Memaknai Mudik Secara Kultural, Finansial, dan Transportasional

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Mudik secara harfiah memiliki arti pulang ke kampung halaman. Setiap orang yang merantau selalu memliki keinginan untuk mudik ke kampung halamannya, meski hanya satu atau dua kali dalam satu tahun. Namun, apa makna mudik menurut Dr. H Robby Habiba Abror, M.Hum., Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta. Dia menyampaikan pada Menara62.com hari ini, Kamis (14/6/2018) bahwa, mudik adalah jihad kultural, finansial, dan transportasional.

Setiap orang yang ingin mudik tidak sekadar pulang kampung, tapi memiliki persiapan yang cukup, harapan dan tujuan yang sama, yaitu tiba di kampung halaman dengan sehat wal afiat. Menurut Robby, persiapan mudik itu tidak hanya berupa kesiapan mental fisik dan bekal saja, tapi ada tiga yang harus disiapkan oleh setiap pemudik menurutnya, yaitu modal sosial, intelektual, dan spiritual.

Pertama modal sosial, Robby menyampaikan bahwa modal sosial itu seperti tabungan/uang yang cukup. “Modal sosial itu seperti punya tabungan/uang, meskipun tidak banyak yang penting cukup atau tidak jarang yang berhutang bagi yang tidak dapat THR (Tunjangan Hari Raya) atau berprinsip uang bukan soal utama yang penting bisa berkumpul dengan keluarga. Minimal sebagai bekal buat bawa oleh-oleh, bekal sepanjang perjalanan mudik dan bekal berbagi saat lebaran.”

Kedua adalah modal intelektual. Menurut Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Sunan Kalijaga itu, modal intelektual berupa berita/kabar baik dan memberikan semangat dan harapan baru dalam pertemuan bersama keluarga termasuk termasuk modal atau bekal yang harus dimiiliki oleh setiap pemudik. Selain pada kelaurga juga pada teman-teman di kampung halaman. “Kehadiran Anda bisa juga menjadi solusi bagi masalah orang lain. Keluarga berharap, setelah sekian lama ditinggal jauh, saat bersama Anda adalah momen spesial yang tak mungkin disia-siakan. Jangan pernah kecewakan keluarga besarmu dengan menambah beban dan persoalan baru,” lanjut Robby.

Ketiga adalah modal spiritual. Dengan modal ini, pemudik tentu diharapkan dapat menjadi pembelajar yang baik yang dapat mengubah diri dan lingkungannya memnjadi lebih baik, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermamfaat bagi sesamanya. “Mudik adalah saat di mana Anda harus mendistribusikan pemikiran, etos, akhlak dan suasana batin secara konstruktif. Spiritualitas yang terasa kering, selama kepergian kita, diharapkan menjadi tersirami dan terobati dengan kehadiran kita,” lanjut ketua MPI PWM DI Yogyakarta.

Melalui tiga modal di atas diharapakna para pemudik dapat menjemput dan berkumpul bersama keluarga dengan satu tujuan, yaitu kembali ke fitri, suci, seperti bayi yang baru lahir. Secara kultural, ini gerak historis yang selalu berulang dan tidak ada kebosanan menikmati realitas itu. “Mudik itu juga butuh pengorbanan uang maka kita sebut jihad finansial. Mudik juga cukup menguras energi, harus menyediakan waktu, dan konsentrasi penuh selama perjalanan. Itu kita sebut jihad transportasional,” tutupnya.