bubur merah dan bubur putihnya,” lanjut gadis itu. Tangisnya hampir pecah.
“Ada apa, Ben? Tiba-tiba saja kau permasalahkan namamu sendiri?” Kembali lirih, Emak Unah menatap gadis kecil itu.
“Lagian, bapak dan mamah mu jauh. Pulang kesini entah mungkin lebaran nanti. Atau malah lebaran ini nggak pulang.” ujar emak Unah, tetap bertutur lembut.

Walau gadis kecil di hadapannya mulai berurai air mata, emak Unah meninggalkan dia. Kebiasaannya, jika dia sedih dan gundah seperti ini, lebih baik dibiarkan sendirian. Emak Unah lebih memilih menyiapkan makan siang untuk cucunya. Singkong rebus disertai gula merah yang dikurud lembut.
“Ben, cepatlah ganti pakaian, wudlu lalu sholat. Sudah jam 1. Lanjut makan siang, Emak sudah siapkan di dapur,” panggil emak Unah dari balik bilik pemisah kamar dan dapur.
Tak lama cucunya datang. Telah berganti pakaian, kaos oblong biru tua dan training panjang berwarna merah. Kaos itu sudah pudar, karena dijemur setiap hari. Cucunya sangat suka memakai pakaian ini. Setiap selesai dicuci, kesokan harinya atau bahkan sore hari telah dipakai lagi. Padahal ada lima helai pakaian lain yang bisa dijadikan ganti selama satu minggu. Pakaian itupemberian kakak sepupunya.
”Mak, enak ini singkongnya, empuk. Masih hangat, dicocol kurudan gula merah,” ujar gadis kecil itu sambil menyantap sajian makan siang.
Emak Unah menatap cucunya yang tengah menikmati sajian makan siang. Menu yang berbeda dari orang lain. Ada rasa iba dalam dada emak Unah. Lekat ditatapnya cucunya. Dia terpisah dengan kedua orang tua serta adik-adiknya. Sejak usianya 3 tahun, dia dibesarkan penuh kasih-sayang oleh emak Unah. Walaupun kedua orang tuanya kerap menanyakan kabar melalui surat, namun surat yang itu terkadang tiba enam bulan sekali saja. Sekedar menanyakan keadaan Sarbeni. Cucu emak Unah yang sedang lahap makan siang di hadapannya.
Emak Unah hanya dapat memberi makanan seadanya saja. Hasil kebun sendiri atau upah dari orang lain. Kebun yang dimilikinya tidak terlalu luas. Makan nasi cukup dua kali atau bahkan hanya satu kali. Jika nasi yang dimasak sore hari masih bersisa, esok pagi bisa untuk sarapan. Siang hari makan umbi-umbian hasil kebun. Seperti siang ini, makan siang menu singkong rebus.
“Mak, Beni main dulu ya?”
“Eh, iya. Jangan pulang terlalu sore. Jam 2 nanti kamu sekolah agama,” jawab emak Unah tergagap, sambil mengusap genangan air di sudut matanya.
Lega rasanya, keluhan cucunya tadi tidak dibahas lagi. Gadis kecil tomboi itu berlari girang menghampiri kawan-kawannya. Membawa mainan pistol bambu. Sesekali mengusap dada. Bagaimana caranya agar cucunya bermain dengan anak perempuan lain? Tak bisa dielakan, dia berkawan dengan anak-anak lelaki sebayanya. Saat diminta sholat menggunakan kain samping yang menutup sekujur tubuhnya, dia menolak. Lebih senang mengambil peci pemberian bapaknya, hanya dengan bercelana panjang saja.
Cucunya juga setiap Jum’at selalu berangkat ke mesjid menunaikan sholat Jum’at. Berada diantara barisan anak-anak lelaki dan kaum pria dewasa. Ini tak dapat dibiarkan. Memang, bapaknya menginginkan anak pertamanya lelaki. Ketika terlahir perempuan, ogah-ogahan mengurusinya. Hingga usia dua tahun, lahir adik Beni, berjenis kelamin laki-laki. Semakin terasinglah Beni dimata Bapaknya. Walau ibunya sering iba, tetapi tak berdaya. Sang ibu turut saja pada kemauan bapak Beni. Emak Unah tidak tega melihat Beni tak terurus. Hingga waktu itu, dia mengambil dan mengurusnya, hingga sekarang. Bahkan, mungkin kelak setelah Beni berumah tangga.

***

“Mak, kenapa Wa Haji, guru ngaji Beni, tadi bilang kalau Beni nggak usah sholat Jum’at?”
Malam sepulang ngaji tiba-tiba pertanyaan Beni membuat emak Unah tercekat. Beberapa hari lalu, emak Unah berbincang dengan Wa Haji. Mengungkapkan kerisauannya. Keinginannya memahamkan Beni, bahwa dia seorang perempuan. Tidak masalah bermain atau hobi naik turun pohon jambu di pinggir rumah. Tetapi, kodrat Beni kan perempuan. Emak Unah ingin Wa Haji membantunya. Beni lebih patuh pada Wa Haji dan gurunya di sekolah.
“Mak, malah melamun?” suara Beni membuyarkan lamunan Emak Unah.
“Terus, apa lagi kata Wa Haji?” emak Unah menjawab cucunya dengan sebuah pertanyaan.
“Iya Cuma bilang gitu, Beni gak usah sholat Jum’at. Sholat dzuhur saja setelah orang yang Jum’atan bubar,” gitu katanya Mak. Beni harus memakai mukena kalau sholat, atau kalau ngga punya pakai sarung dan kain samping katanya.”
“Ikuti saja kata Wa Haji. Tentu baik untuk Beni. Nanti Emak cari kain samping dan sarung di lemari Emak. Emak punya lebih. Khusus untuk Beni sholat saja ya,” ujar Emak Unah.
“Ayo teruskan belajarnya,” lanjut Emak Unah, sambil menggeserkan lampu cempor, ke arah Beni.
Emak Unah hanya bisa menemai Beni belajar, tanpa bisa menjawab pertanyaan mengenai pelajaran sekolah cucunya. Kecuali jika ada permintaan membuat dongeng atau bahasa Sunda, emak Unah jagonya.
“Mak, kenapa ya Wa Haji nggak pernah memanggil Beni atau Sarbeni? Wa Haji selalu memanggil Ni.” Tanya Beni, dibalik sarungnya, saat rebahan jelang tidur.
“Itu panggilan kesayangan guru ngajimu, Ben,” Emak Unah ringkas, sambil nyisig.
“Tapi, Beni suka nyaman banget kalau Wa Haji memanggil dengan sebutan itu,” dengan pelan Beni berucap.
Ada rasa semeriwing di hati emak Unah. Apakah mulai besok memanggil cucunya seperti Wa haji saja. Pikirnya dalam hati.
“Kalau Emak panggil Beni dengan Ni, sama seperti Wa Haji. Beni suka ngga?”
Tak ada jawaban. Emak Unah risau. Jangan-jangan pertanyaannya membuat Beni menguraikan air mata lagi. Aneh memang, Emak Unah kira jika anak tomboi tidak gampang menangis. Tapi tidak dengan cucunya ini. Sering Emak Unah melihat Beni menangis diam-diam. Bahkan mengigaunya sering sesenggukan menangis. Emak Unah melirik Beni, siapa tahu cucunya sedang tersedu sedan. Eh ternyata, dia sudah tenggelam ke alam mimpi. Emak Unah meyelimuti tubuh cucunya dengan kain samping. Agar udara dari celah bilik tidak terlalu dingin menerpa tubuhnya.

***

“Ni, bangun. Sudah subuh. Cepat pergi sholat dan mengaji,” ujar emak Unah sambil menarik kain samping dan sarung yang menyelimuti Beni.
“Iya, Wa Haji…” Beni terbangun dan setengah berlari menuju pancuran di samping rumah. Usai sholat subuh, dia pergi ke tajug setengah berlari.
Emak Unah terperangah. Tidak biasanya cucunya bangun secepat itu. Dan tadi memanggil dia dengan Wa Haji. Hanya bisa geleng-geleng kepala. Seraya dia pergi ke dapur. Menyalakan api pada kayu bakar di dalam hawu. Memasak air dan nasi goreng untuk sarapan berdua dengan cucunya. Nasi goreng berbumbu bawang daun, kunyit serta garam. Emak Unah menggoreng telur, yang baru saja diambil dari sarang ayam. Ayam peliharaan Beni. Semoga induk ayam tak merasa kehilangan sebutir telur. Masih ada enam telur lain di sarangnya.
“Assalamualaikum, Mak, kok Wa Haji tidak bilang membangunkan Beni ya?” Gadis kecil tomboi itu sekonyong-konyong datang mengagetkan neneknya.
“Siapa yang bilang, kalau Wa Haji yang membangunkanmu tadi subuh?” tanya Emak Unah.
“Lah, tadi kan Wa Haji yang menarik kain samping dan sarung Beni, Mak,” ujar Beni sambil mengerutkan kening.
“Tadi itu Emak yang membangunkan kamu.”
“Bukan, Wa haji ah. Hanya Wa Haji yang memanggil dengan sebutan itu,” ujar Beni tetap dalam kebingungan.
“Untuk apa Wa Haji subuh-subuh kesini? Hanya untuk membangunkan kamu, Ni. Jam segitu Wa Haji sudah di tajug, menantikan anak-anak yang akan mengaji,” ujar emak Unah.
Tercenung Beni. Sekarang Neneknya ikut-ikutan memanggil dirinya Ni. Tapi kok rasanya, tadi saat dibangunkan sepertinya Wa Haji yang menarik sarung dan kain samping.
“Apa kamu keberatan, kalau Emak memanggilmu dengan panggilan Ni?” Selidik emak Unah.
Lama gadis tomboi itu tak menjawab.
“Iyalah, kalau Emak suka. Panggilanku sekarang Ni saja,” jawabnya ogah-ogahan. ”Lagian, teman di sekolah suka moyok, masa anak perempuan namanya Sarbeni, panggilannya Beni,” lanjutnya, kemudain berlalu bersiap antri mandi di pancuran.
Setelah sarapan spesial pagi itu, gadis kecil berambut cepak berlari kecil. Memakai sandal jepit, bertopi dan berdasi merah. Menggendong tas ransel lusuh. Rok merahnya selutut, balapan dengan kolor yang digunakan melapisinya. Bersama pasukan anak-anak sekolah lain dalam nuansa merah putih.

***

“Emaaakkkk….!”
Gadis tomboi itu berlari di halaman rumah panggung menuju pintu rumah yang masih tertutup. Dia melemparkan tas lusuh dan membantingkan sandal jepit. Terduduk di babancik. Pecah tangisnya yang ditahan sedari sekolah. Dia meraung-raung. Didapatinya pintu rumah neneknya yang masih terkunci. Rumah para tetangga masih sepi. Semua masih di kebun, yang jaraknya beberapa kilometer dari kampung.
Dia tertidur dalam tangis. Berbantal lengan. Matanya masih sembab dan basah dengan air mata. Emak Unah kaget melihat kondisi cucunya sepulang dari kebun. Tidak biasanya Beni pulang sebelum dzuhur. Sendal jepit dan tas lusuh diambil, kemudian diletakan di kamar. Dibiarkan cucunya nyenyak. Walaupun emak Unah penasaran apa yang membuat cucunya menangis.
Emak Unah bergegas, menyiapkan makan siang untuk Beni dan dirinya. Kali ini jagung rebus yang akan disantap. Lima buah jagung sebagai upah membantu panen di kebun juragan Anin. Beruntung, hanya membantu sebentar saja, sudah mendapatkan jagung, cukup untuk dua kali makan siang.
“Ni, ayo kita makan jagung rebus yuk!” emak Unah merayu sang cucu.
Tak mendapat jawaban. Tetap saja dia telungkup membenamkan wajah di bantal kerasnya.
“Ayolah Ni. Keburu dingin. Jagung dari kebun juragan Anin itu enak tiada tanding,” rajuk Emak Unah, mendekatkan jagung rebus yang mengepul.
Cucunya mulai bangun. Terduduk menunduk. Menatap ujung jari kakinya. Terdiam tak bergeming. Hingga kepulan asap jagung rebus di hadapannya sirna. Aromanya berlalu tertiup angin. Hanya sesekali melirik neneknya yang termangu.
“Mak…” parau terdengar oleh emak Unah suara nya.
“Ya, ada apa Ni?”emak Unah mengelus rambut cepak Beni.
“Apa salah ya kalau Beni eh Ni mau ganti nama?” Masih menunduk, tangannya memainkan ujung baju putih, yang belum diganti sepulang sekolah.
“Memangnya apa alasan Ni berganti nama?” Kini Emak Unah memeluknya.
“Beni eh Ni, kesal diledekin terus tiap hari. Kata teman-teman harusnya nama Sarbeni itu laki-laki. Ni jadi kesal, kenapa diberi nama Sarbeni?” Kembali muncul anak sungai di pipinya.
“Bapak kamu Ni yang memberi nama itu. Tangisanmu mengingatkan emak pada tangisan ibu mu 10 tahun silam. Saat Bapak mu bersikeras menamaimu ‘Sarbeni’. Semua orang melarang bapakmu. Termasuk emak dan Wa Haji.” Emak Unah mulai menceritakan ihwal nama cucunya.
“Setiap ibu dan emak ingin mengganti namamu, Bapakmu malah marah. Wa Haji pun tidak bisa berbuat apa-apa,” lanjut emak Unah.
“Kecuali Wa Haji saja yang memanggil namamu dengan Ni. Selainnya termasuk emak memanggilmu Beni atau sarbeni,” emak Unah mengahiri cerita singkatnya.
“Sekarang Ni mau berganti nama, Mak,” ujar sarbeni tetap menunduk.
“Kata Bu Siti, guru Beni eh … Ni, tidak apa-apa berganti nama tanpa membuat bubur merah dan bubur putih. Cukup melapor ke bale desa dan kepala sekolah saja. Begitu Mak katanya,” Sarbeni mulai tenang.
“Kapan Ni menanyakan itu ke bu Siti?” tanya emak Unah.
Tidak menyangka cucunya yang baru kelas 5 SD telah memiliki inisiatif. Rupanya Sarbeni menanyakan perihal pergantian nama ke guru kelasnya. Setelah waktu itu meminta ganti nama ke emak Unah, neneknya.
“Mak, Ni mau dipanggil Ni saja. Oleh semua orang. Tidak mau dipnggil Sarbeni atau Beni. Boleh kan Mak?” ujarnya.
Muhun bageur, mangga. Sekarang panggilanmu Ni,” emak Unah memeluk Beni. Giliran wanita paruh baya itu menahan isakan, agar tidak ketahuan cucunya.
Gadis kecil tomboi itu melepaskan diri dari pelukan neneknya. Menyambar sebuah jagung rebus, yang telah dingin. Dan dia berlari ke samping rumahnya. Naik pohon jambu. Sesaat kemudian lantang suara parau menyayikan lagu oray-orayan. Sesekali terdiam, mengunyah jagung rebus. Tak nampak bekas tangisan dahsyat. Bahkan riang makan siang di atas pohon.

***

Semua orang tua siswa SD Negeri Dadap khusus menyimak pidato kepala sekolah, termasuk emak Unah. Mewakili orang tua siswa bernama Sarbeni. Bapak dan ibunya tidak bisa pulang, walau hanya untuk mengambil raport anaknya. Pada kesempatan seperti inilah kebanggaan orang tua akan membuncah. Para orang tua yang anaknya mendapatkan prestasi di sekolah. Namun, kali ini dalam pidatonya kepala sekolah dikatakan tidak akan ada juara peringkat setiap kelas. Hal ini akan diumumkan nanti saja pada semester genap, sekaligus kenaikan kelas.
Semua orang tua dikumpulkan di ruang kelas tempat anak-anaknya belajar. Emak Unah masuk ke ruang kelas 5. Kelas tempat cucunya belajar. Ada 27 siswa semuanya. Bu Siti, guru kelas 5 SD, telah berada di ruangan itu. Setumpuk buku raport murid-murid tertata di hadapannya.
“Assalamualaikum, wilujeng sumping para ibu serta bapak sekalian. Silahkan duduk mendampingi anak masing-masing,” sapa bu Siti ramah.
“Bapak dan ibu sekalian. Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan. Perihal beberapa peristiwa selama satu semester ini. Saya mengamati ada permasalahan diantara para siswa. Ada seorang siswa yang sering menjadi bahan cemoohan siswa lain,” ujar bu Siti berhenti berbicara. Dia menunduk merapikan tumpukan raport yang mulai miring, tersandung tangannya.
“Mohon bapak dan ibu semua, memberikan arahan kepada anak-anak, agar tidak saling mencemooh satu sama lain. Supaya kenyamanan belajar di kelas juga terjaga. Kita tanamkan rasa sayang dan saling menghormati kepada teman. Jika hanya saya saja yang menasihati anak-anak. Terus terang keberhasilannya akan sedikit. Dengan keterlibatan bapak dan ibu semua, insya Alloh anak-anak kita akan terbiasa tidak menghina dan mencemooh orang lain,” panjang lebar bu Siti memberi arahan kepada para orang tua.
Di salah satu sudut kelas, emak Unah dan Sarbeni saling pandang dan tersenyum. Di meja lain, pasangan mata anak-anak menunduk tetapi melirik Sarbeni. Kesal. Walaupun para orang tua mereka tidak ada yang mengetahui permasalahannya. Hal buruk yang selalu terjadi di ruang kelas ini, setiap hari. Memuncak saat Sarbeni pulang tanpa izin dari sekolah.
Satu per satu raport dibagikan kepada orang tua siswa. Tinggalah Sarbeni dan neneknya dalam ruangan itu. Penerima raport terahir. Kali ini bu Siti tidak memanggil emak Unah dan Sarbeni. Dia mendekati meja tempat mereka duduk. Dia membawa sebuah buku raport dan dua helai kertas.
“Mak, ini raport cucu Emak.” Bu Siti menyerahkan buku itu. “Tapi Emak harus membuka dan melihatnya sekarang juga, disini,” lanjutnya.
Perlahan Emak Unah membuka buku yang diserahkan Bu Siti. Sarbeni juga mengintip dan turut membaca isinya.
“N.u.r.a.i.n.i,“ emak Unah terbata, membaca sebuah nama yang tertulis dalam buku itu.
“Ini bukan nama cucu saya, nyi gur,” emak Unah mengembalikan buku itu.
“Ini raport baru cucu emak,” bu Siti tersenyum, mengeluarkan dua lembar kertas.
“Emak tidak mengerti, nyi guru,” ujar Emak Unah perlahan dan terbengong.
“Begini Mak, seminggu lalu ada surat keterangan ini dari bale desa. Juru tulis yang mengantarnya ke sekolah,” tutur Bu Siti.
“Berdasarkan surat ini, maka pihak sekolah mengubah semua nama dalam raport dan segala hal yang berkaitan dengan Sarbeni. Asalnya bernama ‘Sarbeni’ menjadi ‘Nuraini’, begitu mak,” Bu Siti menjelaskan.
“Ni, namamu sekarang bukan Sarbeni. Tetapi Nuraini. Ini permohonan bapakmu. Beberapa waktu lalu dia datang ke sekolah ditemani Wa Haji,” Bu Siti menepuk pundak Sarbeni eh Nuraini.
Sarbeni yang berganti Nuraini dengan panggilan Ni. Nama baru, yang mungkin akan melepaskan gadis kecil tomboi itu dari cemoohan teman-temannya. Bu Siti memeluk murid perempuannya yang berambut cepak.
“Horeeee namaku Nuraini! Panggil aku Ni. Bukan lagi Beni! Tidak lagi Sarbeni! Horeeee…Hore…Aku Ni…Aku Nuraini…!!!” Ni Nuraini berteriak girang keliling lapang sekolah. Bu Siti dan emak Unah tersenyum bahagia. Binar mata mereka didiringi kristal bening, yang tersangkut di sudut mata. (Neni Nurachman: guru SMA Pesantren Cintawana Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat)

Kosa Kata:
Dikurud : diiris tipis menggunakan pisau.
Bilik: dinding rumah panggung yang terbuat dari anyaman bamboo.
Dicocol: disentuhkan.
Kurudan gula merah: Gula merah yang diiris tipis menggunakan pisau.
Samping: kain panjang yang dipakai untuk bawahan kebaya. Jarit jika dalam bahasa Jawa.
Cempor: lampu yang berbahan bakar minyak tanah.
Nyisig: Segumpal tembakau yang digosokan ke gigi, merupakan rangkaian kegiatan makan sirih adat perempuan di Jawa Barat.
Semeriwing: Diambil dari bahasa jaw, dimaksudkan ada rasa dingin tidak menentu.
Tajug: Surau
Hawu: tungku adat daerah Jawa Barat.
Moyok: menghina, mencemooh.
Babancik: serambi atau teras dari rumah panggung. Terbuat dari kayu atau bamboo.
Bele desa: kantor desa
Oray-orayan: sebuah judul lagu rakyat Jawa Barat
Wilujeng sumping: selamat datang