Sebagai istri, sosok perempuan lemah lembut ini memiliki peran yang tidak kalah hebat dibanding dengan sang suami. Nyai Ahmad Dahlan -bernama kecil Siti Walidah- termasuk dalam kelompok perempuan pertama pejuang pergerakan kaumnya. Perjuangan yang selaras dengan keinginan Kiai Haji Ahmad Dahlan untuk memajukan perempuan.

Seiarah mencatat bahwa Nyai Ahmad Dahlan adalah pendiri sekaligus pemimpin organisasi “Sopo Tresno”, pergerakan perempuan pertama di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1911 dan secara langsung berada di bawah bimbingan Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Mendorong kaum perempuan untuk bergerak maju bisa diartikan sebagai upaya untuk mengangkat harkat mereka. Dan, tentunya juga agar tidak tertinggal dengan laki-laki. Salah satu caranya dengan meninggalkan kebiasaan kolot.

Sudah pasti pekerjaan ini tidaklah mudah. Apalagi harus berhadapan dengan generasi tua yang menganggap sepak terjang beliau sebagai tindakan melanggar kesusilaan dan keutamaan perempuan. Bagi mereka, wanita adalah konco wingking (teman di belakang atau di dalam rumah).

 

Anggapan, celaan, dan rintangan tak membuat Nyai Ahmad Dahlan gentar. Justru beliau semakin bersemangat. Bersamanya terbukti aktivitas perempuan menjadi terwadahi. Terlebih setelah ‘Aisyiyah didirikan pada 22 April 1917.

Landasan gerakan ‘Aisyiyah tidak terlepas dari hakikat seorang perempuan. Pemikiran dan gerakan yang dikembangkannya tetap berpedoman pada kodrat perempuan, sebagai istri dan ibu. Bekal pemahaman ini didapat Nyai Ahmad Dahlan dari orangtuanya.

Masih terkait soal perempuan, Nyai Ahmad Dahlan juga dikenal dengan pemikirannya yang sangat fenomenal. Beliau menentang praktik kawin paksa dan kawin di usia muda. Menurutnya, pernikahan pada usia muda relatif kurang memiliki konsep matang dalam mendidik anak.

Semasa remaja, Nyai Ahmad Dahlan adalah putri pingitan. Pergaulannya terbatas, tidak bebas lepas. Bahkan, beliaupun tidak sempat mengenyam sekolah formal.

Pelajaran yang beliau peroleh adalah mengaji Alquran dan praktik ibadah. Seperti umumnya anak-anak perempuan Kauman kala itu. Karena, kepatuhan menjalankan agama dan ketekunan beribadah menjadi yang terpenting bagi masyarakat di kampung santri tersebut.

Meski demikian, Nyai Ahmad Dahlan nyata sangat peduli dengan pendidikan. Utamanya bagi kaum perempuan. Malah, beliau dikenal dengan rumusan konsep “catur pusat”. Sebuah formula pendidikan yang menyatukan empat komponen: keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan ibadah.

Kepeduliannya inipun kemudian diwujudkan. Pada tahun 1918, beliau berinisiatif membangun sebuah asrama untuk para siswi yang ingin menyempurnakan pendidikan formal mereka. Pondok pertama ini berlokasi di rumahnya sendiri. Di tempat ini pula, Nyai Ahmad Dahlan memberikan pelajaran agama, keterampilan keputrian, dan berpidato.

Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946. Salah satu pesan beliau yang patut diingat adalah: “Saya titipkan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kepadamu sebagaimana KHA Dahlan menitipkannya. Menitipkan berarti melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia yang berdasarkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan“. (hal 9)

 

Sumber: 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi  (Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2014)