Kemenkes Edukasi Bahaya TBC di Stasiun Kereta Api

JAKARTA, MENARA62.COM – Semua pihak dan anggota masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam gerakan TOSS (Temukan Obati Sampai Sembuh) TBC, sebagai upaya pencegahan dan pengendalian TBC. TOSS TBC adalah gerakan untuk menemukan pasien sebanyak mungkin dan mengobatinya sampai sembuh sehingga rantai penularan di masyarakat bisa dihentikan.

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada temu media, Rabu (21/03/2018) di Stasiun Kota, menyatakan bahwa penemuan kasus terus ditingkatkan secara intensif baik yang dilakukan fasilitas milik pemerintah maupun swasta.

“Kami juga melakukan pendekatan terpadu layanan TBC dengan layanan kesehatan lainnya serta dilakukan juga penemuan aktif melalui pendekatan keluarga. Upaya ini didukung dengan edukasi terus menerus melalui berbagai kegiatan dan media,” katanya.

Dukungan pihak di luar kesehatan diakui Anung sangat berarti bagi program pencegahan dan pengendalian penyakit TBC.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Drs. Zulmafendi, MSc menyampaikan pemanfaatan sarana transportasi publik, dalam hal ini adalah moda kereta-api, untuk edukasi TBC, dalam rangka mendukung upaya Pemerintah memberikan Edukasi TBC bagi masyarakat.

Tuberkulosis atau TBC sendiri merupakan penyakit lama yang masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular. Dunia pun masih belum bebas dari TBC.

Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia, namun baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus.

Mereka yang belum diperiksa dan diobati akan menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya. Hal ini yang menyebabkan seakan-akan masalah TBC tak kunjung selesai. Dunia ingin mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030 dan Indonesia turut berkomitmen mencapainya.

Besar dan luasnya permasalahan akibat TBC mengharuskan semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan pencegahan dan pengendalian TBC. Sebab kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi.

Dengan demikian TBC merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, karenanya perang terhadap TBC berarti pula perang terhadap kemiskinan, ketidakproduktifan, dan kelemahan akibat TBC.