Bencana Hidrometeorologi Meningkat, Sudah Saatnya Indonesia Memiliki Satelit Khusus Bencana

Keterangan pers terkait kegiatan AOMSUC ke-9 yang berlangsung di Jakarta.

JAKARTA – Potensi bencana yang berkaitan dengan alam dan cuaca (hidrometeorologi) di Indonesia terus meningkat. Mulai dari kekeringan, kebakaran, gempa hingga tsunami.Karena itu Indonesia sudah saatnya memiliki satelit khusus bencana.

“Kita baru memiliki satelit komunikasi. Harusnya memang sudah memiliki satelit khusus bencana agar kita bisa memprediksi potensi bencana yang mungkin segera timbul,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati pada Asian/Oceania Meteorological Satellite User’s Conference (AOMSUC) ke-9. Senin (8/10).

Selama ini lanjut Dwikorita, Indonesia masih menggunakan satelit Himawari milik Jepang untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan cuaca. Himawari atau geostasioner Meteorologi Satelit (GMS), adalah serangkaian satelit cuaca Jepang yang dioperasikan oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA).

Menurut Dwikorita, keberadaan satelit khusus bencana bisa membantu memprediksi potensi bencana yang ada di Indonesia jauh hari sebelumnya. Dengan cara demikian maka kerugian dan dampak negatif dari bencana bisa diminimalisir.

AOUMSUC-9 yang diikuti perwakilan dari 41 negara di kawasan Asia Pasifik.

Selain menggunakan satelit Himawari, untuk memaksimalkan prediksi potensi bencana, Indonesia dijelaskan Dwi Korita memanfaatkan beberapa skenario. Yakni menggunakan data daerah terdekat, melihat gejala yang ada dan lainnya.

Hingga saat ini diakui Dwikorita, belum ada teknologi yang mampu memprediksi bencana alam terutama gempa dan tsunami secara akurat. Bahkan tsunami, teknologi prakiraan yang bisa dimanfaatkan baru bisa mempredikasi 5 menit setelah gempa. Padahal tsunami bisa datang 30 detik hingga 2 menit setelah gempa terjadi.

Untuk meng-update- teknologi prakiraan cuaca, BMKG diakui Dwikorita berkepentingan untuk bergabung dalam AOMSUC. Melalui AOMSUC, Indonesia berkesempatan untuk mengikuti sharing ilmu pengetahuan dan informasi terkait pemanfaatan dan pengembangan teknologi satelit cuaca bersama provider  dan operator cuaca, ilmuwan, akademisi, peneliti muda serta pengguna data satelit dari berbagai lembaga meteorologi dan instansi terkait dikawasan Asia Pasifik.

“Tahun ini kita menjadi tuan rumah pertemuan AOMSUC ke-9,” jelas Dwikorita.

Ketua International Conference Steering Committe Dr. James FW mengatakan AOMSUC-9 yang digelar di Jakarta 6-11 Oktober 2018 melibatkan 41 negara. AOMSUC-9 merupakan sarana penyedia dan pengguna data satelit cuaca untuk saling bertukar informasi dengan memanfaatkan dan mengembangkan teknologi satelit cuaca untuk meningkatkan kualitas layanan cuaca dan iklim sebagai langkah kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap bencana.

Kegiatan ini pun mendorong partisipasi dan kerjasama negara-negara satelit dan pengguna di kawasan Asia Pasifik serta meningkatkan kompetensi SDM di negara-negara berkembang dalam memanfaatkan dan menganalisa data satelit cuaca.

Sementara itu Andi Eka Sakya, Presiden RA V menjelaskan sebelum AOUSUC digelar telah dilaksanakan traning for trainer on RGB technique for meteorological application di Citeko Bogor. Kegiatan tersebut melibatkan 12 pengajar ahli dibidang satelit meteorologi dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea, dan Cina dengan memberikan pelatihan kepada 45 peserta dari Badan Meteorologi negara-negara di Asia Pasifik.

Adapun negara yang terlibat dalam AUMSOC-9 ini antara lain Japan, China, Australia, Bahrain, Pakistan, Bhutan, Myanmar, Mongolia, Nepal, Kiribati, Samoa Island, India, Rusia, dan lainnya.