Jalan Terjal Penuh Harap dan Sesal

JAKARTA, MENARA62.COM — Dua kakak beradik itu, senantiasa menunggu kendaraan yang lewat dengan laju yang kencang di antara tebing terjal dan berkelok. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dan tua di antara tebing curam yang mereka hias dengan beragam gundukan tanah sisa-sisa orang yang mereka kubur di tebing itu. Saban waktu, mereka hanya menunggu kendaraan lewat di antara tikungan yang penuh kelokan, dan mengharapkan kendaraan itu tersungkur ke dalam jurang terjal, lalu mereka mengambilnya sebagai imbalan menunggu sepanjang waktu.

Rudel (Jusi), sebagai kakak ia harus bisa menaklukkan rimba perjalanan demi bertahan hidup bersama adiknya, Edelin (Avi). Mereka berdua telah lama hidup dan tinggal di antara tebing terjal dan mengais setiap ada kendaraan jatuh tersungkur ke dalam jurang di antara tebing itu. Rudel yang gagah seperti laki-laki dan Edelin sebaliknya. Mereka membagi tugas dalam menyelesaikan segala pekerjaan setiap dapat korban kendaraan lewat di tebing tersebut. Rudel akan memodifikasi kembali kendaraan yang hancur bahkan ringsek, sedang Edelin mengurus pengendaranya yang kemudian dikubur dan didata setiap identitasnya.

Setiap terjadi korban di tikungan terjal itu, Edelin selalu mencatat dan menulis surat gugatan yang kemudia ia kirim pada ketua dinas yang mengurus perbaikan jalan, dr. Klaris. Edelin sudah mencatat ada 24 korban kecelakaan di tikungan itu dan sudah 24 kali gugatan ia kirim. Pada akhirnya, gugatan itu kembali pada mereka yang masih setia menunggu kendaraan lewat dan tersungkur ke dalam jurang.

Penonton dibawa ke dalam rasa haru dan tawa oleh sikap kakak adik di atas panggung itu, yang dipentaskan oleh Teater Juvidji di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam (9/2/2018). Teater Juvidji merupakan sekumpulan teater yang terdiri atas mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka mementaskan naskah adaptasi Tikungan Maut karya Tankred Dorst, sutradara Indra Achoy.

Dua kakak beradik yang diperankan oleh Jusi sebagai Rudel dan Avi sebagai Edelin, membawa penonton pada gelak tawa dengan beberapa sikap konyol dan ngocol mereka di atas panggung. Penonton kian haru dengan kehadiran dr. Klaris (Djihan) sebagai korban ke-25 kecelakaan di tikungan itu, namun selamat. Hal itu menjadi kesempatan Edelin untuk menyampaikan segala kejadian yang telah terjadi di tikungan maut yang mereka anggap sebagai mata pencaharian. Namun, semua berakhir sama. Mati dengan cara dirampas kendaraannya, begitu juga dengan dr. Klaris yang juga mati di tangan mereka.