BANGKALAN, MADURA, MENARA62-COM — Kejutan manis tengah dirasakan oleh sejumlah peserta peluncuran buku antologi “Ini Baru Cipo” Kumpulan Reportase Citizen Reporter Harian Surya di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Ahad (26/11/2017). Pasalnya, pada peluncuran buku itu terdapat peluncuran titipan atau nebeng pada acara tersebut. Buku yang ikut diluncurkan pada peluncuran tersebut adalah sebuah novel karya Mulyanto berjudul “Bidadari Pemetik Bianglala.” Para peserta tidak menyangka akan ada kejutan pada peluncuran buku “Ini Baru Cipo” sehingga mereka pun merasa mendapat kejutan yang tidak disangka sebelumnya.

Pada acara tersebut, Mulyanto yang juga Staf SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (MUdipat) dan salah seorang kontributor di Surat Kabar itu tak hanya menguliti novelnya secara singkat. Tapi juga membacakan puisi membahananya yang dipersembahkan untuk hari guru di tengah-tengah audiens lintas profesi di dalam aula rektorat lt. 9 itu. Acara yang diselenggarakan itu mengusung tema Viralkan Karyamu.

Dijelaskan Mulyanto, novel keduanya masih senapas dengan novel pertama yang berjudul “Istighfar Cinta”. Keduanya diimbuhi judul “Novel Pewaras Hati”. Katanya sebagai jamu mewaraskan hatinya sendiri dan keluarga, dan juga mewaraskan hati yang berkenan membacanya.

“Novel manis Bidadari Pemetik Bianglala adalah kisah cinta sederhana seorang sarjana muda anak petani dari Sumenep kepada bunga desa anak juragan tembakau dari Pamekasan Madura,” jelasnya.

Dibeberkan, bahwa Hamdu tokoh pada novelnya usai wisuda yang hanya “punya” Allah karena belum punya pekerjaan dan penghasilan tetap akhirnya mantap hati menikahi Anna sang gadis desa yang sudah jadi dokter bekerja di RS negeri dan menetap di Surabaya.

“Maha Kasih Allah, Hamdu pada hari pernikahannya diberi kado oleh Allah, pekerjaan sebagai staf Pertamina di Jagir Surabaya,” ungkap Mulyanto.

Hamdu mencurahkan cintanya dengan sederhna lewat kata-kata puitis dan lewat selarik memo yang ditindihi mawar di meja makan mereka. Maksudnya bila Anna mendapatinya saat membereskan meja makan, Hamdu yang sudah berangkat kerja berharap Anna mesem bahagia.

“Misal yang begini: Bahagia itu sederhana. Jika Pangeran William dan Kate Middleton perlu menunggangi kereta kencana untuk melukis bahagia. Kami hanya perlu naik becak untuk mewarnai hari dengan senyum dan canda mesra. I love U, permaisuriku Anna,” baca Mulyanto pada novelnya halaman 31-32.

Mulyanto menambahkan, menulis bukan urusan Bahasa Indonesia, tapi menulis adalah urusan kehidupan. Menulis untuk mengikat ilmu dan makna hidup. “Saya setiap hari menulis dan menaburnya di sosial media untuk menggugah saya pribadi dan yang berkenan membaca,” tandasnya. (Yuyu)