Pembelajaran Berbasis Digital, Semua Sekolah Harus Terakses Koneksi Internet

Ananto Kusuma Seta, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud didampingi Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi saat membuka resmi pameran TIK pendidikan.

JAKARTA, MENARA62.COM — Koneksi internet semua sekolah dan lembaga pendidikan menjadi syarat mutlak dilakukannya pembelajaran berbasis digital. Dari 248 ribu sekolah yang ada di Indonesia, saat ini sebagian masih belum terkoneksi internet.

“Kita harus dorong terus pembangunan tol langit yang memudahkan semua sekolah terkoneksi internet,” kata Ananto Kusuma Seta, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud di sela seminar nasional TIK bertema Menyiapkan Generasi Emas dengan Pendidikan 4.0 yang Berkualitas yang digelar Pustekkom, Kamis (11/10/2018).

Diakui saat ini indeks kompetitif akses internet Indonesia menduduki peringkat 5 di kawasan Asia dan 45 di seluruh dunia. Dengan posisi seperti itu Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi negara yang mengalami pertumbuhan besar dengan memanfaatkan akses internet.

“Menurut survei, generasi Indonesia memiliki optimisme lebih tinggi dalam hal penggunaan ienternet untuk menciptakan lapangan kerja baru, mencapai 54 persen dibanding Singapura yang hanya 31 persen,” lanjut Ananto.

Sayangnya, hingga saat ini penggunaan internet di Indonesia masih didominasi hal-hal yang bersifat konsumtif (digital consumer) yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Kondisi seperti ini harus diubah dengan mendorong penggunaan internet di Indonesia ke arah digital produsen seperti menciptakan platform digital, game, konten dan lainnya.

Ananto mengingatkan, dalam dunia pendidikan hal yang harus disiapkan untuk menuju pembelajaran digital tidak hanya menyangkut siswa. Tetapi penguasaan guru terhadap teknologi informasi juga harus terus diperbaharui, termasuk dukungan dari kurikulum pendidikan.

Hal penting lainnya yang perlu mendapat perhatian kata Ananto adalah persoalan penyediaan perangkat digital seperti komputer, tablet dan lainnya. Menurutnya, digitalisasi dunia pendidikan tidak harus menyediakan satu siswa satu tablet. Konsep demikian pernah diterapkan di sejumlah negara dan pada akhirnya gagal. Di AS, 12 persen anak lebih suka menyendiri setelah diterapkan konsep satu anak satu tablet. Meksiko dan California juga mengalami kegagalan.

“Jangan berpatokan pada penyediaan perangkat digitalnya, tetapi mari fokus pada bagaimana membuat anak-anak kita familiar dan menguasai dengan baik setiap teknologi yang ada,” tambahnya.

Sementara itu Gogot Suharwoto, Kepala Pustekkom mengatakan, revolusi industri 4.0 telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi tanpa batas dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas, akibat dipengaruhi perkembangan internet dan teknologi internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin.

“Era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia termasuk didalamnya Iptek serta pendidikan,” katanya.

Karena itu lanjut Gogot dunia pendidikan perlu menyiapkan diri dengan pembelajaran yang lebih inovatif, persiapan SDM yang responsif, adaptif dan handaluntuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Jadi guru, siswa dan kurikulum adalah tiga hal penting yang harus disesuaikan dengan era digital agar menghasilkan generasi emas,” katanya