Menghadirkan Indonesia Lewat Sastra

JAKARTA, MENARA62.COM–Pada zaman Orde Baru berkuasa, banyak karya sastra yang dianggap menentang kekuasaannya dilarang ditampilkan di muka umum atau tidak boleh diterbitkan dalam bentuk apapun. Salah satu dari sekian karya yang dilarang diterbitkan adalah karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pram pada masa hidupnya banyak melahirkan karya gemilang yang dilarang terbit pada masa Orde Baru berkuasa.

Lewat keberaniannya, penerbit Hasta Mitra merupakan penerbit progresif yang pertama kali menerbitkan karya-karya Pram pada masa Soeharto. Seiring perputaran waktu, karya-karya Pram pun tidak hanya diterbitkan, tetapi diterjemahkan ke berbagai bahasa di berbagai negara, termasuk Dr. Max Lane, kritikus sastra asal Australia yang sering bercengkerama dengan Pram semasa hidupnya.

Max Lane adalah orang pertama yang memperkenalkan karya-karya Pram kepada dunia pada zaman represi Soeharto. Ia menerjemahkan tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Penguin Australia, United Kingdom, dan Amerika.

Max Lane adalah salah seorang yang seringkali berdiskusi dengan Pram semasa hidupnya. Dari hasil pergumulannya lewat diskusi dan beragam terjemahan tersebut, lahirlah sebuah buku yang berjudul “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia” diterbitkan oleh penerbit Djaman Baroe Yogyakarta, 2017 dan diluncurkan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pada peluncuran dan diskusi buku tersebut, Max Lane banyak bercerita sekaligus mengulas sejarah hidup sang sastrawan semasa hidupnya. Ia selalu ingat apa yang dikatakan Pram tentang pentingnya berorganisasi terutama begi para pemuda.

“Saya harap, satu atau dua tahun bahkan lima tahun lagi akan lahir Pram-Pram muda Indonesia,” ujar Max Lane di sela-sela diskusinya. Diskusi yang dimoderatori oleh Linda Christanty tersebut membawa hadirin membaca kembali sebagian sejarah Indonesia yang dihadirkan lewat karya-karya sastra, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer.