Kiai Haji Hisyam adalah salah satu murid langsung Kiai Haji Ahmad Dahlan. Beliau lahir di Kauman, Yogyakarta pada 10 November 1883. KH Hisyam terpilih untuk memimpin Muhammadiyah selama tiga tahun berturut-turut (1934-1936).

Ada tiga aspek yang paling menonjol dalam kepemimpinan KH Hisyam, yaitu manajemen, administrasi organisasi, dan pendidikan. Bahkan, pengembangan pendidikan Muhammadiyah mencapai sukses pada masa kepemimpinan beliau.

Pendidikan, bagi KH Hisyam, merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Umat Islam akan maju jika pendidikannya juga maju. Dan, untuk mencapai tujuan ini maka pola pendidikan Muhammadiyah harus diubah.

Langkah yang kemudian diambil oleh KH Hisyam adalah mengeluarkan kebijakan yang mengarah pada modernisasi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Kebijakan ini bertujuan agar pencapaian pendidikan Muhammadiyah selaras dengan sekolah-sekolah yang didirikan pihak kolonial.

Setelah memenuhi segala persyaratan yang berat, akhirnya banyak sekolah Muhammadiyah yang mendapat pengakuan dan persamaan dari pemerintah kolonial. Muhammadiyah tidak hanya berhasil memiliki sekolah-sekolah berkualitas, tetapi juga dapat memelihara pendidikan agama Islam.

Sekolah-sekolah yang berhasil dibangun Muhammadiyah adalah sekolah dasar 3 tahun (Volkschool atau sekolah desa) dan sekolah lanjutannya (Vervolgschool). Pada perkembangannya, kedua sekolah tersebut menjadi sekolah yang sama dengan Standardschool yang didirikan Belanda dengan masa studi 6 tahun.

Keberhasilan lain yang tidak kalah penting adalah mendirikan Hollands Inlandse School met de Qur’an Muhammadiyah. Sekolah ini bisa disetarakan dengan Hollands Inlandse School met de Bijbel yang dibangun oleh orang-orang Katolik.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah tersebut juga menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Karenanya, Muhammadiyah merupakan lembaga pendidikan pribumi yang kemajuannya dapat menyamai sekolah-sekolah baik milik pemerintah Belanda maupun yang dikembangkan oleh misionaris Katolik dan Protestan.

Namun, upaya keras KH Hiysam dalam mengembangkan pendidikan Muhammadiyah sempat mendapat kritikan. Penyebabnya karena beliau menerima bantuan keuangan dari Belanda. Meski, jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan bantuan yang diberikan untuk sekolah-sekolah Kristen.

Tentunya keputusan kooperatif yang diambil oleh KH Hisyam bukan tanpa alasan. Dengan bijak, beliau menjelaskan bahwa subsidi yang diberikan adalah juga berasal dari pajak yang dipungut dari rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Bagi beliau, lebih baik menerima daripada menolak. Dengan menerima, Muhammadiyah dapat memanfaatkan subsidi tersebut untuk memajukan pendidikan agar bangsa Indonesia menjadi cerdas. Jika bantuan ditolak, maka akan dialihkan untuk sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah kolonial. Sudah pasti ujung-ujungnya tentu hanya akan memperkuat kolonialisme Belanda atas Indonesia.

KH Hisyam memperoleh penghargaan bintang tanda jasa Ridder Orde van Oranje dari pemerintah Hindia Belanda saat itu. Beliau dinilai telah banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan pendidikan Muhammadiyah. KH Hisyam wafat pada 20 Mei 1945.

 

Sumber: 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2014)