Berikan Alternatif Produk Makanan yang Aman, GGF Luncurkan Bonanza Beef Bakso

Bonanza Beef Bakso yang disajikan dalam bentuk bakso bakar dan bakso goreng. (ist)

JAKARTA – Berikan alternatif produk makanan yang terbaik bagi konsumen, Great Giant Foods (GGF) dibawah naungan Gunung Sewu luncurkan Bonanza Beef Bakso. Ini adalah produk bakso dengan kualitas super yang dibuat dari daging sapi hasil dari peternakan sendiri.

“Bakso merupakan jenis makanan yang sangat digemari masyarakat. Itu mengapa kami memilih bakso sebagai produk baru kami,” kata Dayu Ariasintawati, Managing Director PT Great Giant Livestock (GGL),  Rabu (9/5).

Meluncurkan produk bakso, tidak sekedar memberikan pilihan makanan berkualitas bagi masyarakat. Tetapi sekaligus juga menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap upaya pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat terutama protein yang bersumber dari hewani.

Sebab protein sangat penting terutama bagi anak-anak dan remaja untuk mendukung proses tumbuh kembang dan kecerdasan. Protein merupakan komponen penting untuk menghindari stunting atau tubuh pendek.

Dayu mengakui salah satu sumber protein terbaik adalah daging sapi atau daging merah. Tetapi sayangnya banyak orang menghindari konsumsi daging merah dengan alasan kesehatan seperti mengurangi konsumsi kolesterol, lemak dan lainnya.

“Daging merah amat penting bagi anak-anak, juga remaja. sebab daging merah banyak mengandung protein yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan anak-anak,” tambah Dayu.

Bonanza Beef Bakso jelas Dayu, mengandung 84 persen daging sapi (100 persen daging sapi, tidak mengandung daging tambahan lain), tanpa pengawet, dijamin kualitasnya dan diproses secara halal dan aman.

Daging sapi yang digunakan berasal dari peternakan sapi sendiri yang dirawat dengan menerapkan good farming practise, yang menjamin kesejahteraan hewan (animal welfare), keamanan pangan dan proses secara halal serta good manufacturing practice.

Sementara itu, Emilia E. Achmadi, ahli gizi menjelaskan bakso adalah produk makanan yang mudah busuk. Karena itu ditengah masyarakat banyak ditemukan bakso dengan kandungan bahan pengawet seperti boraks dan formalin. Tujuannya agar bakso tidak mudah busuk sehingga meski tidak segera terjual, pedagang tidak akan menanggung rugi.

“Data menunjukkan sekitar 50 persen bakso yang beredar mengandung bahan pengawet,” jelas Emilia.

Diakui Emilia, produk bakso tidak hanya berhadapan dengan bahan pengawet makanan. Tetapi acapkali bahan baku yakni daging sapinya diperoleh dari sapi yang tidak sehat. Bisa sapi yang digemukkan menggunakan obat-obatan, makanan berpestisida maupun sistem gelonggong.

“Artinya, sejak masih berupa hewan sapi hidup, sudah dihadapkan pada pestisida, dan ini berbahaya bagi manusia. Zat pengawet bisa merusak ginjal, menyebabkan kanker dan penyakit berbahaya lainnya,” tambah Emilia.

Untuk itu Emilia menghimbau agar masyarakat berhati-hati dalam memilih produk bakso. Pilihkan produk yang aman agar bakso tidak hanya memenuhi kebutuhan protein tubuh tetapi juga tetap menyehatkan.

Adapun bakso yang mengandung formalin antara lain bisa dikenali dari bentuknya yang kenyal,warnanya yang pucat, membal, baunya aneh tidak seperti bau daging sapi, serta tidak dihinggapi lalat jika ditempatkan ditempat terbuka.

Produk Bonanza sendiri tersedia dalam satu kantung  ukuran 500 gram, berisi 30 butir bakso, yang dijual secara eceran Rp 85 ribu per bungkus. Produk ini bisa dibeli di ritel modern yang ada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung.

Dengan diluncurkannya Bonanza Beef Bakso, diharapkan dapat mengembalikan tradisi makan bakso yang sehat, aman tanpa harus khawatir darimana sumber daging sapinya.