Indonesia Krisis Tenaga Ahli Keamanan Siber

JAKARTA, MENARA62.COM – Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat satu sisi memberikan banyak manfaat. Tetapi seiring dengan itu, muncul ekses negatif yang kini mulai dirasakan oleh Indonesia sebagai negara paling’ramai’ berkicau di dunia maya.

Berita hoax merajalela, kejahatan siber meningkat dan peretasan akun media sosial tak bisa dihindari termasuk munculnya serangan hacker. Jika kondisi tersebut tidak diantisipasi, jelas bisa mengancam kesatuan dan ideologi bangsa Indonesia, rusaknya hubungan diplomatik antar bangsa serta tumbuhnya paham-paham radikal bahkan ambruknya sistem ekonomi dan sosial bangsa.

“Dunia maya memberikan ekses sedemikian hebat, mempengaruhi hampir semua sendi kehidupan manusia saat ini,” papar Tim Beresford, Chief Operating Officer & Deputy Vice-Chancelor Macquarie University- Sydney, Australia di sela media gathering kemarin.

Karena itu menurut Tim Beresford, Indonesia harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kuat dibidang Keamanan Siber. Seperti halnya China yang kini sudah memiliki 18 ribu polisi Keamanan Siber, dan Korea dengan ribuan ahli Keamanan Siber.

Tanpa didukung SDM yang kuat dibidang Keamanan Siber, Indonesia selamanya akan menjadi negara yang sangat rawan kejahatan siber dan kasus-kasus hacker. Contoh paling gampang adalah kasus penyadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kasus peretasan website miliki operator Telkomsel dan Indosat baru-baru ini dan lainnya.

“Indonesia, data tahun lalu baru memiliki 18 polisi yang punya keahlian dibidang keamanan siber ini. Kondisi ini jelas sangat tidak menguntungkan Indonesia yang memiliki populasi padat dan tingkat penggunaan internet yang sangat tinggi,” lanjut Tim Beresford.

Bagi Tim Beresford, keberadaan SDM dibidang Keamanan Siber ini sangat penting untuk Indonesia. Mengingat dalam program pembangunan nasionalnya, salah satu kebijakan Presiden Jokowi adalah meningkatkan penggunaan e-commerce.  Ini tentu harus didukung oleh SDM yang kuat, sehingga masyarakat yang mengakses e-commerce merasa aman dan nyaman, tidak takut uangnya akan hilang.

Untuk mendukung kebutuhan SDM Keamanan Siber, Universitas Macquarie diakui Tim Beresford menawarkan beasiswa bagi pelajar Indonesia. Beasiswa senilai Rp 15 miliar rupiah tersebut tidak hanya untuk bidang Keamanan Siber, tetapi juga program studi lain di Universitas Macquarie seperti Aktuaria dan Analitik, serta program studi Hukum Lingkungan.

“Beasiswa kami tawarkan baik untuk level sarjana maupun pasca sarjana. Kami ingin membantu penyediaan SDM yang saat ini memang sangat dibutuhkan Indonesia,” tukas Tim Beresford.

Diakui Tim, keamanan siber saat ini menjadi salah satu prioritas keamanan nasional Australia. Karena itu banyak universitas di Australia yang membuka jurusan Keamanan Siber dengan program studi diantaranya keamanan siber, terorisme, kejahata terorganisir, dan pengendalian pembrontak.

Para pakar memperkirakan setidaknya ada satu juga lowongan pekerjaan dibidang Cyber Security yang saat ini tidak terisi. Sehingga lulusan program study Ciber Security tidak perlu khawatir terkait pekerjaan baik di dalam maupun luar negeri. Mengingat kebutuhan untuk tenaga kerja ini sangat banyak.