Seminar nasional UHAMKA #5, bertema ‘Pembelajaran Matematika Abad 21 untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0’

JAKARTA, MENARA62.COM– Kehadiran revolusi industri 4.0 tidak bisa lepas dari peran matematika. Karena itu pembelajaran matematika terutama di sekolah-sekolah harus terus dikembangkan agar siswa memiliki ketertarikan untuk belajar matematika. 

“Selama ini matematika menjadi momok menakutkan bagi siswa. Tak sedikit siswa yang tidak menyukai pelajaran matematika bahkan menganggap matematika sesuatu yang sulit,” kata Sigid Edy Purwanto, Ketua I-MES (Indonesia Mathematics Educators Society) dan Kepala Program Studi S2 Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA) di sela seminar nasional UHAMKA #5,  bertema ‘Pembelajaran Matematika Abad 21 untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0’ yang digelar atas kerjasama UHAMKA dengan I-MES, Sabtu (14/10).

Padahal matematika merupakan salah satu ilmu yang digunakan di segala bidang keilmuan. Matematika juga menjadi salah satu alat untuk menghadapi revolusi industri, termasuk era revolusi industri 4.0. Contoh nyatanya adalah penggunaan software yang dioperasikan dan dikembangkan menggunakan matematika.

Rendahnya penguasaan siswa terhadap matematika, lanjut Sigid juga membuat rangking PISA Indonesia lambat untuk meningkat.

Sigid Edy Purwanto, Ketua I-MES (Indonesia Mathematics Educators Society) dan Kepala Program Studi S2 Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA)

“Posisi Indonesia dari tahun ke tahun belum berhasil menduduki rangking memuaskan pada PISA. Ini menjadi tugas berat guru matematika,” tambah Sigid.

Program PISA atau Program for International Student Assessment adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun, dan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.

Menurut Sigid, guru sebagai sumber daya manusia (SDM) pendidikan memiliki tugas dan peran yang strategis untuk mengajarkan matematika dengan baik kepada siswa. Guru harus sadar bahwa matematika bukan sekedar ilmu hitung. Ini penting supaya guru menyiapkan materi yang diajarkan sehingga nantinya materi tersebut dapat dicerna dengan baik oleh siswanya dan siswa menjadi suka terhadap matematika.

Matematika dan aktivitas manusia jelas Sigid sejatinya tidak bisa dipisahkan. Karena itu, datangnya era revolusi industri 4.0 harus segera disikapi dengan baik oleh setiap guru matematika. Dominasi alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran matematika seperti era revolusi industri 3.0 harus segera ditinggalkan. Sebab pada era revolusi industri 4.0 mengajar matematika lebih kepada pemanfaatan software atau aplikasi yang bisa di download oleh siswa.

“Jadi langkah pertama guru adalah memahami  karakteristik revolusi industri 4.0 agar muridnya dapat berpikir secara sistematis dan siap menghadapi tantangan di revolusi industri ini,” tukas Sigid.

Untuk membuat matematika menjadi pelajaran yang menarik, menurut Sigid, metode MNR (Matematika Nalariah Realistik) yang ditemukan oleh Ridwan Saputra, tokoh matematika Indonesia bisa menjadi pilihan bagi guru dalam mengajarkan matematika. Metode ini memfokuskan pada pembelajaran matematika yang menggunakan nalar dalam memahami matematika. Sayangnya, sejauh ini metode pembelajaran MNR baru sebatas diajarkan kepada siswa yang akan mengikuti olimpiade matematika dan belum diajarkan di sekolah-sekolah.

Dosen Pendidikan Matematika UHAMKA berfoto bersama usai seminar nasional. (ist)

“Dengan metode pembelajaran MNR, banyak siswa yang dikirim ke ajang olimpiade, berhasil mengalahkan siswa dari negara lain seperti Jepang dan Singapura serta pulang ke Tanah Air membawa medali emas,” kata Sigid.

Sigid mengingatkan bahwa era revolusi industri 4.0 menghendaki pembelajaran matematika yang berbeda. Tidak lagi seperti pembelajaran tradisional, namun pembelajaran matematika yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir tinggat tinggi. Oleh karena itu, pembelajaran matematika perlu terus dikembangkan. Apabila dunia pendidikan tidak mampu menyesuaikan dengan keadaan, maka akan tertinggal jauh dengan negara lain.

Seminar Nasional Pendidikan Matematika UHAMKA tersebut kata Rizki Dwi Siswanto, Koordinator Humas UHAMKA diikuti 250 peserta terdiri atas mahasiswa, guru, pakar pendidikan matematika yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tampil sebagai pembicara antara lain Prof. Turmudi, M.Ed, M.Sc. Ph.D, Guru Besar Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia dan Dr. Ervin Azhar, S.Si, M.Pd, Dosen Program Magister Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka. (yonika permadani)