Indonesia Harus Hati-hati Hadapi Turbulensi Ekonomi Global

Para pembicara pada seminar nasional yang digelar Universitas Moestopo. (ist)

JAKARTA, MENARA62.COM – Kebijakan perekonomian yang diambil negara-negara raksasa ekonomi seperti Amerika Serikat dan China telah memicu munculnya turbulensi ekonomi global. Kondisi tersebut harus disikapi dengan bijak oleh pemerintah Indonesia agar tidak menjadi ‘korban’ turbulensi ekonomi global.

“Ekonomi Indonesia harus memiliki ketangguhan untuk menghadapi turbulensi tersebut,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)  Prof. Sri Adiningsih pada seminar nasional  bertema “Kekuatan Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Ekonomi Global” kepada sekitar 300 mahasiswa pascasarjana di Kampus Moestopo, Bintaro, Sabtu (20/10).

Turbulensi ekonomi global itu sendiri bermula dari sikap politik kacamata kuda Amerika Serikat dengan semboyan America Firts. Sikap politik yang diambil Presiden Trump tersebut menuai sikap yang tak berbeda dari pemerintah China. Dimana Trump mengancam akan mengenakan tarif 10 persen untuk impor barang dari Cina senilai US$ 200 miliar.

Sebelumnya, pemerintah Cina mengatakan ikut menaikkan tarif impor barang dari Amerika sebagai balasan atas keputusan Trump menaikkan tarif impor dari Cina dengan nilai US$ 50 miliar. Perang dagang US – Cina, negara raksasa ekonomi dunia tersebutlah yang kemudian memicu turbulensi ekonomi global.

Menurut Adiningsih, agar tidak menjadi korban dari turbulensi ekonomi global, stabilitas dan fundamental ekonomi Indonesia harus terjaga dengan baik. Sampai saat ini Indonesia berhasil mengembangkan perekonomian sehingga pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan semakin berkurang.

Sejak 19 Januari 2015, Indonesia telah memiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang bertugas menyelenggarakan pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan untuk melaksanakan kepentingan dan ketahanan negara di bidang ekonomi. KSSK bertugas mengkoordinasi pemantauan stabilitas keuangan, menangani krisis sitem keuangan, dan menangani permasalahan bank sistemik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun krisis. Anggota KSSK adalah Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Usaha menstabilkan ekonomi tersebut lanjut Adiningsih, dilakukan dari dalam dan luar negeri secara simultan. Dari dalam negeri dilakukan pembangunan infrastruktur yang berbasis memajukan perekonomian rakyat luas, kebutuhan sembako tercukupi, menekan inflasi, fiskal sehat, hutang luar negeri terjaga, dan hutang pemerintah prudent.

Sedang dari luar negeri dilakukan melalui partnership antara lain dengan negara-negara Cina, Singapura, dan Jepang. Kontribusi keuangan Indonesia di Ching Mai Initiative Multilateralized (CMIM) sebesar 9104 Miliar USD. Kerjasama Bank Indonesia dan Otoritas Moneter Singapura dalam bentuk repo dan local currency swap senilai 10 Miliar USD. Kesepakatan Bank Indonesia dengan Bank Sentral Jepang dalam bentuk amandemen perjanjian kerjasama Bilateral Swap Agreement (BSA) dengan nilai fasilitas swap sebesar 22,76 miliar USD.

Upaya secara simultan tersebut diakui Adiningsih membuahkan hasil yang cukup baik. Diantaranya adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada posisi 5-10% di atas Turki, Thailand, Malaysia, Singapura, dan di bawah India, Vietnam, Cina, Filipina. Kedua, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tumbuh dari 585 USD (1990) ke 3847 USD (2017) di atas Filipina.

Lalu ketiga, Gross Domestic Product per Capita on Purchasing Power Parity dari di atas 1 (1990) hingga mencapai 15000 (2018) di bawah Cina. Keempat, Pengangguran dari 11,24 Juta (2005) menurun hingga 5,13 Juta (Febuari 2018). Dan kelima, kemiskinan dari 40 Juta (1970) menurun menjadi 9,82 Juta (Maret 2018).

Prof. Sri Adiningsih mengingatkan pentingnya  menghentikan sumber turbulensi itu sendiri seperti dikemukakan Presiden Jokowi dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Jokowi mengatakan hubungan antarnegara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti “Game of Thrones”.

Pidato tersebut dengan sangat keras menyindir negara-negara adikuasa tetapi disampaikan dengan gaya yang enak didengar.Disebutkan, dalam serial Game of Thrones, sejumlah Great Houses, Great Families bertarung hebat antara satu sama lain, untuk mengambil alih kendali ‘The Iron Throne’.

“Siapapun yang menang, perang adalah petaka yang selalu menimbulkan banyak korban, kesengsaraan, dan kesedihan. Mudah-mudahan pidato Presiden itu dapat menyentuh hati para pemimpin dunia,” lanjutnya.

Sementara itu Rektor Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Prof. Dr. Rudy Harjanto M.Sn berharap agar mahasiswa menyimak ceramah dari sosok pejabat negara sekaligus guru besar perguruan tinggi terkemuka yang akan menyampaikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi nasional dalam badai turbulensi global. Sehingga penjelasan itu dapat memberikan pencerahan sekaligus membawa manfaat ilmiah.

Hadir dalam seminar beberapa pejabat structural Universitas Moestopo (Beragama) antara lain Rektor, Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn., Pembina Yayasan, Prof. Dr. Thomas Suyatno, M.M., Staf Ahli Pembina Yayasan, Prof. Dr. Sunarto, M.Si., Prof. Dr. Paiman Raharjo, M.Si., Kepala Pusat Penjaminan Mutu, Prof. Dr. Binsar Silaban, M.M., Warek III, Dr. Bambang Winarso, M.Sc., Dekan FKG, Prof Dr. drg. Budiharto, SKM., Guru Besar Pascasarjana, Prof. Dr. Abdullah, M.M.