Dorong Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional Melalui Program BIPA

Mendikbud Muhadjir Effendy

JAKARTA – Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi cara strategis untuk mningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa kembali mengirimkan 44 orang pengajar BIPA ke sejumlah negara.

Para peserta BIPA angkatan VII ini merupakan pengajar mandiri maupun pengajar yang berasal dari sejumlah lembaga seperti sekolah, perguruan tinggi, lembaga kursus dan unit kerja di lingkungan Kemendikbud.

“Para peserta BIPA adalah Duta Bahasa Negara. Mereka yang akan mengenalkan bahasa Indonesia dan budaya Indonesia ke sejumlah negara,” kata Mendikbud saat beraudiensi dengan peserta kegiatan pembekalan calon tenaga pengajar BIPA untuk luar negeri angkatan VII, Selasa (10/7).

Diakui Mendikbud, program BIPA merupakan strategi konkret dan efektif yang diprioritaskan Kemendikbud dalam mendukung upaya diplomasi lunak Indonesia melalui diplomasi kebahasaan dan kebudayaan secara terpadu.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar mengatakan tahun ini terpilih 44 calon peserta pengajar program BIPA. Selama 10 hari, peserta program BIPA akan mendapatkan pelatihan dan pembekalan beberapa materi antara lain kebijakan Kemendikbud dan Badan Bahasa, wawasan kebangsaan dan bela negara, etika diplomasi dan kode etik Duta Bahasa Negara, wawasan strategi dan diplomasi bahasa dan budaya, kompetensi pengajaran BIPA, kompetensi profesional kebahasaan serta administrasi dan dokumentasi penugasan.

Kegiatan Pengiriman dan Penugasan Pengajar BIPA untuk Luar Negeri yang dikembangkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan sejak tahun 2015 telah menghasilkan sejumlah capaian. Diantaranya telah melaksanakan 14 penugasan pengajar di 11 lembaga di 8 negara untuk melayani 1.883 pemelajar BIPA pada 2015.

Pada 2016 telah dilaksanakan 74 penugasan pengajar di 47 lembaga di17 negara untuk melayani 9.885 pemelajar. Tahun 2017 telah dilaksanakan 200 penugasan pengajar di 79 lembaga di 22 negara untuk melayani 21.940 pemelajar.

“Hingga 7 Juli 2018 telah dilaksanakan 115 penugasan pengajar di 54 lembaga di 19 negara untuk melayani 10.610 pemelajar.

Melalui kegiatan tersebut, Dadang berharap jumlah dan sebaran warga dunia yang mampu berbahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya Indonesia dapat terus ditingkatkan. Upaya tersebut penting dalam rangka meneguhkan posisi, peran dan pengaruh Indonesia dalam pergaulan dan persaingan antarnegara dan antarbangsa.

“Tidak cukup dengan menunjukkan jati diri tetapi juga memperkuat daya saing bangsa Indonesia,” tutupnya.