JAKARTA, MENARA62.COM — Prof Din Syamsuddin menyampaikan materi tentang Islam Wasattiyat pada pengkajian Ramadhan 1439 H, PP Muhammadiyah di Kampus UHAMKA Pasar Rebo, Jakarta, Senin (28/5/2018) malam.

Din menyebutkan, hasil kesepakatan 100 ulama dan cendekiawan Muslim dunia tentang paradigma wasatiyyat Islam, mempunyai ketegasan bagi Islam dan komitmen Muslim untuk perbaikan peradaban dunia yang saat ini sedang rusak.

Din menyebutkan, berdasarkan komitmen yang dikemas dalam pesan Bogor, sebagai hasil pertemuan ulama dan cendekiawan Muslim dunia, mereka bersepakat unuk merevitalisasi paradigma wasatiyyat Islam. Ini sebagai ajaran sentral ISlam, dengan mengedepankan budayat tawasut, yakni memposisikan diri pada jalan tengah dan jalan lurus dengan menempatkan keadilan dan keseimbangan dengan tujuh nilai utama.

Ketujuh nilai itu adalah:

  1. i’tidal, berdiri tegak pada jalan lurus/kebenaran dan berlaku adil serta bertanggungjawab.
  2. tawazun, menyeimbangkan kehidupan duniai dan ukhrowi, memadukan kesalehan individual dan sosial.
  3. tasamuh, mengakui kemajemukan, menghormati perbedaan dan bersedia hidup berdampingan secara damai.
  4. shura, mengedepankan konsultasi/musyawarah dalam menyelesaikan masalah untuk meraih keputusan terbaik.
  5. islah, melakukan perbuatan terbaik, konstruktif dan reformatif untuk kemashlatan bersama.
  6. qudwah, menjadi teladan dengan melakukan prakarsa positif dan inovatif untuk kebaikan kehidupan manusia.
  7. muwatonah, mengakui negara bangsa dimana berada, dan berperan aktif sebagai warga negara.

Ketujuh nilai utama ini, menurut Din, saling berhubungan dan melengkapi ebagai satu kesatuan yang utuh.

Menurut Din, pertemuan itu juga berkomitmen untuk menanamkan tujuh nilai utama paradigma wasatiyyat Islam sebagai budaya yang hidup baik secara individu maupun kolektif dalam berbagai aspek kehidupan dengan meneladani semangat dan pelajaran dari sejarah peradaban Islam. Karena itu, umat Islam perlu menguatkan tekad untuk membuktikan pada dunia bahwa umat Islam mengamalkan paradigma wasatiyyat Islam ecara nyata dalam semua aspek kehidupan.

“Bahkan, Presiden Joko Widodo pun mendukung untuk mendirikan poros wasatiyyat Islam dunia, guna membangun ummatan wasathan, yakni suatu masyarakat yang adil, makmur, damai, inklusif dan toleran berdasarkan prinsip dan moal Islam,” ujarnya.