Kapal Riset BPPT Teliti Laut Sulawesi

Kapal riset BPPT Baruna Jaya I (ist/antaranews)

JAKARTA, MENARA62.COM – Kapal Riset Baruna Jaya I melanjutkan penelitian Laut Sulawesi dengan melakukan Survei Batimetri guna mengetahui topografi dasar laut pascagempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Hammam Riza seperti dilansir dari kantor berita Antara mengatakan survei ini juga merupakan rangkaian dari kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan bersama Kemenko Kemaritiman dan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IAITB).

Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT, hingga kini terus melakukan operasi Survei Bakti Teknologi untuk mengetahui kondisi terakhir dasar laut (seabed) pascagempa dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah.

Kapal Riset Baruna Jaya I juga telah mengangkut 200 ton sumbangan dari berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, BUMN dan bantuan organisasi masyarakat.

Hingga hari ke-17 pelaksanaan survei bakti teknologi ini, tim BPPT juga telah melakukan beberapa kegiatan sosial maupun survei, antara lain pengiriman dan distribusi barang maupun logistik bantuan untuk korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala dengan berlabuh di Pelabuhan Pantoloan, Palu.

Pemetaan Batimetri laut dalam, di perairan Teluk Palu-Donggala dan di sebelah utara teluk tersebut. Survei ini untuk mengetahui topografi dasar laut pascagempa dan tsunami di Donggala-Palu.

Akuisisi data “Conductivity Temperature Depth” (CTD) untuk mengetahui konduktivitas, temperatur dan tekanan di dasar laut, sesuai dengan lokasi yang sudah ditentukan.

“Untuk hari ini sedang dilakukan pengambilan data visual dasar laut melalui wahana ROV (Remotely operated vehicles) di Perairan Teluk Palu,” katanya, Kamis (18/10).

Hasil survei, diutarakan Hammam, akan disampaikan kepada instansi terkait untuk memberikan penguatan dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Sekaligus mempersiapkan upaya perbaikan mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana,” ujarnya.

Tim BPPT dalam pelaksanaan survei ini terdiri dari berbagai bidang kepakaran, yakni geologi, geodesi, kelautan maupun kebencanaan. Adapun tim ini diisi 11 pakar yang merupakan sinergi dari berbagai instansi seperti BPPT, LIPI, Universitas Hassanuddin dan Universitas Tandulako, Palu, yang dikoordinasi oleh Dr Udrekh sebagai penanggung jawab kegiatan riset ini.

Sementara jumlah total personel yang melakukan survei bakti teknologi ini sebanyak 55 orang, termasuk anak buah kapal (ABK) KR Baruna Jaya I BPPT.

Survei Batimetri Ketua Tim Operasi KR Baruna Jaya I Tris Handoyo mengatakan bahwa BPPT dalam rangkaian operasi Survei Bakti Teknologi ini, melakukan survei batimetri guna mengetahui dan mempelajari fenomena di bawah laut pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Kapal Baruna Jaya I BPPT ini pun telah dilengkapi dengan peralatan canggih, seperti perangkat “multibeam echosounder” yang merupakan alat untuk menentukan profil permukaan dasar laut dan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang luas, ujar dia.

Kapal ini pun, menurut dia, memiliki teknologi untuk mendeteksi gambaran morfologi laut Palu dan sekitarnya.

“Multibeam echosounder (MBES) yang dimiliki kapal Baruna Jaya I mampu menjangkau kedalaman sampai dengan 11.000 meter yang mana belum ada kapal-kapal riset di Indonesia yang memiliki kemampuan pemetaan dasar laut dari kedalaman dangkal 20 meter hingga kedalaman 11 ribu meter tersebut,” katanya melalui pesan singkat.

Survei ini dirinci oleh Tris Handoyo dilaksanakan dengan menempuh rute Jakarta-Perairan Sulawesi Tengah, selama 23 hari.

“Diharapkan hasil survei ini mampu memberi gambaran seutuhnya terkait fenomena apa yang terjadi saat gempa Palu, sehingga ke depan langkah mitigasi bencana dapat dilakukan dengan lebih optimal,” ujar dia.