Mendongeng Itu Asyik

mendongeng
mendongeng, salah satu cara untuk mendekatkan orangtua dengan anak.

Mendongeng, merupakan kegiatan literasi yang mulai populer di masyarakat. Kegiatan ini digelar oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tamansari, Bogor, yang bekerjasama dengan Lazismu, Sabtu (2/6/2018). Namun, kepopuleran mendongeng, masih harus berlomba dengan daya tarik kecanggihan teknologi informasi dan gadget.

Padahal, dalam proses tumbuh kembangnya, seorang anak sangatlah membutuhkan ikatan emosional dengan kedua orangtuanya. Ikatan emosi yang dijalin antara orangtua dan anak sejak dini ini akan berguna dalam pembentukan karakter anak nanti. Tak hanya itu, kedekatan orangtua dan anak juga akan memengaruhi kecerdasan anak.

Seiring dengan pertumbuhan anak, ikatan emosional ini dapat berkembang melalui beberapa hal yang dilakukan orangtua sehari-hari, yang salah satunya dengan mendongeng atau bercerita. Sehingga, sangat wajar jika dikatakan bahwa orangtua merupakan pendongeng terbaik bagi anak-anaknya.

Kesibukan menjadi salah satu alasan kurangnya waktu orangtua untuk anak-anaknya. Sebuah survei yang dilakukan pada 500 anak usia 3-8 tahun di Inggris mengungkapkan, hampir 2/3 anak yang disurvei menginginkan orangtuanya meluangkan waktu untuk membacakan cerita sebelum mereka tidur, terutama oleh sang ibu.

Persiapan sebelum mendongeng:
1. Percaya diri menjadi syarat dasar untuk mendongeng. Selain itu, pendongeng juga perlu memiliki kemauan untuk mendongeng. Jadi, bagi pendongeng tidak terlihat asal bicara dan bercerita.

2. Punya referensi cerita. Tentu saja, referensi dan tema dongeng juga harus dipersiapkan. Orang tua yang peduli akan tumbuh kembang anak-anaknya, dan mau mendongeng sebaiknya punya koleksi cerita yang cukup banyak. Koleksi cerita itu pun, yang memiliki konten pembangunan karakter, kepedulian dan berbagi, wawasan atau pengetahuan, hingga cerita yang hanya sebagai media menghibur saja.

3. Jangan malu untuk mencontoh aksi pendongeng profesional di atas panggung. Dengan melihat aksi para pendongeng profesional, ataupun guru di kelas ketika membacakan atau mendongeng, kita bisa belajar sambil meningkatkan kemampuan mendongeng, sekaligus menyiapkan improvisasi dan mengembangkan kreativitas sendiri.

4. Biasakan diri mendongeng. Bisa jadi, kita bercerita tentang hal kecil dengan pesan yang sederhana. Boleh jadi juga, kita mengembangkan cerita dengan pesan yang lebih serius, namun tetap disampaikan dengan rileks. Dengan cara membiasakan diri, maka mendongeng bukan lagi menjadi beban, tetapi sudah seperti air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah.

5. Perhatikan aspek utama mendongeng, yaitu suara. Sesungguhnya, mendongeng adalah metode penyampaian cerita dengan cara bertutur kata. Itu sebabnya, suara merupakan aspek utama yang harus dikuatkan, baik suara narasi maupun suara penokohan. Media peraga adalah aspek pendukung. Jadi, bila ingin menggunakan alat peraga, haruslah dipikirkan apakah alat peraga tersebut benar-benar bisa mendukung cerita atau tidak. Jangan sampai, ketika menggunakan alat peraga, justru akan membingungkan anak-anak. Jika ingin menggunakan alat peraga, sebaiknya gunakan gambar atau boneka yang menyerupai bentuk aslinya sehingga akan benar-benar merangsang imajinasi anak-anak.

6. Masukkan unsur khayalan. Anak-anak sering berkhayal, terutama setelah ia menonton film. Dongeng khayalan dari orang tua bisa jadi penyeimbang tayangan-tayangan khayalan tersebut. Tentu saja, sisipi juga dengan penjelasan-penjelasan yang mudah dicerna oleh anak. Kadangkala, cerita khayalan ini juga bisa membangkitkan daya imajinasi anak untuk mencipta. Misalnya, ketika anak memegang mobil, ia bisa saja berkhayal dan menggerakkan mobil dengan tangannya untuk terbang. Nah, siapa tahu suatu hari nanti ia akan terpikir menciptakan mobil terbang, kan?

7. Lakukan di mana saja dan kapan saja. Mendongeng adalah aktivitas berkomunikasi antara orang tua dengan anak, atau guru dengan muridnya. Jadi, mendongeng tak dibatasi ruang dan waktu. Kapan saja bisa kita lakukan, asalkan disesuaikan materinya. Misal, saat berada di bandara melihat pesawat, kita bisa mendongeng tentang dunia penerbangan. Jadi, jangan asyik dengan gadget. Simpan gadget rapat-rapat saat bersama anak, hanya pegang gadget saat berdering tanda telepon masuk. Notifikasi media sosial untuk sementara diabaikan dahulu.

8. Gestur dan intonasi penting. Bila mendongeng dilakukan datar-datar saja, maka itu tak ubahnya seperti sedang berbicara kepada anak. Hal inilah yang akan membuat anak-anak akan cepat merasa bosan. Gerak tubuh, mimik, dan perubahan suara untuk menggambarkan penokohan sangat dinanti-nanti oleh anak-anak usia dini saat mendengarkan cerita. Inilah bagian paling mengasyikkan dari mendengarkan dongeng.

9. Dongeng tidak hanya menyenangkan, tetapi juga harus memiliki kekuatan pesan. Ibarat makanan, tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga harus menyehatkan.