Jalan Untuk Berumroh

SDM 1 Umroh at 12.53.25
Jamaah umroh

Sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Pendidikan Karakter Berbasis TIK SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Surakarta, Jawa Tengah, tidak mudah untuk menyanggupi ajakan berumroh. Tak sedikit alasan yang dikemukakan saat ajakan beribadah umroh diutarakan. Di antaranya, belum punya uang, anak–anak masih kecil dan butuh biaya sekolah  dan lain sebagainya.

“Sebagai manusia yang cenderung suka berhitung, itu masuk akal. Tapi jangan lupa, hitungan Allah itu beda dengan hitungan kita manusia, kalkulator Allah tidak sama dengan kalkulator kita. Dan satu yang pasti, Allah tidak akan ingkar janji. Allah Akan Mengganti Semua Biaya Yang Dikorbankan Untuk Berhaji Atau Berumroh. Yakinlah saudaraku,” Jelas Fitria Hariyati SPd MPd disela-sela mengajar, Kamis (22/03/2018).

“Sayapun dalam kondisi sederhana. Ketika rencana umroh saya niatkan, uang yang saya punya belum bisa untuk melunasi biaya umroh. Dan benar janji Allah. Allah-lah yang memudahkan segala sesuatu sehingga saya bisa melunasi biaya tersebut,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalaman perjalanannya. Selama 11 jam berada dalam pesawat cukup membuat badan penat. “Tapi ketika pesawat mendarat di Jeddah pukul 20.00, aku diserbu oleh sebuah rasa yang tidak seperti biasanya, bahagia, haru dan kagum bercampur aduk jadi satu,” ujarnya.

Dari Jeddah menuju Madinah, dengan naik bus memerlukan waktu 6 jam. “Dan menjelang jam 3 dini hari, saat pertama melangkahkan kaki menuju Masjid Nabawi, yang kuingat waktu itu adalah gate 7, sambil berbisik kepada ibu dan bulikku untuk saling mengingatkan jika nanti akan keluar masjid jangan lupa bahwa tadi masuk lewat gate 7. Masya Allah. Subhanallah,  damai menyusup ke seluruh permukaan diri saat pertama jejak menapak dinginnya ubin Nabawi. YA ALLAH. Siapalah aku ini, kalau bukan karena kuasa-Mu tak kan mungkin diri yang kerdil ini bisa menjadi bagian tamu-Mu,” ujarnya.

Masjid Nabawi sedemikian indah. Ketika itu, ujar Fitria, hembusan angin bulan Februari yang suhunya berkisar 27 – 28 derajat. Cuaca ini, tak jauh beda dengan suhu di tanah air. “Cuaca ini memberi semangat kepadaku, dan ribuan jamaah lain untuk mereguk kenikmatan sholat lail serta shubuh berjamaah,” ujarnya.

Fitria mengaku terpukau. Terpana. Segala lelah, letih yang mendera dirinya segera hilang. Payung-payung raksasa menawan di pelataran masjid Nabawi, dan hamparan karpet yang empuk memberikan rasa nyaman. Sementara, jajaran dispenser berisi air zam zam juga menjadi daya tarik.

Pilar-pilar Masjid Nabwi yang megah, kubahnya yang mewah, yang bisa terbuka (seperti pintu geser) sehingga di dalam masjid bisa menatap indahnya langit di belahan bumi Allah yang terberkati. “Langit Madinah !! Sholat di Raudhoh. Di dekat makam Sang Panutan. Makam Rasulullah, iya Rasullah, yang Allah pilih namanya bergandengan dengan nama Allah dalam kalimat sumpah suci syahadat,” ujarnya.

“Sholat di sini (raudhoh) memang perlu kesabaran, antrian jamaah yang begitu berjubel, tapi semua itu akan berbuah kepuasan batin yang tiada tara,” lanjut Fitria.

 

“Di sini. Iya disini,  Nabi kita berdakwah, mengajak pada kebaikan. Menyembah Allah yang Maha Tunggal. Ya Allah… ternyata sedemikian dahsyat pengalaman spritual yang kudapatkan disini. Sebuah rasa damai, tentram, bahagia yg tak bisa diwakili oleh seluruh bahasa di dunia,” ceritanya.

Ia pun mengajak, untuk minta pada Allah. “Mari memohon pada Allah. Kalo dana sudah ada, berangkatlah. Prioritaskanlah untuk ibadah. Insya Allah kebutuhan lain akan dicukupkan Allah, mumpung Allah masih memberi kita umur dan kesehatan. Bersegeralah,” ujarnya.