UM Magelang Luncurkan Prodi S1 Komunikasi

Rektor UM Magelang (kanan) sedang mendengarkan paparan nara sumber pada seminar di Kampus UM Magelang, Selasa (20/3/2018). (foto : istimewa)

MAGELANG, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang meluncurkan Program Studi Stata Satu (S1) Komunikasi, Selasa (20/3/2018). Prodi ini masuk pada Fakultas Psikologi dan Ilmu Humaniora.

Dijelaskan Rektor UM Magelang, Ir Eko Muh Widodo MT, pihaknya telah menunggu kurang lebih 1,5 tahun turunnya Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) untuk pendirian Prodi S1 Komunikasi. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah yang telah mensupport UM Magelang,” kata Eko Muh Widodo di Magelang, Selasa (20/3/2018).

Lebih lanjut, Eko mengatakan UM Magelang juga sedang menunggu turunnya SK untuk tiga Prodi yaitu S1 Manajemen Informasi Kesehatan, S1 Sastra Inggris, serta Profesi Konselor. “Selain itu, UM Magelang juga tengah menyiapkan diri untuk dapat meraih akreditasi institusi dari BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi,red) dengan nilai A,” kata Eko.

Peluncuran Prodi S1 Komunikasi bersamaan dengan digelar seminar nasional ‘Peran Ilmu Komunikasi dan Media di Era Disrupsi.’ Seminar menghadirkan Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Prof. Dr. DYP Sugiharto M.Pd Kons sebagai keynote speaker. Sedang pembicara Prof Dr Widodo Muktiyo, SE, MCom, Wakil Rektor 4 Universitas Sebelas Maret (UNS) yang merupakan pakar ilmu komunikasi dan Amir Mahmud NS, SH, MH, Ketua PWI Jawa Tengah.

Prof Sugiharto mengatakan kemampuan berkomunikasi memegang peranan penting dalam kesuksesan seseorang. Saat memasuki dunia kerja, kemampuan berkomunikasi merupakan faktor sangat penting dan menempati urutan pertama. Sedangkan indek prestasi komulatif (IPK) menempati urutan 17.

“Ratusan ribu sarjana yang gagal masuk ke dunia kerja bukan karena IPK-nya rendah, tapi salah satu faktornya adalah karena kemampuan komunikasinya lemah,” Prof Sugiharto.

Selain itu, kata Sugiharto, kualitas perguruan tinggi tidak lagi ditentukan statusnya sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) atau perguruan tinggi swasta (PTS). Namun kualitas ditentukan dari status akreditasi institusi perguruan tinggi. “Oleh sebab itu memilih Prodi jangan asal ikut-ikutan. Pilih Prodi yang sudah terakreditasi,” pesan Sugiharto kepada peserta seminar yang sebagian besar guru dan siswa SMA/K di wilayah Karisidenan Kedu.

Sedangkan Prof Widodo Muktiyo mengungkapkan dalam menghadapi peradaban komunikasi, hidup harus multifungsi. Semakin seseorang dapat berperan dalam berbagai bidang, hidup akan semakin bermakna. “Ilmu komunikasi diminati karena pada dasarnya kebutuhan manusia sekarang adalah pada aktualisasi. Kebutuhan tidak lagi pada kebutuhan pokok semata yakni pangan dan sandang saja,” kata anggota Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah ini.

Saat ini, kata Widodo, dari 172 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM), sebanyak 22 PTM aktif dan tergabung dalam Asosiasi Pengelola Ilmu Komunikasi (APIK). Hal ini merupakan representasi publikasi promosi dan branding PTM.

Sementara Amir Mahmud dalam materinya berjudul Estetika Jurnalistik Melawan Ketercerabutan, mengatakan praktek jurnalistik sekarang cenderung bersifat simbolistik dan mengabaikan narasi. Hal tersebut tercermin dalam emoji yang menjadi simbol komunikasi zaman sekarang melalui emoticon.

“Pola penyajian yang tergesa-gesa serta tidak komprehensif antara temuan dengan verivikasi menjadikan berita tidak akurat. Oleh sebab itu menjadi tugas Prodi Ilmu Komunikasi untuk mengedepankan tulisan bermakna melalui narasi melalui estetika jurnalistik yang akuntabel serta mampu meningkatkan kepercayaan publik,” kata Amir.