Bunda Ima: Separuh Usia Saya Untuk Menangani Anak-Anak Autis

Dr Imaculata Umiyati menerima penghargaan sebagai Bunda Anak Autis Indonesia dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (ist)

DR. IMACULATA Umiyati bukan orang baru dalam dunia autisme. Kiprahnya selama lebih dari 35 tahun menangani anak-anak autis, menjadikan perempuan cantik ini begitu paham soal autisme. Tak sekedar bagaimana mendidik anak autis, tetapi juga menyusun program sekaligus mencetak kader-kader terapis yang mampu mengantarkan anak-anak autis hidup mandiri.

“Separuh usia saya bergelut dengan masalah autis. Jadi saya paham sekali bagaimana kita harus bersikap saat menghadapi anak autis,” kata Imaculata, pendiri Imaculata Autism Boarding School yang akrab disapa Bunda Ima.

Karena kiprahnya yang sedemikian besar terhadap anak-anak autis, Imaculata pekan lalu mendapatkan anugerah sebagai Bunda Anak Autis Indonesia dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Anugerah ini tentu menuntut tanggungjawab yang lebih besar bagi Imaculata untuk berbuat lebih banyak bagi anak-anak autis.

Menurut Bunda Ima , tak banyak orang yang tertarik untuk menangani anak-anak autis. Selain membutuhkan kesabaran luar biasa, menangani anak autis juga perlu ‘menghadirkan hati’ setiap saat. Artinya, rasa kasih dan sayang harus timbul dahulu untuk kemudian baru menyentuh pendidikan anak-anak autis.

Imaculata mengingatkan bahwa mendidik anak autis amatlah jauh berbeda dengan mendidik anak-anak pada umumnya. Sebab pendidikan anak autis bukan untuk meraih prestasi akademik, tetapi lebih kepada bagaimana menjadikan anak autis bisa hidup mandiri.

“Sehingga ketika orangtua sudah tidak ada, anak autis bisa melakukan pekerjaan sehari-hari sendiri, tanpa bantuan orang lain,” lanjutnya.

Materi pelajarannya pun sangat sederhana. Mulai dari bagaimana cara makan, cara mandi, minum, dan lainnya. Hal-hal tersebut tidak sekali ajar langsung bisa. Anak autis membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa menguasai ketrampilan hidup tersebut.

“Diulang, diulang, hingga benar-benar menguasai dan menjadi habit, menjadi kebiasaan sehari-hari. Makanya mendidik anak autis harus sabar dan berkelanjutan,” tukas Bunda Ima.

Meski gampang-gampang susah, semua orang lanjut Imaculata bisa menjadi guru bagi anak-anak autis. Kuncinya memiliki kesabaran dan juga keikhlasan serta kasih sayang. Tentu saja minimal harus memiliki pendidikan SMA.

“Saya bisa ajarkan ketrampilan mendidik anak autis. Seminggu Insya Alloh bisa menjadi terapis,” tambahnya.

Anak autis berfoto bersama Polwan usai diskusi soal autis bersama Bunda Imaculata

Biaya terapi autis mahal

Ia mengakui bahwa sekolah atau lembaga yang menyediakan terapi bagi anak autis di Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya. Bahkan banyak kota yang tidak memiliki sekolah bagi anak autis.

Itu sebabnya, biaya terapi bagi anak autis tergolong sangat mahal. Satu jam terapi, biayanya rata-rata Rp 250.000. padahal untuk memberikan satu jenis ketrampilan saja, dibutuhkan waktu berhari-hari.

Bunda Ima memberikan solusi terkait mahalnya biaya terapi ini. Yakni menjadikan salah satu anggota keluarga menjadi seorang terapis anak autis. Bisa orangtua, bisa saudara bahkan bisa pula asisten rumah tangga. Dengan memberikan trik-trik mendidik anak autis, maka orangtua tidak harus menghabiskan biaya besar untuk mendidik anak autis.

Imaculata Autism Boarding School yang beralamat di Perumahan Taman Harapan Baru. Blok V5 No. 5-8,, Jl. Taman Harapan Baru Timur, Pejuang, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat, tak hanya menjadi tempat dimana anak-anak autis mendapatkan haknya untuk tumbuh berkembang dan memperoleh hak pendidikannya.

Di tempat tersebut, Bunda Ima juga menangani anak autis antara 4 hingga 5 anak dalam sehari. Penanganan anak dengan autis ini tentu melibatkan pihak keluarga si anak. Tujuannya agar terbangun kepedulian yang tinggi dari orang-orang di sekitar anak-anak dengan autis.

“Jumlah anak autis di Indonesia cukup banyak. Saatnya semua peduli pada mereka, dengan memberikan hak-haknya sebagai anak, sebagai manusia pada umumnya,” tutup Bunda Ima