Kemenag Tidak Layani Umrah? Ini Penjelasannya
Suasana di sekitar Ka'bah Masjidil Haram yang selalu dirindukan jutaan orang untuk mengunjunginya.

MAKKAH, MENARA62.COM — Kemenag tidak layani umrah ?  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat bincang santai di Makkah, Jumat (24/8/2018) sore waktu Saudi menyampaikan, paling tidak ada dua alasan mengapa pemerintah tidak menyelenggarakan umrah.

Pertama, menurut Lukman, kewajiban pemerintah memang untuk menyelenggarakan haji sebagai ibadah wajib dan tugas nasional. “Bukan umrah yang merupakan ibadah sunah,” ujarnya seperti dilansir situs Kemenag.go.id

Jika Kemenag juga melayani umrah, menurut Lukman, boleh jadi kewajiban menyelenggarakan haji bisa terkalahkan. “Karena umrah dilakukan sepanjang tahun selain bulan haji,” ujar Lukman yang menjelaskan tentang persiapan penyelenggaraan berikut evaluasi haji juga dilakukan sepanjang tahun.

Kedua, menurut Lukman, jika Pemerintah ikut menangani umrah, bukan tidak mungkin banyak  Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) gulung tikar. Pasalnya negosiasi G to G tentu akan menghasilkan kesepakatan dengan fasilitas lebih bagus dan harga kompetitif.

“Sekarang saja Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) mulai menyadari bahwa Pemerintah bisa menyediakan fasilitas bagi jemaah reguler tidak kalah dengan haji khusus,” ujarnya.

Namun terlepas dari itu, Kemenag tidak akan berpangku tangan menyerahkan begitu saja penyelenggaraan umrah ke mekanisme pasar. “Kami menyusun regulasi dan melakukan monitoring diantaranya dengan Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (SIPATUH),” ujar Lukman.

“Kita jelas melarang uang umrah diputar untuk bisnis lain. Setelah terjadi kasus umrah, kita benahi  regulasi selambat-lambatnya 6 bulan setelah mendaftar atau maksimal 3 bulan sejak melunasi, jemaah harus diberangkatkan umrah,” ujarnya.

Selain itu, menurut Lukman, pihaknya juga membuat standar pelayanan minimal (SPM) untuk dipatuhi PIHK. “Jika melanggar ya dikenakan sanksi. Pihak katering Saudi saja jika wanprestasi kita blacklist,” ujarnya.

Sebagai festival terbesar penyelenggaraan ibadah di seluruh dunia, haji menjadi pusat perhatian banyak pihak. Terlebih bagi Indonesia yang memberangkatkan lebih dari 200 ribu jemaah. Tercatat sedikitnya 18 juta kotak katering disiapkan: 40 kali di Makkah, 18 kali di Madinah, dan 16 kali di Armina yang didapat tiap jemaah selama berada di Tanah Suci.