Tim dari Kemenkes yang terjun membersihkan sampah di pengungsian kota Palu. (ist)

PALU, MENARA62.COM– Gandeng Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kementerian Kesehatan lakukan pengangkutan sampah di lokasi pengungsian. Sampah- sampah yang menggunung di sekitar pengungsian bisa menjadi media penyebaran penyakit yang akan mengancam kesehatan pengungsi.

“Penyebaran penyakit yang muncul dari lingkungan bisa terjadi kapan saja, terutama pada wilayah yang terdapat penumpukan sampah di tempat pengungsian korban gempa seperti di Kota Palu. Untuk mengantisipasinya, Kementerian Kesehatan melalui Subcluster Kesehatan Lingkungan bersama sektor lain segera mengangkut sampah yang menumpuk di lokasi pengungsian,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati dalam siaran persnya, Selasa (23/10).

Kegiatan itu dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu. Sebanyak 36 mobil sampah yang digunakan untuk mengangkut sampah. Sampah yang menumpuk di pengungsian harus segera diangkut mengingat banyaknya perindukkan lalat apabila tidak segera ditangani. Dampaknya, akan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya peningkatan kasus diare.

Tindakan lainnya adalah dengan meletakkan tempat pembuangan sampah sementara dalam bentuk bak-bak penampungan sampah sebelum diangkut oleh truk untuk dibawa ke tempat pembuangan sampah akhir. Sejak Jumat (19/10) mobil sampah sudah dioperasikan ke lokasi pengungsian di Petobo dan Balaroa yang populasi lalatnya sudah cukup padat terutama di sekitar dapur umum.

Kemudian di pengungsian Kelurahan Duyu, penanganan sampah telah dilakukan dengan cara dibakar. Selain itu, telah disediakan 6 toilet dari KemenPUPR dan akan ditambah lagi 10 toilet.

Untuk mengatasi peluberan limbah toilet, lurah setempat diminta untuk menambah lubang serapan yang cukup luas. Demikian pula untuk rencana pemasangan toilet yang baru agar ditambah dengan lubang resapan yang cukup luas agar tidak terjadi peluberan dari septictank atau septictank buntu karena penuh.

Untuk pencegahan diare yang dikhawatirkan telah menyebar ke pengungsi, tim Kesehatan Lingkungan telah berkoordinasi dengan tim Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kemenkes untuk mendapatkan data kasus diare. Selanjutnya, berdasarkan data tersebut, apabila ditemukan kasus diare, langsung dilakukan intervensi berupa pengobatan dan intervensi dari segi lingkungannya.