Filosofi Bisnis dan Kecantikan Rengganis Salon dalam Sebuah Buku

“Perempuan itu harus cantik! Karena cantik itu kebangaan, cantik itu kebahagiaan, sekaligus cantik itu sebagai kekuatan seorang perempuan,” kata Tini Martini Arifin di buku, “My Beauty, My Future” yang memuat tentang perjalanan berbisnis kecantikan sekaligus filosofi kacantikan yang ditanamkannya menjadi sendi bisnis di Rengganis Salon.

“Namun, cantik itu bukan hanya sekadar yang tampak oleh kasat mata. Hidung mancung, bulu mata lentik, kulit putih dan mulus, atau rambut berkilau. Tapi juga yang ada di dalam (inner beauty). Bagaimana hatinya, bagaimana cara pandangnya dalam hidup, sikapnya, dan juga tutur katanya,” lanjut pendiri sekaligus pemilik 12 cabang Salon Rengganis yang tersebar di kota hujan, Bogor.

Pada 29 Mei 2018, buku itu dilaunching di Pendopo Rengganis, Bogor, Jawa Barat sekaligus dibedah oleh I Nyoman Darka dan Rochmad Widodo sebagai penulis buku itu, bersamaan dengan acara buka puasa bersama seluruh manajer Rengganis Salon. Turut hadir juga keluarga dari Tini Martini Arifin, suaminya Untung Margiono Jacoeb, ketiga putrinya Nawang Wulan Ratri Dewi, Sekar Mayang Dwitya Putri, dan Lintang Nityaswati Paratita Putri, adik-adiknya, serta temannya sewaktu SMP, Prof. Paulus.

Dalam sambutannya, Rochmad Widodo mengaku banyak belajar sekaligus mendapatkan kejutan-kejutan kisah inspiratif dari perempuan yang akrab disapa Bunda Tini itu. Terutama kisah bagaimana proses Bunda Tini menikah dengan Untung Margiono Jacoeb.

“Saya benar-benar kaget mendengarnya. Ternyata perjuangan Pak Untung cukup berat untuk bisa mendapatkan Bunda Tini. Bagaimana tidak? Jika kebanyakan orang menikah hanya mendapatkan beberapa syarat untuk bisa diterima, ini Bunda Tini memberikan syarat hingga 11 untuk bisa menjadi suaminya,” terang penulis profesional yang telah menulis buku banyak tokoh itu. Seisi ruangan pun langsung menyambutnya dengan tawa. “Dan anehnya, cinta menjadi syarat yang ke 13,” lanjutnya. Tawa pun semakin meledak. Kebekuan suasana langsung pecah. Tepuk tangan bergemuruh. Tini Martini dan Untung Margiono turut tertawa terbahak, begitu pun juga ketiga anaknya.

Setelah itu, dalam sambutannya Untung Margiono pun juga menjawab tentang kisahnya kenapa bisa menaklukkan perempuan keturunan keraton itu. “Jadi itu memang benar. Beliau mengajukan 11 syarat. Tapi belum tahu beliau ini. Saya kan punya 13 syarat. Jadi saya masih punya stok 2 syarat lagi yang bisa saya penuhi,” kelakar putra dari Bupati Temanggung itu. Seketika yang hadir pada acara pun langsung menyambutnya dengan tawa dan tepuk tangan.

Pada kesempatan itu, penulis juga menyebut, “Ternyata setelah saya selami lebih dalam tentang konsep bisnis dan pengembangan diri SDM di Rengganis Salon ini. Sekaligus tentang filosofi yang menjadi pegangan Bunda Tini dalam menjalankan bisnis kecantikan. Saya katakan, tidak berlebihan jika Bunda Tini disebut sebagai Kartini Zaman Now….! Karena beliau kepada seluruh karyawan Rengganis juga memberikan bekal bagaimana agar bisa menjadi perempuan yang berdaya. Berpendidikan, berwawasan, mampu berkarya, namun tidak menyalahi kodratnya sebagai seorang perempuan,” terangnya. “Itu jugalah yang diperjuangkan oleh Kartini. Dan Bunda Tini memperjuangkan itu juga di Rengganis ini,” tambahnya.

“Di samping itu, saya katakan juga tidak berlebihan jika kemudian Bunda Tini juga disebut sebagai Dewi Sartika Zaman Now. Di Jawa Barat, Dewi Sartika tahun 1910 mendirikan Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung yang kemudian berkembang pada tahun 1920 mempunyai satu sekolah tiap kota dan kabupaten tersebar di seluruh Jawa Barat. Di Pendopo Rengganis, atau Rengganis Training Center ini, Bunda Tini juga mengajarkan materi tentang bagaimana menjadi perempuan, menjadi seorang istri, sekaligus menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Layaknya seperti Dewi Sartika. Hanya beda waktu dan tempat saja,” jelas penulis buku Pak JK, Nur Mahmudi Is’mail, Nasir Djamil, Benny K Harman, dan sejumlah tokoh baik di legislatif maupun eksekutif itu.

Di salam buku itu dijelaskan, Tini Martini memang berbeda dalam menjalankan bisnis salonnya dari kebanyakan salon pada umumnya. Ia tidak hanya sekadar mengejar profit. Namun lebih dari itu, ia juga ingin membuat sebuah nilai. Bahkan, Meutya Hatta, putra dari Bung Hatta pun saat berkunjung ke Salon Rengganis, mengatakan langsung kepada Tini Martini, jika salonnya berbeda dengan yang lain. Karena itu juga, menurut Tini, salonnya menjadi pilihan banyak pejabat, baik istri dari para menteri, atau tokoh-tokoh yang ke Bogor. Bahkan, putri dari Presiden RI, Joko Widodo, Kahiyang Ayu pun juga ke Rengganis jika ke Bogor.

Proses penulis buku itu, ternyata diakui oleh Tini Martini sendiri saat dalam sambutan, sebenarnya penuh pertimbangan panjang. Semula tidak yakin untuk membuat sebuah buku. Namun siapa sangka, ternyata setelah buku itu jadi disambut dengan antusias oleh banyak kalangan. Bahkan I Nyoman Darka, saat membedah buku itu juga menyebut, jika banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku itu. Baik pelajaran dalam hidup, bisnis, tentang pemberdayaan perempuan, tentang kecantikan, sekaligus dalam berumah tangga.

Launching buku “My Beauty, My Feuture” disimbolisasikan dengan penyerahan Moke Up dari penulis ke Tini Martini Arifin. Sekaligus setifikat dari Pusat Profil dan Biografi Indonesia (PPBI) yang diwakili oleh Fernita Hidayat. Lalu penyerahan cendermata dari Tini Martini ke penulis dan juga perwakilan dari PPBI. (RW)