MPM Muhammadiyah Memberi Manfaat dan Menginspirasi Masyarakat

Haedar Nashir bersama Ketua MPM PP Muhammadiyah, Rektor UMS, Warek I UMS menwbuh kentongan sebagai tanda pembukaan Rakornas MPM PP Muhammadiyah di Surakarta, Sabtu (17/3/2018). (foto : heri purwata)

SURAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memberikan manfaat dan menginspirasi masyarakat. Hal ini menjadi modal bagi Muhammadiyah untuk mewujudkan Islam berkemajuan dan go internasional.

Haedar Nashir mengatakan hal itu pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) MPM PP Muhammadiyah di Gedung Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (17/3/2018).

Rakornas diikuti utusan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, MPM PP Muhammadiyah, seluruh pengurus dan konsultan, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadyah yang membidangi MPM se- Indonesia. Selain itu, Ketua dan Sekretaris MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Indonesia, Ketua MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) terpilih. Ikut diundang Ketua Kelompok Dampingan MPM PP Muhammadiyah, Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), dan Perwakilan Petani, Peternak, dan Nelayan dari Wilayah se-Indonesia.

Peserta Rakornas MPM PP Muhammadiyah dan Rembug Tani Berkemajuan di Surakarta, Sabtu (17/3/2018). (foto : heri purwata)

Lebih lanjut Haedar Nashir mengatakan Muhammadiyah periode 2015-2020 ingin mewujudkan Muhammadiyah berkemajuan. Upaya yang dilakukan membangun pusat-pusat keunggulan yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat.

“Muhammadiyah punya jiwa Islam berkemajuan, tidak hanya agama sebagai keyakinan, tetapi juga dinul amal yg membawa kemanfaatan pada umat. Seperti 12 Fakultas Kedokteran milik PTM mempunyai program untuk calon dokter dari daerah pinggiran,” kata Haedar.

Pusat keunggulan, kata Haedar, harus dibuktikan dengan gerak dakwah komunitas agar masyarakat bisa terlibat langsung. Gerakan MPM harus dapat menghadirkan Islam sebagai dinul amal yang transformatif.

“Dulu Muhammadiyah didirikan oleh KH A Dahlan ada empat unsur yaitu tabligh, pendidikan, taman pustaka, PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Ini menunjukkan inklusivitas Muhammadiyah dan praktek peran serta nyata Muhammadiyah. Kesempurnaan Islam tidak hanya dalam konsep tapi juga dalam amal nyata yang dapat membawa kepada perubahan, dinut taghyir,” katanya.

Agama kata Haedar, melahirkan pembebasan, dienut tahrir. PKO lahir untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan (dalam arti luas). Rasulullah Muhammad SAW pada dasarnya hadir untuk membawa kebebasan dari kegelapan, kebodohan, keterbelakangan dan lain-lain. Hal itu pula yang diteladani KH A Dahlan melalui gerakan Muhammadiyah.

Selanjutnya, Islam di antara agama lain perlu one step ahead untuk berkeadaban dan menjadi contoh terbaik untuk menyelesaikan persoalan bangsa. “Tidak hanya selesai dengan branding agama damai, friendly dan lain-lain. Tetapi Islam hadir sebagai agama yang mencerahkan yang membawa perubahan dan kemajuan bangsa,” tandasnya.

Sedang Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si mengatakan MPM merupakan majelis yang strategis untuk memberdayakan masyarakat. Pola pemberdayaan menekankan kemandirian, dan menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

“Bahkan berkat kiprah MPM membuat Muhammadiyah dikenal orang asing. Ketika saya menawarkan orang Swedia, Muhammadiyah menjadi pilihan pertama untuk kerjasama pendidikan dan rumah sakit,” kata Sofyan.

Sementara Ketua MPM PP Muhammadiyah mengatakan pemberdayaan bukan mesin organisasi. Tetapi pemberdayaan mengandung unsur sinergi dan strategi amal usaha untuk pemberdayaan masyarakat.

Sasaran pemberdayaan MPM meliputi buruh, nelayan, dhuafa yang di perkotaan, perdesaan dan daerah yang terjauh dan terpencil. “Pemberdayaan tidak pernah ada kata lelah dan berhenti. Selama masih ada rakyat menderita, tidak ada kata istirahat,” tandas Yamin.