Resensi film : Moonrise Over Egypt – Perjuangan Diplomasi Agus Salim

Bagi bangsa Indonesia, nama Haji Agus Salim tentulah tidak asing. Foto sosok pahlawan nasional ini, sangat mudah dikenali dengan ciri khas kacamata, berkumis dan berjanggut putih serta selalu berpeci.

Antara melansir, Agus Salim lahir di Koto Gadang Agam Sumatera Barat, 8 Oktober 1884, memiliki keahlian berbicara dalam tujuh bahasa asing, dikenal sebagai tokoh yang pandai berdiplomasi.

Kepiawaiannya berdiplomasi itulah yang membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II. Ia juga dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan, Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada saat menjabat Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947 Agus Salim, diutus untuk melakukan pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947.

Misi diplomatik Haji Agus Salim ke Mesir pada 1947 tersebut lah, yang dikisahkan oleh sutradara muda Pandu Adiputra ke dalam film perdananya “Moonrise Over Egypt”.

Pada April 1947 Presiden Soekarno menugaskan Agus Salim (Pritt Timothy), bersama Abdurrahman Baswedan, Wakil Menteri Penerangan (Vikri Rahmat), Mohammad Rasjidi, Sekjen Departemen Agama, (Satria Mulia) serta Nazir Datuk Sutan Pamuntjak, Pejabat Departemen Luar Negeri (drh Ganda) ke Mesir. Misi mereka, untuk memperoleh pengakuan kedaulatan atas Republik Indonesia dari Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Pengakuan kedaulatan dari negara-negara asing sangat penting bagi Republik Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustur 1945. Karena hal tersebut menjadi syarat berdirinya suatu negara, disamping memiliki pemimpin, rakyat, dan wilayah.

Namun, kenyataan yang harus dihadapi rombongan itu tidak semulus rencana. Pasalnya, Duta Besar Belanda untuk Mesir saat itu, Willem Van Recteren Limpurg (Harry Bond Jr) meluncurkan serangkaian taktik untuk menggagalkan misi para delegasi Indonesia tersebut.

Didampingi ahli strategi bernama Comelis Adriaanse (Alex Jhunnany), Willem kemudian melakukan lobi politik terhadap Perdana Menteri Mahmud Fahmi El Nokrashy Pasha (Mark Sungkar), dan menyusupkan mata-mata mereka ke dalam kelompok delegasi Indonesia.

Kedua pejabat Belanda ini berhasil mempengaruhi Nokrashy, sehingga dia memutuskan untuk menunda rencana kerjasama bilateral dengan Indonesia yang menjadi tanda legitimasi kedaulatannya di kancah internasional.

Kejadian inilah yang mengharuskan delegasi Indonesia yang dipimpin Agus Salim dibantu oleh sejumlah mahasiswa Indonesia di Mesir, berjuang bersama untuk meyakinkan kembali Nokrashy akan pentingnya membuka hubungan dengan Indonesia.

Film Moonrise Over Egypt ini, oleh Produser TVS, Amir Sambodo diakui sebagai film pertama yang mengangkat tema mengenai diplomasi untuk memperjuangkan kemerdekaan RI. Sayangnya, justru perjuangan diplomasi itu tidak banyak terlihat di film berdurasi hampir dua jam itu.

Sosok diplomat ulung yang selama ini sudah melekat pada diri pahlawan nasional yang dijuluki “The Grand Old Man” itu tak muncul, karena selama di Mesir, para delegasi bangsa itu lebih banyak ngobrol, ngopi-ngopi dan merokok di kamar hotelnya, yang seperti hotel kelas melati, sedangkan mereka menginap di Hotel Continental Kairo. Adegan ini, banyak mendominasi sepanjang film berlangsung.

Film yang mengambil latar cerita di Mesir pada 1947 pun, tak mampu menampilkan suasana negeri piramid tersebut pada masa itu. Padahal, 40 persen pengambilan gambar dilakukan langsung di negeri tersebut.

Di sejumlah scene latar pemandangannya hanya menggunakan efek komputerisasi, sementara suasana kota Kairo sendiri tidak terlalu ditampakkan secara utuh di dalam film.

Untuk menghindari film Moonrise Over Egypt berkesan sebagai film dokumenter dan membuat kisahnya lebih menarik, kemudian dimasukkanlah unsur drama fiksi ke dalam film ini. Maka muncullah kisah romantis para mahasiswa Indonesia di Mesir serta cerita spionase ala film Hollywood.

Dan untuk lebih menarik penonton kalangan muda, didapuklah Reza Anugrah, anggota Boyband Smash yang berlakon sebagai Zain Hasan salah satu tokoh mahasiswa Indonesia di Mesir.

Pemilihan judul yang menggunakan bahasa Inggris, diakui produser Moonrise Over Egypt sebagai salah satu “diplomasi” agar film ini diterima di dunia internasional.

Terlepas dari segala kelemahan dalam penggarapannya, sosok Pritt Timothy, aktor teater asal Yogyakarta itu dinilai pas memerankan tokoh Haji Agus Salim.

Sutradara Pandu Adiputra mengakui, Moonrise Over Egypt bukan film biopic, yang mengangkat biografi seorang tokoh secara utuh, namun hanya mengisahkan periode misi diplomatik Agus Salim pada 1947 di Mesir. Itulah mengapa di film ini penonton tidak diberikan gambaran secara utuh siapa sosok salah satu pendiri Sarekat Islam itu.

Film yang mulai tayang di bioskup pada 22 Maret 2018 itu setidaknya mampu melengkapi deretan film-film nasional bertema kepahlawanan yang sudah diproduksi sebelumnya seperti Tjokroaminoto, Kartini, Soekarno, Sang Kyai, Sang Pencerah ataupun Soegijo.

Selain itu, film ini diharapkan, sebagaimana dinyatakan Prof Dr Emil Salim, selaku keponakan Haji Agus Salim, bahwa bangsa ini terdiri dari kualitas-kualitas manusia yang tegar, tegas, kokoh dan patut dihargai sepanjang zaman.