Semnas STIAMI Bahas Pentingnya Big Data untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rektor Institut STIAMI Ir. Panji Hendrarso MM saat membuka resmi Semnas Kesiapan Peluang & Tantangan Penggunaan Bigdata Dalam Ekonomi Digital.

JAKARTA- Ekonomi digital dan big data, keduanya saling terkait. Keduanya sama-sama berbasis pada penggunaan internet.

Pertumbuhan ekonomi digital akan membutuhkan dukungan big data. Semakin besar data bisa dikumpulkan, maka ini akan menjadi dukungan yang penting bagi tumbuhnya ekonomi digital.

Indonesia dengan populasi berjumlah 262 juta jiwa, dimana 55 persen diantaranya adalah pengguna internet aktif merupakan potensi besar bagi berkembangnya ekonomi digital. Ini sekaligus menjadi potensi bagi tumbuhnya industri dibidang teknologi.

Hal tersebut mencuat pada Seminar Nasional bertema Kesiapan, Peluang dan Tantangan Penggunaan Big Data Dalam Ekonomi Digital yang digelar Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, Minggu (13/5/2018). Seminar Nasional yang dibuka resmi Rektor Institut STIAMI Ir. Panji Hendrarso MM tersebut menghadirkan pembicara-pembicara kompeten yakni Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI, Dr, M. Rizal Taufiqurahman, Institut For Development of Economic & Finance, dan Dr. Sani Muhammad Isa, Pengamat dan Peneliti Digital Economy & Society.

Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) saat tampil sebagai pembicara kunci mengatakan saat ini perusahaan teknologi terus bermunculan di Indonesia. Perusahaan tersebut menyediakan aplikasi teknologi untuk berbagai kebutuhan seperti alat transportasi, aplikasi belanja, aplikasi kesehatan, pendidikan dan lainnya.

“Go-Jek misalnya, ini bukan perusahaan penyedia alat transportasi, tetapi hanya berjualan aplikasi teknologi. Juga Tokopedia, Blibli, dan lainnya. Mereka adalah perusahaan yang bergerak dibidang teknologi,” kata Semuel.

Menurutnya, semakin banyak perusahaan yang bergerak dibidang teknologi, dan makin banyaknya kebutuhan manusia yang bisa diperoleh melalui aplikasi teknologi, maka data yang terkumpul akan semakin besar. Ini terjadi karena setiap mengakses aplikasi, orang diminta mengirimkan atau melaporkan datanya terlebih dahulu.

Semuel mengatakan pada era digital seperti sekarang ini, siapapun bisa masuk dan menjadi pengusaha teknologi. Tidak harus mereka yang memiliki modal besar atau memiliki jaringan kuat.

“Sayangnya, industri digital diIndonesia masih didominasi oleh pemain-pemain besar. Padahal peluang terbuka bagi siapa saja. Mengingat data memang terbuka dan bisa dimasuki oleh siapa pun,” tambahnya.

Karena itu pihaknya mendorong anak muda, para mahasiswa untuk terjun menjadi pengusaha dibidang teknologi. Peluang ekonomi digital masih terbuka sangat lebar dan bisa dimasuki oleh siapapun.

Data menunjukkan sampai saat ini terdapat sekitar 26 juta pengusaha berbasis digital di Indonesia dan 1.705 star-up.

Big data itu sendiri diakui Semuel bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Seperti prediksi nilai tukar mata uang asing, penilaian kredit. Juga bisa untuk pemberian kredit usaha rakyat (KUR), analisis data untuk merchant, mendeteksi fraud (kecurangan), mendeteksi aruslalu lintas secara real time, mendukung smart cities, dan lainnya.

Senada juga dikatakan Roy Suryo. Dalam paparannya, anggota Komisi I DPR RI tersebut menjelaskan dengan memegang big data, sesungguhnya semua informasi ada ditangan kita. Apapun bisa kita lakukan, bahkan memonitor kepadatan lalu lintas dan memperkirakan lamanya perjalanan.

Pada era big data ini, penggunaan teknologi memegang peranan paling vital. Akan terjadi otomatisasi dimana sejumlah jenis pekerjaan digantikan oleh robot dan mesin.

Meski demikian, menurut Roy, penggunaan teknologi yang sedemikian masif yang menang tetaplah hati nurani.

“Diatas teknologi, bagaimana pun, yang menang adalah hati nurani manusia,” jelas Roy.

Sementara itu Dekan Fakultas Ilmu Adminsitrasi (FIA) STIAMI Dr. Bambang Irawan, MM mengatakan fenomena big data telah merontokkan retail-retail besar dihampir semua negara. Demikian juga dalam hal pekerjaan, diperkiraan ada 12,5 persen jenis pekerjaan yang hilang dan digantikan oleh mesin maupun robot.

“Inilah pentingnya kita sema mempersiapkan diri. Apakah kita bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang sedemikian pesat, atau kita menyerah kalah,” katanya.

Hanya orang-orang yang mampu menguasai teknologi yang kemudian bisa bertahan dan mengalami kemajuan dalam kehidupannya.