Sorban Merah Di Hari Pertama

Oleh: Neni Nurachman

“Niiii, hayu,” tiga suara remaja tanggung memanggilnya.
“Bentarrrr,” sahut Nuraini, gadis mungil itu keluar menghampiri ketiga temannya.
Turun dari babancik. Tas ransel biru tua bertengger di punggungnya. Tersenyum lebar menghampiri ketiga temannya. Sesekali memperbaiki jilbab putih. Pagi ini, dia memakai seragam baru. Putih-biru, tiada lagi warna merah di topi dan rok. Tegap, melangkah meninggalkan rumah panggung sang nenek. Mereka melangkah, semangat baru, menuju sekolah baru. Nuraini, Cecep, Mimin dan Esih.

“Cep, kok atributnya belum dipasang?” tanya Mimin menatap Cecep.
“Cecep belum beli, Min,” tak bergeming, tetap berjalan terdepan.
“Ayo, nanti kesiangan,” Cecep mempercepat langkah.

Mereka berempat menyusuri jalan desa. Deretan batu tertata rapi. Tak terasa sakit, mereka menggunakan sepatu. Sepatu masih baru. Setelah satu minggu, melalui masa orientasi di SMP Negeri Pasir Angin, hari ini perwujudan harapan dimulai. Mereka berasal dari SD yang sama, dan berharap tetap satu kelas. Mereka ingin tetap berteman, walau siswa di sekolah barunya, delapan kali lebih banyak bila dibandingkan jumlah kawannya saat kelas 6.

Perjalanan masih jauh. Perkampungan mereka berada di atas bukit. Menuju sekolah baru, mereka haruslah melewati dua lembah, mendaki bukit bertanah merah. Sepanjang pejalanan itu, mereka tidak melewati perkampungan, hanya pepohonan dan perdu yang dilalui.

Tiba-tiba rintik hujan turun membasahi bumi. “Ayo teman, cepetan buka sepatu. Kita masukan ke tas kresek!” Seru Nuraini. Berhenti sejenak. Sepatu baru beserta kaus kaki dilepas, lalu dimasukan di tas kresek hitam. Tenggelamlah bersama peralatan sekolah di dalam tas. Mereka mengeluarkan payung, agar tubuh tak basah kuyup. Rintik hujan pun tertolak payung. Urung menerobos seragam baru Nuraini.

Ketiga temannya mengikuti Nuraini. Mereka berjalan lebih perlahan. Menuruni bukit, melewati lembah pertama. Jalan setapak belum lah licin. Jalanan itu baru dibasahi butiran embun perdu dan rerumputan serta rintik hujan pagi itu.

Lembah yang terlewati hanya 10 meter saja. Cukup menghilangkan pegal kaki mereka. Selanjutnya menanjak, menaklukan bukit pertama. Bukit yang nampak dari ujung kampung. Mereka mendaki bukit perlahan. Jalanan mulai becek. Butuh tenaga lebih kuat untuk disalurkan ke telapak kaki agar tubuh ramping mereka dapat menekan lebih dalam dan terjaga dari licin jalanan. Mereka selamat hingga puncak bukit.

Keempat anak sekolah itu berhenti. Mereka menghirup udara, sekedar mengurai sengal. Cecep melangkah lebih dulu.

“Ayo teman, udah siang nih, 30 menit lagi lonceng di pukul,” ujar Cecep menyemangati kawannya, yang masih terdiam.

“Ayo, siapa takut!” Mimin mendahului Cecep.
“Balapan nih? Mari!” Esih gesit menyusul.
“Hmm, jadi kalau Ni ga ikutan, alamat kesiangan. Ayooo!” Nuraini gesit menyalip ketiga kawannya.
Susul menyusul menuruni bukit. Dalam keadaan licin. Dan plakkk.
“Aduuuuh!” Nuraini terjerembab, hingga terduduk di atas tanah licin dan becek.
Rok biru penuh lumpur. Sedikit menyiprat ke baju putih. Payungnya meluncur, hingga ujung lembah. Tepat dekat jembatan bambu.
“Makanya jangan terburu-buru gitu,” ujar Esih sembari membantu membangunkan Nuraini.
“Ni sih balapannya beneran. Cecep kan cuma ngajak jalan lebih cepat saja,” ujarnya seperti merasa bersalah, dan mulai khawatir.
“Gimana nih? kita baru hari ini masuk sekolah. Masa sudah tidak masuk?” Mimin yang sedari tadi diam berkomentar.
“Kalian sekolah aja bertiga. Ni nanti kembali lagi ke rumah,” ujar Nuraini yang hidungnya mulai memerah.

“Ngga lah, kita kalau pulang ya berempat pulang. Masa teman sendiri dibiarkan pulang,” ujar Esih memberi solusi.
“Nggak lah, aku nanti dimarahin Bapak. Aku duluan ya?” Mimin hendak beranjak.
“Jangan gitu Min, ini kan kecelakaan. Ga disengaja. Bantuin cari jalan keluarlah,” Cecep pelanmulai merenung.
“Gimana kalau kita berempat kembali ke rumah Nuraini. Lalu dia ganti baju. Berangkat lagi ke sekolah,” ujar Esih.

“Kita semua kesiangannya pakai banget, Esih!” Ujar Mimin.
“Kenapa kalian malah debat?” Nuraini melerai.
“Ni pulang sendiri aja, ganti baju lalu berangkat ke sekolah. Nah kalian bertiga bilang ke guru, kalau Ni akan kesiangan. Jelaskanlah kejadian ini pada guru. Gimana kalau gitu?” Nuraini mencoba menengahi. Tidak mau merugikan kawannya.
“Ngga bisa! Kamu sendirian melewati kebun kayu itu?” Esih menolak.
“Ayo, berfikir, berfikir, berfikir!” Cecep menepok kening.
Udahlah, Nuraini udah bilang dia mau pulang sendirian. Hayu kita ke sekolah. Kan kita mau bilang ke guru alasannya kenapa nanti dia kesiangan.” Mimin tidak sabar, menoleh lekat ke Nuraini.
“Gini aja, Cecep sama Mimin ke sekolah. Bilang ke guru kejadian ini. Aku nganter Ni pulang untuk ganti baju dan kembali berangkat ke sekolah. Gimana?” Esih tetap dengan ide semula.
“Baiklah, ayo Cep.” Mimin berlalu, tanpa menunggu jawaban kawannya.
Cecep menoleh Esih dan Nuraini. Kali ini dia berat hati meninggalkan kedua temannya. Tetapi, sangsi juga. Apakah Mimin mau menceritakan kejadian ini pada guru? Cecep mengikuti Mimin. Menjauh, menuruni bukit. Menyeberang sungai dengan jembatan bambu. Menanjak hingga mengecil, lenyap dari pandangan Esih dan Nuraini karena terhalang rumpun bambu.

“Sih, beneran mau nganter Ni pulang? Rela kesiangan di hari pertama sekolah?” Nuraini menatap Esih.
“Kita nanti bisa dua jam lo kesiangannya,” lanjut Nuraini.
Ga apa-apa, daripada kamu pulang dan berangkat lagi sendiri. Hujan begini? Ga lihat apa gelapnya kebun kayu tadi?” Esih mengambil payung Nuraini, yang tadi terlempar.

***

Suasana lapangan riuh, setelah upacara bendera urung dilaksanakan. Terlalu deras hujan pagi ini. Kelas 7 mencari nama masing-masing. Salah seorang siswa mengamati kertas yang terpajang di kaca jendela kelas. Dia mencari namanya di kelas itu. Tidak tercantum nama Cecep. Esih yang terdaftar di kelas itu. Beranjak ke kelas lain. Lalu dia melompat kegirangan. Sesaat menelisik lagi daftar siswa di kelas 7B. Tak ada nama Nuraini juga Mimin. Rautnya sendu. Lekas dia masuk ruang kelas baru.

Di kelas lain, Mimin telah berada di meja baru. Bersama teman baru. Sangat supel memang. Seminggu ini dia telah banyak mempunyai kawan. Dia asyik mengobrol dengan teman barunya. Sangat antusias obrolannya. Kelas riuh. Hingga masuk sesosok guru ke ruangan.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa guru itu.
Dilanjutkan dengan perkenalan. Semua siswa yang hadir di kelas itu berdiri, dan memperkenalkan diri, secara singkat. Ternyata nama guru itu Pak Badru. Saat ini sedang membentuk pengurus kelas. Hingga dilakukan pemilihan ketua kelas. Kelas kembali gaduh.
“Assalamualaikum,” terdengar suara salam, diiringi ketukan pintu kelas.
Seorang guru muda masuk ruangan. Berbincang dengan Pak Badru. Pak Badru manggut-manggut. Lalu, seorang siswa berkerudung masuk ruang kelas. Dia Mendekati meja Pak Badru. Menunduk, badannya menggigil. Kuyu, basah dan sedikit dekil.
“Silahkan perkenalkan dulu namamu. Kelas saat ini sedang melakukan pemungutan suara untuk memilih ketua kelas,” ujar Pak Badru.
“Hi teman, nama saya Nuraini,” masih menunduk, menahan dingin.
“Silahkan duduk di meja paling depan. Hanya itu yang masih kosong. Semua sudah terisi. Teman-temanmu lebih dulu mendapatkan meja. Nanti juga akan bergilir,” Pak Badru menjelaskan.
Mimin terbelalak melihat teman sekampungnya berada di kelas yang sama dengannya.
“Semoga dia tidak mengatakan asal kampung halamannya di depan kelas,” gumamnya dalam hati.
“Pak, saya ga mau semeja dengan siswa yang kesiangan,” protes seorang siswa yang mejanya masih kosong.
” Kenapa? kamu kan yang masih sendirian. Ayo, jangan bertingkah,” ujar Pak Badru.
“Bajunya basah Pak. Nanti saya kena juga, terus kotor begitu,” seru dia, tetap keukeuh.
“Nuraini, mengapa baju basah dan kotor begitu?” tanya Pak Badru.
“Ni jatuh pak tadi. Kalau pulang akan kesiangan sampai sini. Jadi saya bersihkan seadanya dengan air sungai.” Nuraini menjawab, tertunduk dan gundah.
Pak Badru mendekati Nuraini. Tadi tak teramati pakaian murid ini. Memandang dari ujung kerudung hingga alas sepatu.
“Kok, sepatumu bersih? Benarkah kamu jatuh Nuraini?” Telisik Pak Badru.
“Iya, Pak. Sepatu ini dimasukan ke tas,” makin menunduk Nuraini.
“Wahhh…emang dimana rumahmu? udikkk banget yaaa!” teriak beberapa siswa, makin gaduh dan gemuruh.
“Stttt, jangan berisik!” Pak Badru menenangkan kelas.
“Kamu jika belajar seharian begini, masuk angin nanti. Pulang saja tidak usah dilanjutkan. Besok ke sekolah, dan tentu hati-hati di jalan,” Pak Badru iba melihat Nuraini menggigil.
“Saya mau belajar Pak,” ujar Nuraini, makin menunduk. Bibirnya mulai menghitam.
Lubuk hatinya mengatakan takut jika pulang sendiri. Apalagi rintik hujan berubah menjadi butiran hujan nan deras.
Pak Badru beranjak ke luar kelas. Beberapa saat kemudian datang bersama guru perempuan tadi.
“Mari, ikuti ibu,” ajaknya ke Nuraini.
“Bawa serta tasmu, nak,” lanjutnya, lembut dan bersahabat.
“Kenapa kamu nggak mau pulang, nak? bu guru menelisik.
“Saya takut bu, hujan besar begini, harus melewati kebun kayu, bukit dan lembah,” Nuraini mulai meneteskan air mata.
“Berapa orang teman dari kampung mu?” Tanyanya lagi.
“Kami berempat bu, hanya saja tidak satu kelas,” Nuraini belum tahu jika Mimin satu kelas dengannya.
“Baiklah, kamu istirahat di UKS ya, sebentar.”
Bu guru berlalu. Sesaat datang membawa kaos olah raga sekolah.
“Ini kaos olah raga yang akan dibagikan. Kamu terlebih dahulu menerima ini. Sana ganti baju. Setelah hangat tubuhmu. Boleh masuk kelas,” ujarnya.
Nuraini menurutinya. Bergegas ke ruang istirahat di UKS. Hendak berganti pakaian. Tetapi, bagaimana dengan kerudungnya? Dia kembali menemui guru tadi. Masih menunggui Nuraini.
“Lho, kok masih memakai baju basah?” tanya Bu Guru.
” Bu, percuma saya berganti pakaian. Kerudung saya basah. Nanti, kaosnya juga kena basah.” Nuraini menyerahkan pakaian olah raga ke Bu Guru.
“Oh, sebentar nak.” Bu Guru berlalu. Lebih lama dari tadi.
“Aduh, ga apa-apa ada ini. Tidak ada yang lain. Hanya ada ini di mobil ibu,” ujarnya setiba di ruangan UKS.
Tertegun menerima sorban putih berbintik merah, tak apa lah,” Nuraini bergegas kembali ke ruang ganti.
Setelah menyeruput air putih hangat. Badannya diberi kayu putih di bagian punggung, perut dan kaki. Perlahan suhu tubuhnya kembali normal, dan badan kembali bugar.

Nuraini pamit dan melenggang masuk kelas kembali. Belajar di hari pertama dengan sorban dan pakaian olah raga. Tentu dengan lirikan usil dari teman sekelas. Semangat belajar hari pertama di sekolah baru. Dengan pakaian unik tiada tara. (Neni Nurachman: guru SMA Pesantren Cintawana Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat)