Alumnus UMM Berhasil Ciptakan Bandeng Lunak Tanpa Duri

Ilustrasi ikan bandeng lunak tanpa duri.(ist/youtube)

MALANG – Nirmalasari, seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, berhasil memproduksi bandeng lunak tanpa duri (Bangdur). Bandeng hasil produksi Nirmalasari yang dibantu tiga temannya tersebut tanpa melalui proses presto.

“Sebagian besar bandeng lunak tanpa duri yang beredar di pasaran selama diproses dengan presto. Produksi bandeng kami tanpa proses itu, sehingga cita rasanya berbeda,” kata Nurmalasari seperti dikutip dari Antara, Selasa (10/7).

Nirmalasari yang sebelumnya merupakan mahasiswi Fakultas Perikanan dan Peternakan (FPP) UMM angkatan 2014 asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu menerangkan Bangdur diciptakan bermula dari tugas mata kuliah praktik usaha perikanan atau aquapreneurship. Kini produk tersebut telah menjadi ladang usaha yang menjanjikan bagi Nirmalasari yang diwisuda Maret lalu

Bersama tiga temannya Muhammad Soleh, Fernanda Rahmadillah Putri dan Sabarudin yang juga satu tim dalam proses pengerjaan aquapreneurship, Nurmalasari berhasil memasarkan produk inovatif ini. Bahkan, bisnis tersebut telah meraih omzet hingga Rp10 juta untuk setiap 100 kilogram bandeng yang diproduksi.

Nirmala mengatakan inspirasi untuk mengembangkan produksi bandeng lunak tanpa duri atau Bangdur itu muncul ketika melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di salah satu perusahaan swasta di Probolinggo yang membudidayakan udang vanname dan bandeng.

Perusahaan itu, katanya, melakukan dua budi daya dalam satu wadah serta memproduksi bandeng tanpa duri. Dari sini ia mendapatkan ilmu tentang teknik memfilet bandeng.

Dalam sepekan ia dan ketiga temannya memroduksi tiga kali dan sudah dipasarkan secara luas, baik secara konvesional di berbagai toko sayur modern maupun secara online atau dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan media sosial. Tidak main-main, untuk kestabilan kualitas dan kuantitas produk, Mala bermitra dengan pemasok ikan bandeng dari Probolinggo.

“Tidak hanya memasok, suplier ini juga memasarkan produk saya di pasar tradisional, Pasar Gadang,” ujarnya.

Nirmala menjelaskan perbedaan Bangdur Nusantara dengan bandeng presto lainnya tidak hanya pada rasa, namun juga teknik pembuatan. Bangdur Nusantara teknik pemisahan daging dan durinya menggunakan teknik filet, sedangkan bandeng presto menggunakan teknik pemasakan dengan suhu rata-rata 121 derajat celcius.

Proses pemanasan menggunakan suhu tinggi ini sangat disayangkan, karena dapat menghilangkan kandungan gizi bandeng. “Secara ilmu gizi, dalam salah satu jurnal yang menjadi acuan kami di proposal aquapreneurship bahwa bandeng presto dan bandeng segar setelah di presto gizinya hampir 98 persen hilang, sehingga rasa dagingnya tidak enak. Dengan teknik filet, kami ingin menjaga kualitas daging bandeng, rasa, dan gizinya tetap,” tambahnya.

Selain kelebihan tersebut, lanjutnya, ciri khas produk ini terletak pada varian rasa yang dimiliki. Berinovasi untuk menghadirkan produk yang berbeda dari bandeng tanpa duri di pasaran, Mala dan timnya memproduksi Bangdur Nusantara dengan empat varian rasa, yakni original, balado, rendang dan sambal matah.

“Varian rasa nusantara ini mencerminkan keanekaragaman kuliner nusantara,” ucapnya.

Ia mengaku dirinya bersama timnya juga berusaha merangkul, memberdayakan dan berbagi ilmu, serta mengajak peran serta adik tingkatnya, terutama mahasiswa Perikanan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan, sedangkan dirinya dan tim hanya mengurus manajemen produksi dan pemasaran.

“Untuk produksinya diserahkan ke Himaperik (Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan), jadi mereka bisa belajar dari sekarang sebelum memasuki semester tujuh untuk mengerjakan aquapreneurship,” tuturnya.