Bonus Demografi dan Perkembangan Teknologi Perlu Disikapi Bijak

Wakil Ketua PWM DI Yogyakarta

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Untung Cahyono, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta mengungkapkan, bonus demografi Indonesia, karena jumlah usia produktif lebih banyak ketimbang usia tidak produktifnya, dan perkembangan teknologi informasi perlu disikapi dengan bijak.

“Usia muda dan produktif lebih banyak, itu merupakan keuntungan bangsa. Kalau dilihat dari cita dan fakta dalam kaca mata Islam, komposisi masyarakat seperti ini, ya kondisi ini mungkin ideal, ada ketidakseimbangan,” ujarnya ketika mengawali diskusi Kajian Angkatan Muda Muhammadiyah yang mengangkat tema Islam Indonesia: Antara Cita dan Fakta di Yogyakarta, Rabu (15/11/2017).

Kondisi masyarakat saat ini, menurut Untung Cahyono, banyak menghadapi masalah sosial yang perlu ditangani dengan serius. “Saat ini, kita idealnya tidak banyak penganguran, tersedia lapangan kerja yang memadai, sehingga ummat Islam tidak menganggur, kehidupannya tidak sengsara dan susah. Namun, fakta kehidupannya tidak seperti itu,” ujarnya.

Di Jogja ini saja, menurut Untung Cahyono, ada tiga perguruan tinggi Muhammadiyah yang besar dan dua diantaranya bahkan sudah terakreditasi A yaitu UAD dan UMY. Tinggal Unisa yang memang masih baru dan belum mendapatkan terakreditasi A.

“Bayangkan, jika salah satu prodi yang populer saat ini adalah prodi PAUD. Idealnya, lulusannya akan bekerja mengajar di PAUD. Jika PAUD ini, setiap tahunnya meluluskan 70 orang, maka ada 210 orang. “Itu baru di PTM, kalau ditambah perguruan tinggi swasta lainnya yang ada di Yogyakarta saja, bisa ada dikisaran 500-1000 orang lebih lulusannya. Bagaimana kalau sekolah PAUD tidak bertambah, sehingga kebutuhan guru PAUD juga tidak ada, trus para lulusan baru PAUD ini mau kemana,” ujarnya.

Begitu juga kondisi lulusan jurusan lain, bahkan lulusan kedokteran sekalipun. “Saat ini dokter diprediksi sudah terlalu banyak, meski saat ini banyak wilayah yang sebetulnya kekurangan dokter. Namun, kalau PTM akan membuka jurusan kedokteran tidak diizinkan karena jurusannya sudah terlalu banyak, dan lulusannya juga sudah banyak. Lantas lulusan sarjana, orang-orang terdidik ini mau ditumpuk dimana,” ujarnya.

“Apa ya mungin, dokter banting stir jadi blantik sepeda atau agen pulsa. Belum lagi jika terpengaruh kemajuan dunia teknologi dan informasi. Kondisi inilah yang saya kira harus dipikirkan dengan serius,” ujar Untung yang mengajak kader Muhammadiyah untuk selalu mencermati perkembangan masyarakat agar bisa mengambil keputusan yang tepat.