MEXICO, MENARA62.COMMuhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang diwakili oleh Rahmawati Husein Wakil Ketua MDMC turut menjadi bagian Delegasi RepubIik Indonesia (RI) yang dipimpin Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  dan dihadiri oleh Ketua Komisi VIII DPR RI dalam pertemuan Global Platform Pengurangan Risiko Bencana yang bertempat di Cancun, Mexico pada 22-27 Mei 2017.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 6000 peserta dari 185 negara dengan beberapa side event  yang masing-masing event dengan kajian topik tententu. Side event bertema “Removing Barriers And Promoting Public-Private Cooperation In Disaster Risk Reduction”, atau membangun kerjasama lebih baik antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil untuk pengurangan risiko bencana diselenggarakan oleh MIKTA forum multilateral negara-negara Mexico, Indonesia, Korea, Turki dan Australia, seperti dilansir situs Muhammadiyah.or.id.

Side event ini, berlangsung pada 25 April 2017 di Expo 4 Moon Palace Arena Cancun Mexico. Side event tersebut menindaklanjuti kerangka kerja Sendai periode tahun 2015-2030 mengenai pentingnya penguatan lokal termasuk masyarakat sipil dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Hadir lima panelis untuk membahas topik bersama-sama, diantaranya adalah Rahmawati Husein, Robert Thickner (Ambasador  Australia Bussines Roundtable For Disaster Resitence and Safer Communities), Luis Gomez Shanchez (President of The Stering Council  National Center For Suport To Epidemiological Contingencies and Disaster (Cenaced) Meksiko), Mustafa Ozhan Yagci (Co-Founder Global Risk Management (GRM) Iletism Ltd  Turkey), dan Thomas Loster (Chairman  Munich Re Foundation).

Rahmawati Husein menyampaikan, pada side event dengan topik pembahasan “Removing Barriers And Promoting Public-Private Cooperation in Disaster Risk Reduction” diawali dengan pernyataan R Thickner terkait upaya membangun kerjasama pemerintah dengan swasta dan masyarakat sipil untuk Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dengan memberikan motivasi untuk meningkatkan kepedulian  pembisnis agar terlibat dalam PRB.

Selain itu, Rahmawati Husein juga menyampaikan pernyataanya terkait langkah manajemen bencana di Indonesia untuk dapat memperkuat kerjasama antara tidak hanya pihak swasta saja tetapi juga dengan organisasi masyarakat sipil.

“Dalam membangun kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil perlu dilakukan secara menyeluruh dan terus menerus. Sebagai contoh, Muhammadiyah membangun budaya PRB melaui Rumah Sakit Aman Bencana (RSAB) dengan program Kesiapsiagaan Rumah Sakit dan Kesiapan Masyarakat untuk Kedaruratan dan Aman Bencana (Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED) Program),” ujar Rahmawati.

Rahmawati juga menjelaskan, HPCRED Program telah mendorong semua pihak dalam hal ini pemerintah yang diwakili Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), RS sebagai pihak swasta non profit, serta lembaga profesi seperti Komite Akreditasi RS, Assosiasi RS, serta masyarakat  untuk bersama-sama membuat platform baik di tingkat nasional maupun tingkat daerah.

“Kerjasama tersebut tidak hanya berupa kata-kata tetapi menghasilkan kebijakan dan melakukan upaya peningkatan melalui pembuatan modul pelatihan hingga mengujinya melalui simulasi di lapangan,” ujarnya.

Terakhir, Rahmawati menyampaikan, untuk mewujudkan kerjasama memerlukan kepercayaan. “Seperti yang disampaikan oleh panelis lain, terkait pentingnya membangun kepercayaan antara pihak swasta dengan pemerintah dan masyarakat karena seringkali pihak swasta tidak dipercaya. Swasta seringkali dianggap mencari kepentingan swasta sendiri,” ujar Rahmawati.