Direktur Pembinaan Keluarga Kemendikbud, Sukiman. (inung)

JAKARTA, MENARA62.COM– Menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah bukanlah tindakan yang tepat. Sebab bagaimanapun juga, pendidikan menjadi tanggungjawab semua pihak, termasuk orangtua dan masyarakat.

“Tetapi yang banyak ditemukan ditengah masyarakat adalah seakan-akan pendidikan menjadi tanggungjawab penuh pemerintah melalui sekolah,” kata Direktur Pembinaan Keluarga Kemendikbud,  Sukiman, Kamis (22/03/2018).

Akibatnya banyak orangtua yang kurang peduli dengan masalah pendidikan anak. Mereka seolah hanya memiliki tanggungjawab memenuhi kebutuhan anak terkait sekolah. Konten dan pelaksanaan dari pendidikan itu sendiri dibebankan sepenuhnya kepada pihak sekolah.

Sikap seperti ini lanjut Sukiman jelas tidak tepat. Orangtua bahkan masyarakat bagaimana pun harus ikut memantau jalannya pendidikan bagi anak.

Sukiman mengingatkan radikalisme di lembaga pendidikan tidak tertutup kemungkinan masih ada. Bisa saja paham radikalisme justeru didapat dari guru. .

Karena itu, penting bagi orangtua untuk ikut memantau pendidikan. Caranya, ajak anak untuk mendiskusikan hal-hal yang terjadi di sekolah, hal-hal yang diajarkan oleh guru. Sehingga saat menemukan sesuatu yang aneh, misal paham radikal, orangtua bisa segera melakukan antisipasi.

Sukiman juga menyesalkan sikap masyarakat yang semakin tidak peduli dengan pendidikan anak-anak di sekitar mereka. Apa yang dilakukan anak, meski itu tidak baik, masyarakat enggan untuk meluruskan, enggan untuk menegur, dengan berbagai alasan dan sebab.

Contoh sederhana saja adalah saat mendapati sekelompok anak-anak sekolah sedang merokok di pinggir jalan. Hampir semua masyarakat memilih membiarkan dan tidak peduli. Padahal semestinya masyarakat menegur dan meluruskan perilaku anak-anak tersebut.

Direktorat Pendidikan Keluarga Kemendikbud yang lahir tiga tahun lalu, diakui Sukiman memiliki tanggungjawab besar untuk meningkatkan peran keluarga dan lingkungan terhadap proses pendidikan anak.

“Kami berupaya mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan anak. Banyak program kita lakukan seperti Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku atau Gernas Baku. Juga berbagai edukasi terkait pengasuhan anak balita, pengasuhan dan perawatan anak pada 1000 hari pertama kehidupan, perawatan dan pengasuhan anak usia 13-24 tahun, bulan parenting dan lainnya. Intinya bagaimana orangtua melibatkan diri secara aktif dalam pendidikan anak,” tambahnya.

Bagi Sukiman, anak-anak membutuhkan sentuhan tidak hanya dari sekolah, tetapi juga orangtua dan lingkungan masyarakat. Hubungan yang mesra antara sekolah, orangtua atau keluarga dan masyarakat harus dibangun lebih baik lagi sehingga proses pendidikan mampu melahirkan anak-anak dengan karakter yang baik.