OSLO, NORWEGIA, MENARA62.COM — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin ikut meluncurkan Interfaith Rainforest Initiative (Prakarsa Lintas Agama utk Pelestarian Hutan), di Oslo, Norwegia, Senin (19/6/207). Acara yang mengambil tempat di Markas Nobel Perdamaian (Nobel Peace Centre) itu dihadiri oleh Raja Norwegia, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia, Wali Kota Oslo, dan seratusan peserta yang terdiri dari tokoh agama, ilmuan, dan aktifis Lingkungan Hidup dari berbagai negara di dunia, al wakil Vatikan, Dewan Gereja Sedunia, Sekjen Religions for Peace, Norwegian Rainforest, UNDP, Parliament of World Religilns, Green Faiths, dan para tokoh LSM LH Dunia lainnya. Dari Indonesia ikut hadir Dr. Zainal Bagir (UGM), Abdon Nababan (AMAN), dan Aziz Asman (Institut Naladwipa).

Din Syamsuddin, yang juga Ketua Dewan Pengarah Gerakan Nasional Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi, mendapat kehormatan berbicara pada Sesi Peluncuran bersama para wakil dari agama2 lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dan Agama Tradisi. Sesi yang dipandu Bishop Gunnar Stalsett, Presiden Tokoh Lintas Agama se Eropa dan Anggota Komite Nobel Perdamaian, berlangsung dengan penyampaian pandangan dan pesan masing2 agama untuk pelestarian Lingkungan Hidup.

Din Syamsuddin, yang mewakili Islam, menyampaikan pandangan Islam tentang solusi terhadap krisis Lingkungan Hidup yangg dianggapnya sebagai krisis moral, maka perlu diatasi dengan pendekatan nilai moral dan etika keagamaan. Menurut Din Syamsuddin, Islam adalah “agama alam semesta” (Religion of Nature) dan ada 750 ayat dalam al-Qur’an berbicara tentang alam, pelestarian Lingkungan Hidup, dan pembangunan bumi.

Kosmologi Islam

Sesungguhnya, alam itu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Suci, mengandung kesucian dan memiliki jiwanya tersendiri. Kosmologi Islam menjelaskan, lanjut Din Syamsuddin, bahwa ada korespondensi segitiga antara Tuhan-Manusia-Alam, selain ada analogi antara manusia dan alam sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Maka perlu ada harmoni dlm hubungan antara ketiganya.

Sebagai konsekwensi logis daripada pandangan teologis tadi, Islam, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, mengajarkan manusia untuk memuliakan alam. Al-Qur’an menggunakan istilah thabi’ah (subjek) bukan mathbu’ (obyek) utk alam. Menurut Din Syamsuddin, kerusakan dan krisis Lingkungan Hidup dewasa ini adalah karena manusia lebih memandang alam sebagai obyek daripada subyek yang berjiwa. Maka terjadilah eksploitasi bukan konservasi.

Tentang kerusakan dan pengrusakan yg menimpa hutan2 penampung hujan di banyak negara termasuk Indonesia, Din Syamsuddin mengimbau untuk segera dihentikan. Pengrusakan itu telah berdampak pada munculnya perubahan iklim dan pemanasan global. Dalam pidatonya, Din Syamsuddin memberi apresiasi kepadaPemerintah Indonesia yang memberi perhatian terhadap pelestarian Lingkungan Hidup dan hutan tropis. Untuk itu, menurut Din Syamsuddin, perlu ditingkatkan kolaborasi antar agama dan antara umat beragama dngan pemerintah dalam melestarikan Lingkungan Hidup, khususnya hutan tropis, di Indonesia yang merupakan salah satu paru-paru Dunia yang penting. Din Syamsuddin menjanjikan akan mendorong Siaga Bumi untuk lebih aktif bergerak melakukan upaya2 pelestarian hutan tropis melalui program-program konservasi dan restorasi