Temu media kesehatan tentang kesehatan tulang belakang di RS Premier Bintaro. (ist)

JAKARTA, MENARA62.COM– Pernah mengalami nyeri pada pinggang secara tiba-tiba ketika berusaha mengangkat beban berat? Atau mungkin nyeri pinggang yang tiba-tiba muncul tanpa diketahui sebabnya?

Jangan abaikan keluhan nyeri pinggang yang datang mendadak. Boleh jadi tubuh Anda sedang mengirimkan sinyal tentang gangguan yang terjadi pada tulang belakang atau dalam dunia kedokteran biasa disebut LBP (Low Back Pain).

“Nyeri pinggang merupakan suatu keluhan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bagi si penderita. Siapapun berpeluang terkena nyeri pinggang tanpa mengenal umur dan jenis kelamin,” jelas DR dr Luthfi Gatham, SpOT (K)- Spine, dokter Spesialis Bedah Orthopedi Tulang Belakang RS Premier Bintaro di sela temu media belum lama ini.

Data menunjukkan sekitar 60 persen hingga 80 persen orang di seluruh dunia pernah mengalami nyeri pinggang paling tidak satu periode nyeri pinggang bawah selama hidupnya. Probabilitas tertinggi terjadi pada umur 40-50 tahun. Akan tetapi, bisa juga dijumpai pada remaja atau dewasa muda, berkaitan dengan cedera atau karena salah menggerakkan pinggang.

Beberapa faktor risiko terjadinya nyeri pinggang kata DR Luthfi sangat beragam, antara lain penggunaan otot pinggang berlebihan, pekerjaan yang menuntut fisik membungkuk, mengangkat beban berulang atau posisi duduk dan berdiri yang lama. Faktor resiko lainnya yaitu faktor kegemukan, postur yang kurang baik, dan tidur di kasur lembek.

Bagaimana mengenali gejalanya? DR Luthfi menjelaskan bahwa tanda bahaya untuk gangguan ini, misalnya ada gangguan buang air besar, buang air kecil, seksual, selangkangan terasa baal, atau nyeri menjalar ke bokong.

“Tanda bahaya lain, bila ada tanda-tanda keganasan, timbul nyeri sampai terkejut bangun pada malam hari, atau berat badan turun yang penyebabnya tidak diketahui. Jika terdapat keluhan seperti ini, maka sebaiknya segera berobat ke dokter spesialis orthopedi khusus tulang belakang,” lanjutnya.

 

MRI PLD sebelum dan sesudah operasi. (ist)

Hernia Nucleus Pulposus

Sebenanya banyak sekali penyebab nyeri pinggang. Bisa karena infeksi pada otot, atau tulang belakang, trauma atau benturan hebat pada tulang pinggang, kelainan tulang belakang dan sebagainya. Tetapi salah satu jenis nyeri pinggang yang banyak ditemukan adalah Hernia Nucleus Pilposus (HNP) atau biasa dikenal masyarakat sebagai ”syaraf terjepit”.

“Gangguan ini terjadi karena penonjolan bantalan sendi tulang belakang yang menjepit syaraf,” jelas dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K) Spine, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Tulang Belakang RS Premier Bintaro.

Akibatnya, timbul rasa nyeri yang sangat luar biasa, panas, ngilu, kesemutan, sampai terasa seperti kesetrum. Rasa sakitnya menjalar ke bawah hingga betis atau jari kaki.

Menurutnya penyebab HNP ini bermacam-macam seperti merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, cara mengangkat barang yang salah, dan lain-lain.

Bila masih ringan, HNP bisa diatasi cukup dengan obat dan berolah raga. Misalnya, berenang, pilates, dan yoga dengan konsentrasi di area tulang belakang.

Cara lain, dengan menjalani fisioterapi. Termasuk memperbaiki posisi duduk dan tidur pun bisa mengatasi nyeri pada pinggang. Jika cara-cara tersebut tidak mampu mengatasi rasa nyeri, bisa dengan suntikan atau laser. Jika hasil non operatif tersebut tidak memberikan hasil, barulah melakukan operasi.

Diakui dr Harmantya, banyak orang yang meremehkan rasa nyeri di bagian pinggang yang menjalar kekaki dan berharap akan hilang dengan sendirinya. Padahal, bila tidak tertangani dengan tepat, nyeri pinggang yang semakin berat dapat menyebabkan pembengkokan tulang belakang.

Dalam hal operasi, RS Premier Bintaro mengedepankan metode Minimal Invasive Spine Surgery yang lebih unggul dalam hal luka yang lebih kecil, cidera pada otot yang minimal, perdarahan yang minimal, derajat komplikasi dan infeksi yang lebih ringan, nyeri pasca operasi yang minimal dan waktu pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang lebih singkat.

“Logikanya, dengan sayatan yang minim rasa sakit akan jauh lebih ringan. Dengan begitu pemulihan akan lebih cepat. Waktu stay di rumah sakit juga akan lebih singkat, dampaknya biaya yang dikeluarkan pun akan menjadi lebih murah,” tutup dr. Harmantya.