Akan Kemana Pendidikan Indonesia Bila Anggaran Pendidikan Turun ?

Kualitas suatu bangsa ditentukan pendidikan. Sedangkan pendidikan ditentukan kualitas guru. Pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan kualitas guru, salah satunya melalui program pendidikan profesi guru.

Guna menggiring laju pengembangan profesi guru dan perkembangan pendidikan di Indonesia. Inilah yang mencuat dalam seminar nasional pendidikan bekemajuan yang diselenggarakan Program Studi PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Himpunan Dosen PGSD Indonesia wilayah Jawa.

Seminara yang mengangkat tajuk “Arah Pengembangan Profesi Guru dan Perkembangan Pendidikan di Indonesia ini, dilaksanakan pada Sabtu (13/5/2017) di Auditorium Moh Djazman. Seminar nasional ini menghadirkan pembicara kunci Prof  Dr Djaali beserta dua narasumber pendidikan yang handal yakni Dr Suryanti dan Prof Dr Harun Joko Prayitno.

Menurut Prof Dr Djaali, ketua Perhimpunan Lembaga Penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PLPPGI), program pengembangan profesi guru mencakup empat aspek; pertama, sistem seleksi komprehensif untuk mendapatkan calon guru yang unggul secara akademik, bakat-minat, kepribadian. Kedua, pola pendidikan akademik (S1) yang bermutu melalui penguatan akademik kependidikan dan akademik bidang studi. Ketiga, sarjana pendidikan mendidik di daerah 3T. Keempat, pendidikan profesi guru berasrama dan berbeasiswa untuk menguatkan bekal calon guru profesional yang berkarakter, tangguh, tanggap, tanggon, terampil, dan trengginas.

Untuk calon guru profesional tersebut, narasumber kedua, Prof Dr Harun Joko Prayitno, ketua Asosiasi LPTK

Pemateri berfoto bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta Dr Sofyan Anif MSi

Perguruan Tinggi Muhammadiyah, meminta pemerintah merekrut dari sarjana kependidikan, karena mengajar bukan semata-mata menguasai materi, tetapi seni, kemampuan menyampaikan materi (delivery) secara komprehensif sesuai perkembangan kognitif peseta didik. Calon guru, adalah orang yang sejak awal telah berkomitmen untuk mewakafkan dirinya untuk kepentingan anak didiknya, bukan karena peluang mencari pekerjaan setelah menyelesaikan studi kesarjanaanya.

Sedangkan Dr Suryanti, MPd, Ketua Himpunan Dosen PGSD Indonesia melihat, kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Ini didasarkan hasil nilai PISA (Programme for Internasional Student Assessment) siswa Indonesia yang dilakukan tahun 2015, yang dirilis pada bulan Desember 2016. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan Indonesia adalah kualitas guru yang rendah, dilihat dari nilai UKG, keterbatasan akses pendidikan, fasilitas yang kurang memadai, dan banyaknya kasus putus sekolah.

Pada akhir diskusi seminar disimpulkan, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan komitmen pemerintah secara penuh. Tetapi bila melihat anggaran pendidikan Indonesia, menurut salah satu penelitian peserta, anggaran pendidikan terus turun setiap tahunnya. Bila ini yang terjadi, maka sulit berharap terjadinya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia secara cepat.