Kiai Haji Ibrahim tidak lain adalah adik Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan. Putra Kauman yang lahir pada 7 Mei 1874 ini pernah selama 7-8 tahun menetap di Mekah untuk belajar ilmu agama.

Suatu ketika, dalam keadaan sakit, Kiai Haji Ahmad Dahlan berpesan agar tongkat kepemimpinan Muhammadiyah selanjutnya dipercayakan kepada Kiai Haji Ibrahim. Sayangnya, sang adik ipar menolak. Alasannya saat itu, karena merasa tidak mampu.

Namun, setelah sang pendiri Muhammadiyah wafat, akhirnya mau tidak mau beliau menerima amanah tersebut. Pada Kongres Muhammadiyah ke-14 (Maret 1923) di Yogyakarta, Kiai Haji Ibrahim resmi menjadi Voorzitter Hoofbestuur (Ketua Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Hindia Belanda (sebutan Indonesia saat itu).

Selama sepuluh tahun kemudian, berturut-turut dalam setiap kongres, Kiai Haji Ibrahim terus terpilih kembali. Beliau memang sosok ulama pemimpin pemegang teguh tanggungjawab yang diamanahkan kepadanya.

Banyak perkembangan yang dihasilkan oleh Kiai Haji Ibrahim semasa menjabat sebagai pimpinan Muhammadiyah. Salah satu yang menonjol adalah didirikannya Fonds Dachlan pada tahun 1924. Lembaga ini dibangun dengan tujuan untuk mengumpulkan beasiswa bagi anak-anak orang miskin.

Pencapaian lain yaitu terbentuknya Majelis Tarjih yang bertugas mengkaji masalah keagamaan. Majelis ini dimaksudkan untuk mempersatukan umat Islam di seluruh dunia. Sebagaimana yang selalu menjadi pemikiran Kiai Haji Ahmad Dahlan: umat Islam mesti bersatu, untuk mempersatukan umat Islam, mesti dipersatukan terlebih dahulu pemikirannya tentang agama Islam, termasuk pemahaman yang benar tentang ajaran-ajaran agama Islam. (hal 12)

Pada masa kepemimpinannya pula, mulai dirintis dan dikembangkan keberadaan Nasyiatul ‘Aisyiyah (organisasi otonom untuk putri) dan Pemuda Muhammadiyah. Beliau juga menggagas pengiriman putra-putri lulusan sekolah-sekolah kader Muhammadiyah ke berbagai daerah untuk berdakwah. Para kader ini kemudian dikenal dengan Anak Panah Muhammadiyah.

Berdirinya koperasi Adz-Dzakirat pun tak luput dari peran Kiai Haji Ibrahim. Melalui koperasi ini dilakukan upaya penggalian dana untuk kegiatan ‘Aisyiyah, PKO, Bagian Tabligh, dan Bagian Taman Pustaka.

Dalam aktivitasnya sebagai guru mengaji, beliau dikenal dengan metode sorogan dan weton. Sorogan adalah cara mengajar mengaji seorang demi seorang. Sedangkan weton merupakan pengajaran dimana sang guru membaca dan menjelaskan tentang kitab tertentu, sementara para santri mendengarkan dan memperhatikan melalui kitab masing-masing.

Kiai Haji Ibrahim wafat pada 13 Oktober 1932, dalam usia yang relatif muda, 46 tahun. Sebelumnya, di tahun yang sama, pada Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar diputuskan penerbitan dagblaad (surat kabar) yang kemudian diberi nama “Adil”. Pencapaian jelang akhir masa kepemimpinan beliau.

Satu hal yang juga diingat dari masa kepemimpinan Kiai Haji Ibrahim adalah keputusan penyelenggaraan salat Idul Adha dan Idul Fitri di lapangan. Pelaksanaannya masih terus berjalan hingga kini.

 

Sumber: 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2014)