ASMAT, MENARA62.COM – Agar gizi buruk tidak kembali muncul di Kabupaten Asmat, Papua, Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan perlu antisipasi salah satunya dengan memperbaiki infrastruktur.

“Antisipasi, kita harus memperbaiki infrastruktur di daerah tersebut (Asmat), kalau tidak punya akses dan masih ada penduduk di situ, mereka tidak punya persiapan bahan makan,” kata Menkes Nila di Jakarta, Kamis (8/2).

Gizi buruk, tambah Menkes Nila, dipengaruhi karena pola makannya seperti apa, perilaku nya bagaimana, dan adanya infeksi. Secara geografis ketahan pangan di Asmat sangat kurang karena 90% tanahnya terdiri dari rawa.

“Mereka tinggal tersebar di 224 kampung, transportasi di sana hanya melalui air. Sulit untuk mencapai ke sana,” tambah Menkes Nila.

Kementerian Kesehatan dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Pertanian di bawah koordinasi Menko PMK memiliki rencana lanjutan terkait ketersediaan air bersih, sanitasi, dan ketahanan pangan di Asmat.

Terkait ketersediaan pangan melalui pemberdayaan masyarakat, tim Flying Health Care (FHC) sebelumnya telah membuat kolam ikan di Puskesmas di Distrik Kolf Braza ukuran 8×10 meter, pembagian biji dan menanam pohon kelor di sekitar Puskesmas Sawaerma sebagai percontohan.

“Di sana bagus untuk kelor, ini bisa dipakai barangkali kita budayakan, kemudian membuat kolam ikan, jadi ikan dan pohon kelor bisa dibudidayakan. Kelor itu bagus sekali hanya kita tidak mengenalnya aja,” ucap Menkes Nila.

Jumlah pasien gizi buruk dan campak kemarin (7/2) sebanyak 13 orang. Hari ini sebanyak 19 orang erdiri dari 2 kasus campak, 16 kasus gizi buruk dan 1 pasien campak dan gizi buruk.

“Kita membuat langkah-langkah lanjutan karena mereka sudah kembali ke kempungnya, dan ini harus terus memang diawasi juga karena ketahanan pangan penting. Mereka kembali ke sana (kampungnya) kalau tidak ada makanan bisa jatuh sakit lagi,” ujar Menkes Nila.