Judul      : Pribadi dan Martabat Buya Hamka

Penulis   : Rusydi Hamka

Penerbit : Penerbit Noura

Cetakan : I, Januari 2017

Tebal      : xv, 387 halaman

ISBN      : 978-602-385-240-6

 

Bagi seorang anak, ayah adalah sosok hebat, membanggakan, dan idola. Begitupun dengan Rusydi Hamka memandang Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sang Ayah. Di matanya, Buya Hamka -demikian beliau lebih dikenal- ibarat manusia tanpa cela.

Diakui Rusydi, memang tidak mudah untuk menggambarkan sosok Buya Hamka. Kedekatannya dengan sang Ayah membuat beliau merasa agak kuatir jika kisahnya akan cenderung subjektif. Sedapat mungkin Rusydi berupaya meredam “pemujaan” terhadap sang Ayah, ulama yang oleh banyak kalangan dijuluki sebagai “orang besar”.

 

MENGENANG BUYA HAMKA

Meski bukan anak sulung, hubungan Rusydi dengan sang Ayah sangatlah dekat. Apalagi, Rusydi kerap berkesempatan mendampingi sang Ayah bepergian dan berkegiatan. Bahkan, sejak usia 10 tahun, Rusydi sudah diajak Buya Hamka untuk bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat.

Mengenang Buya Hamka tak lepas dari ingatan akan bunyi hentakan tongkatnya. Awalnya, mengoleksi tongkat adalah hobi Buya Hamka sejak muda. “Jalan pakai tongkat kelihatannya ganteng-gagah,” jawab beliau saat ditanya Rusydi. (hal 15). Tak dipungkiri, tongkat telah dengan setia menemani Buya Hamka selama 23 tahun. Belakangan tongkat digunakan untuk menopang tubuh dan mengiringi langkah-langkah beliau yang perlahan memelan.

Terhadap anak-anaknya, Buya Hamka mahir pula menceriakan suasana. Teringat oleh Rusydi bagaimana beliau memaksa membangunkan mereka untuk salat subuh. Sembari mengetuk pintu kamar, Buya Hamka memanggil nama masing-masing dengan irama yang menyerupai lagu penjual kue di Padang Panjang. Nyanyian yang tak kan henti sampai mereka bangun.

Sebagai seorang ulama, sudah pasti tak diragukan lagi penguasaan Buya Hamka terhadap Alquran dan Islam. Dan, sebagai orang Minang, tak heran jika beliau juga pandai berpantun. Biasanya, Buya Hamka berpantun untuk menghibur rekan seperjalanan. Semisal, dalam perjalanan keliling ranah Minang, saat memandang danau Maninjau, terdengarlah: Maninjau Sungai Batang/Katigo jo Tanjung Sani/Keempat Kampung Bayur/Kilat kemilau panas petang/Den sangko bayang-bayang Nabi/Kironyo bungo dalam sanggul, sambil menggerakkan tangannya menunjuk tempat-tempat yang dimaksud. (hal 79)

Ada sebuah pesan yang melekat dalam diri Rusydi: “… kita harus menjaga muru’ah dan martabat diri kita di tengah masyarakat.” (hal 119). Muru’ah adalah harga diri seorang Islam, yang ikhlas berjuang di jalan-Nya, sekalipun tanpa jaminan duniawi. Dalam membina muru’ahnya, Buya Hamka tak segan lebih mementingkan undangan dakwah dari kalangan rakyat biasa.

Buku ini merupakan memoar yang diterbitkan kembali setelah 36 tahun. Bisa dibilang, ini adalah perwujudan kenangan dari seorang anak terhadap sang Ayah. Paparan kisahnya dilengkapi dengan sejumlah lampiran, di antaranya: catatan dalam tahanan rezim Soekarno, surat pribadi kepada Presiden Soeharto, dan catatan tangan Buya Hamka.