Gadis Periang itu Menghembuskan Nafas Terahir

Oleh: Neni Nurachman

“Kita juga peserta, walau rumahnya daerah sini. Ya, mesti dapat hak dong!” suaranya tegas.

Gadis berkerudung hitam, dengan kaos santai warna kuning dan celana bluejeans, tetap meminta hak kamar untuk penginapan untuk dia dan lima orang pasukan dari daerahnya. Tanwir ini memang dinanti, aku, dia juga yang lain. Bersitegang antara dia dan panitia. Juga aku, sebelumnya berdebat juga. Ada beberapa hal yang membuat aku dan gadis itu duduk dan berdiskusi. Sebetulnya bukan kali pertama berjumpa dengannya. Beberapa kegiatan di Nasyiatul Aisyiyah sering bertemu. Acara kali ini aku, dia dan pasukannya berada dalam satu kamar. Hanya untuk malam ini saja, begitu informasi dari panitia.

Bercengkrama bersamanya, gelak tawa dan tentu tukar cemilan. Lupa akan ketegangan sebelum cek in. Semangat gadis itu luar biasa. Biasanya aku dan dia hanya bisa berkelakar, jika datang pada kegiatan organisasi kepempuanan ini.

“Sama siapa dari Tasik?” Ramah dengan senyuman renyah.

“Berdua, Teteh mah ngabring ya?” tanyaku.

“Iya atuh, malu lah kalau yang dekat nggak banyak yang ikutan,” jawabnya, tetap senyum.

“Mana temanmu?” dia celingukan.

“Ini, perkenalkan,” aku menunjuk bayanganku.

“Lah, itu mah olangan namanya,” dia tertawa lebar.

“Pasukan Teteh, mana?” aku balik nanya.

“Ah itu, turunnya beda-beda. Paling akhir mereka turunnya di terminal. Saya kan naik angkot kesini, ya banyaklah pasukan saya,” jawabnya.

Pecahlah tawa kami. Semua orang melirik, penasaran dan mau bergabung ikut tertawa. Riang.

***

Teh, dari mana?” Tanyaku.

“Ciparay, Kabupaten Bandung.” Jawabnya.

Gadis mungil, dengan wajah pucat. Terlalu kurus untuk posturnya. Tatapannya nampak kecewa. Entah kenapa.

Atuh, Teteh kenal sama Teh Ela? Kemana ya? Kok nggak ikut muswil kali ini?” Bertubi ku bertanya. Celingukan mencari sosok gadis yang biasa bercanda dengannya. Pernah satu kamar dengannya. Selalu tergelak di setiap percakapan.

“Ih, Teh Neni. Ini saya Ela.” Jawab gadis mungil itu.

“Teteh? Ini Teh Ela?” Aku mengucek mata berkali-kali.

Setelah tanwir, hampir dua tahun lalu, aku kehilangan komunikasi dengannya. Waktu itu hanya bertukar BBM saja. Di Facebook jarang melihat dia memperbaharui statusnya. Biasanya selalu berbagi informasi kegiatan di daerahnya. Atau sekedar menjelaskan aktivitas pribadi. Terahir mendengar kabar bahwa dia sakit. Lalu dibawa titirah ke tempat kakaknya di luar kota. Kali ini benar-benar aku tak mengenal sosok gadis di hadapanku, yang ternyata Teh Ela. Suaranya juga berubah, tatapannya sayu. Tak seceria dan seriang dulu.

Teteh, bawa cireng gulung lagi nggak ke bazar?” tanyaku, setelah memeluknya beberapa saat.

“Nggak bawa cireng gulung, sekarang ada juga Pakbay. Tuh belilah, lumayan buat kas.” Dia mengajakku duduk di depan meja area bazar.

“Apaan lagi tuh pakbay?” keningku berkerut.

Opak cibay.” Jawabnya.” Tar nanya lagi, apaan tuh cibay? Aci ngagebay. Jadi opak dari aci ngagebay.” Belum sempat ku bertanya, dia jelaskan rinci.

“Iya teh pisahin ya, yang pedas dan nggak pedas. Sok atuh belanja juga ke aku,” Ku tarik lengannya perlahan, menuju meja lain.

“Ah, mana nggak ada molringnya juga, Teh?” tanyanya. Dia memilih barang yang tertata di atas meja.

“Nggak keburu, nggak kebagian Teh, ada juga makroni sama bros-bros. Handmade dan asli buatan nasyiah di ranting sana, Teh,” rayuku.

“Bros mah banyak di Bandung juga, khas dari daerah Teh Neni kan molring,” katanya, tetap memilih.

“Pisahkan yang ini ya?” pintanya. Beberapa bros dan tentu makroni goreng original yang ia kumpulkan. Aku bertukar belanja dengannya.

Teh, sekarang mah beneran aku bersama pasukan. Lima belas orang utusan,” jelasku padanya, tanpa ditanya lebih dulu.

“Saya juga alhamdulillah, beneran banyak Teh. Jongjon sekarang, sudah ada yang mau jadi pengurus di NA. Beberapa orang di daerah saya. Balasnya.Kali ini aku dan dia tersenyum bahagia. Binarnya cemerlang dalam pucat wajahnya.

Walau tak sering duduk berdampingan, setiap berkesempatan dekat, kami bercerita. Bagaimana memikat para perempuan muda agar mau peduli dengan sesamanya. Peduli pada kemajuan pendidikan perempuan tatar sunda. Peduli pada anak-anak generasi penerus di Jawa Barat. Bagaimana strategi membentuk kader secara berkelanjutan.

Teh, aku cukup satu periode saja menjadi ketua di daerah,” ku mulai curhat.

Ih, itu bagus jika memang sudah bisa ditinggalkan. Bisa mempercepat estafet kader, Teh,” paparnya.

“Tapi ingat, nggak boleh meninggalkan jika belum mempersiapkan dengan baik pengganti kita. Itu namanya dzolim pada organisasi.” lanjutnya.

Kami tergelak juga. Seperti pada waktu yang lalu. Serasa berada dengan jiwa yang sama, berada di jasad berbeda. Aku menatapnya diam-diam. Entahlah, ada rasa sedih menelisik sanubari. Perubahannya sangat drastis. Tetapi aku nggak berani menanyakan jenis penyakit apa yang dideritanya. Aku urung juga bertanya tentang itu, hingga muswil usai. Kami kembali ke daerah masing-masing.

***

“Mohon do’a nya, Teh Ela sedang sakit, dirawat di RSHS.”

Pesan dalam group WA mengagetkanku. Tak lama kemudian foto kondisinya di rumah sakit. Alat bantu pernafasan, infus dan perlengkapan mengerikan lainnya terpasang pada tubuh gadis itu. Hari berikutnya, pesan berupa do’a untuk gadis itu mengalir. Foto-foto bahkan video dikirim oleh akun WA dia. Tentu keluarganya yang mengirimkan.

Setalah ashar, terhenyak raga ini. Air mataku mengalir deras. Untaian do’a dan turut berduka terkirim terus menerus dalam grup WA. Sampai ahirnya ku menerima pesan video dan gambar saat gadis periang itu menghembuskan nafas terahir. Allohumagfirlaha warhamha wa’fuanha. Jihadmu dalam ujian sakit, semoga menjadi pengantar ke surga Nya.¬†¬†(Neni Nurachman: guru SMA Pesantren Cintawana Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat)